Mohon tunggu...
Yuniandono Achmad
Yuniandono Achmad Mohon Tunggu... Dreams and Hope

Cita-cita dan harapan, itu yang membuat hidup sampai saat ini

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Banjir Lagi, Bencana dan Pemaknaan Kebangsaan Kita

16 Januari 2020   05:45 Diperbarui: 16 Januari 2020   22:24 249 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Banjir Lagi, Bencana dan Pemaknaan Kebangsaan Kita
 Surabaya banjir, daerah jalan Mayjen Sungkono. Sumber Gambar surabaya.kompas.com

AWAL tahun 2020 kawasan Jabodetabek dan Bandung diguyur air hujan sampai tenggelam di beberapa tempat. Kemudian baru kemarin, sejumlah jalan protokol di kawasan barat Surabaya, Jawa Timur, terendam banjir, Rabu Kliwon (15/1/2020 bertepatan dengan 19 Jumadil Awal) setelah hujan deras turun pada sore hingga malam hari.

Pantauan Kompas.com, sejumlah jalan protokol yang terendam banjir berada di Jalan Mayjen Sungkono Jalan Adityawarman, Jalan Hayamwuruk, dan Jalan Indragiri.

Situasi tersebut hampir mirip tahun 2014 lalu, di awal tahun juga, Indonesia diguncang bencana banjir yang melanda Manado, Jakarta, dan beberapa kota di Jawa Tengah, serta Jawa Timur. Secara nasional, dibandingkan akhir 2013-awal 2014, situasi sekarang lebih mending.

Sewaktu tahun 2013-2014 dulu, ada juga bencana gunung berapi yang melanda kabupaten Karo (Sumatera Utara) sejak bulan-bulan terakhir 2013. Belum ditambah letusan Gunung Kelud (Kediri, Jawa Timur) yang abunya sampai ke Bandung (Jawa Barat).

Jadi teringat dulu, mantan Presiden RI, almarhum Prof. Baharuddin Jusuf Habibie pernah membedakan bencana ini menjadi 2 (dua), yaitu bencana alam dan bencana sosial.

Bencana alam yakni misalnya gempa, banjir, meletusnya gunung berapi, dan tanah longsor. Sedangkan bencana sosial ialah contohnya kemiskinan, pengangguran, dan konflik dalam masyarakat. Di tulisan ini akan dibahas khusus mengenai bencana alam.

Problematika bencana yang saat ini dialami merupakan ujian berbangsa dan bernegara. Dikarenakan pertama, bencana (khususnya gunung berapi dan gempa) merupakan konsekuensi dari keberadaan kita di ring of fire sehingga menjadi keniscayaan untuk selalu terjadi bencana --dalam bentangan wilayah dari Sabang sampai Merauke- pada setiap tahun atau bahkan bulan.

Kedua, mencoba menguji kepedulian kita sebagai warga negara atas empatinya kepada sesama, dan ketiga ujian untuk pelaksanaan reformasi birokrasi kita terutama dalam koordinasi dan pelayanan kepada masyarakat.

Apabila disimpulkan dalam skup yang lebih umum, maka bencana merupakan ujian untuk kembali menghadