Mohon tunggu...
Yupiter Gulo
Yupiter Gulo Mohon Tunggu... Belajar ilmu ekonomi, menekuni area manajemen. Fokus keuangan-investasi-pasar modal, HRM dan Strategic Management. Competence CRP, Finance Analis, WPPE, HRA berbasis Research. Menulis buku ajar, artikel dan jurnal. Mengajar dan belajar membuat pikiran dan hati selalu

|Belajar. Mengajar dan Menulis Mengantar Pikiran dan Hati Selalu Baru dan Muda|

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kenali 4 "Titik Buta" yang Merusak Kepemimpinan Anda

17 November 2019   22:49 Diperbarui: 18 November 2019   20:32 0 71 115 Mohon Tunggu...
Kenali 4 "Titik Buta" yang Merusak Kepemimpinan Anda
dok: inc.com

 Persepsi yang sangat keliru dari banyak orang tentang pemimpin adalah "Ketika menganggap seorang pemimpin itu yang mengetahui dan mampu melakukan segala sesuatu".

Ini keliru besar, karena sesungguhnya, seorang pemimpin itu tidak mengetahui, apalagi mampu melakukan segala sesuatu. Seakan-akan seperti seorang "malaikat", bahkan sering dianggap sebagai "tuhan".

Persepsi ini muncul sebagai sebuah konsekuensi pemikiran yang disebut "kearifan konvesional" yang membuat kita percaya bahwa para pemimpin itu, dengan pengalaman dan jam terbang yang banyak serta dianggap paling senior, maka akan memiliki tingkat kesadaran tertinggi.

Tetapi, aneh bin ajaib, dalam praktek itu tidak benar. Bahkan menunjukkan hal yang sebaliknya. Ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Travis Bradberry, seorang pakar Emotional Intelligence 2.0, yang menemukan bahwa:

"Skor EQ naik dengan gelar dari bawah tangga perusahaan ke atas menuju manajemen menengah. Manajer menengah menonjol dengan skor EQ tertinggi di tempat kerja karena perusahaan cenderung mempromosikan orang ke posisi ini yang berkepala dingin dan baik dengan orang-orang ". Namun, untuk posisi di luar manajemen menengah, hasilnya sangat berbeda. "Untuk gelar direktur dan di atas, skor turun lebih cepat daripada snowboarder pada berlian hitam. CEO, rata-rata, memiliki skor EQ terendah di tempat kerja," katanya.

Penyebab utamanya adalah karena seorang pemimpin memiliki apa yang disebut blind spots, atau titik-titik buta seorang pemimpin. Semacam wilayah dimana seorang pemimpin tidak memahami apa-apa sama sekali, dan karenanya menjadi titik kelemahan yang sangat membahayakan.

Dengan kata lain, bahwa blind spots itu merupakan area dalam kehidupan seseorang di mana ia terus-menerus gagal melihat dirinya atau situasinya secara realistis. Ketidaksadaran ini sering menyebabkan kerusakan besar pada orang dan orang-orang di sekitarnya.

Apakah Anda memiliki titik buta?
Sebagai seorang pemimpin, bila Anda menjawab tidak memiliki blind spots, maka Anda sekarang tahu di mana titik buta Anda berada! Artinya saat Anda merasa tidak memiliki blind spots, menjelaskan ketidaktahuan Anda tentang kelemahan Anda. Dan disinilah sesungguhnya masalah yang dihadapi seorang pemimpin.

Menjelaskan mengapa seorang pemimpin tidak efektif, tidak efisien bahkan menemui kegagalan dalam menjalani peran dan fungsi kepemimpinannya. Sebaliknya, pemimpin yang efektif, efisien dan berhasil adalah yang mengenali blind spots area yang dimilikinya, dan mengelola titik-titik buta yang dihadapi.

Persolan kunci yang harus disadari seorang Leader berkaitan dengan efek atau dampak dari titik buta pemimpin itu. Menurut pakar Kepemimpinan, John C Maxwell (2015), efek yang akan terjadi adalah pengaruh negatif yang sangat kuat terhadap pengikut/karyawan yang dipimpin, orang lain, lingkungan bahkan masyarakat sekitarnya. Selain berdampak pada diri sendiri sebagai pemimpin.

Tetapi apa yang terjadi ketika seorang pemimpin memiliki titik buta? Ini mempengaruhi lebih banyak orang daripada pemimpin saja. Ini dapat memiliki dampak yang luas - pada pemimpin, pengikutnya, dan seluruh tim, departemen atau organisasi.

Empat Titik Buta Pemimpin
Dalam salah satu artikelnya yang berjudul Leadership Blind Spots, John C Maxwell mendentifikasi ada 4 titik buta utama yang dihadapi dan dimiliki oleh seorang pemimpin yang sangat kuat daya rusaknya terhadap kepemimpinnya yang dijalankan, yaitu:

  1. A Narrow Perspective
  2. Insecurity
  3. Out-of-Control Ego
  4. A Lack of Character

Perspektif Sempit (A Narrow Perspective)
Larry Stephens pernah berkata, "Jika satu-satunya alat yang Anda miliki adalah palu, Anda cenderung melihat setiap masalah sebagai paku". Ini sangat berbahaya karena sesungguhnya seorang leader itu pada dasarnya berpikir strategis dan berorientasi pada tindakan. Mereka melihat masalah dan bergerak cepat untuk menyelesaikannya.

https://aljabaidad13.wordpress.com/2015/05/23/kau-fikir-mejadi-pemimpin-itu-mudah/
https://aljabaidad13.wordpress.com/2015/05/23/kau-fikir-mejadi-pemimpin-itu-mudah/
Sayangnya, ini dapat menghasilkan fokus yang sempit - bahkan penglihatan terowongan bagai kaca mata kuda liar. Penting bagi para pemimpin untuk mengambil langkah mundur dalam menghadapi masalah baru, sehingga mereka mencari dan menemukan solusi yang paling sesuai dengan situasi, bukan hanya dari sudut pandang mereka sendiri.

Ketidakamanan (Insecurity)
Ketidakamanan pada dasarnya menyebabkan para pemimpin hanya memikirkan diri mereka sendiri. Akibatnya menjadi sangat merusak, karena seorang pemimpin yang benar bukan fokus dan memikirkan diri sendiri, tetapi inti leadership adalah tentang orang lain, followers dan mereka yang dipimpin.

Bila Anda seorang pemimpin, sadarilah dengan sungguh-sungguh bahwa, ini adalah titik buta yang sulit untuk dikenali dalam diri Anda, dan bahkan lebih sulit untuk diatasi. Dan anehnya, akan terus menjadi lingkaran setan tiada berujung karena seorang pemimpin selalu merasa benar dan membenarkan diri sendiri kendati itu keliru.

Ada banyak indikator atau gejala ketidakamanan ini bagi seorang pemimpin. Apabila Anda memiliki salah satu dari gejala berikut, Anda mungkin menjadi pemimpin yang tidak aman, dan karenanya kenalilah dengan baik. Dan Anda mungkin perlu mendapatkan bantuan dari mentor atau konselor objektif untuk mengatasi rasa tidak aman Anda.

Inilah sejumlah indikator atau gejala yang menjelaskan tentang ketidakamanan kepemimpinan meliputi:

  • Kesulitan memberikan kredit kepada orang lain.
  • Informasi yang menumpuk
  • Membatasi hubungan pengikut kepada pemimpin lain.
  • Merasa terancam oleh pertumbuhan orang lain.
  • Gaya mikro manajer.

Dan hal mendasar inilah yang sangat sering dilakukan secara keliru oleh banyak pemimpin, yaitu "Anda tidak dapat memimpin orang jika Anda membutuhkan orang. Atau jika Anda perlu mengendalikannya" Hendak menjelaskan bahwa kepentingan pribadi diri sendiri seorang pemimpin pada orang lain, apalagi pada pengikutnya menjadi blind spots yang sangat merusak.

Ego Di Luar Kontrol (Out-of-Control Ego)
Bila dicermati dengan sungguh-sungguh, maka dapat disimpulkan bahwa sebenarnya "harga diri adalah musuh terbesar diri sendiri seorang pemimpin." John Ruskin pernah berkata bahwa "Kebanggaan ada di dasar semua kesalahan besar." Karena ini menyangkut kecenderungan yang sangat kuat untuk melahirkan seorang pemimpin yang sombong!

http://www.blind-spot-leadership.com/arrogance-versus-confidence/
http://www.blind-spot-leadership.com/arrogance-versus-confidence/
Seperti rasa tidak aman, kesombongan membuat pemimpin hanya fokus pada dirinya sendiri, bukan yang dipimpinnya, bahkan mengabaikan dan tidak menganggap berharga orang yang dipimpin dan orang lain. Matanya menjadi buta untuk menjaga dan meningkatkan harga diri menuju puncak arogansi.

Dan itu adalah merupakan kebalikan dari sikap kerendahan hati yang seharusnya dimiliki, dikembangkan dan dipelihara oleh seorang pemimpin yang berhasil. Seorang pemimpin yang sombong cenderung menyalahkan orang lain, hidup dalam penyangkalan, dan berpikiran tertutup dan kaku. Dan lebih berbahaya lagi karena ini menghasilkan moral yang rendah di antara pengikut.

Tidak ada jalan lain, selain seorang pemimpin menyadarinya dan mengatasinya dengan cepat dan tuntas. Tetapi, bagaimana Anda mengatasi kesombongan?

Salah satu cara yang jitu untuk mengatasi kesombongan seorang pemimpin adalah dengan rasa terima kasih. Pemimpin yang berterima kasih, menjelaskan sikap kerendahan hatinya. Mengakui dukungan orang lain atas keberhasilannya dan karenanya berterima kasih.

Ini mengarah pada kerendahan hati dan kemampuan untuk memberi pujian dan menerima kesalahan yang diperlukan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x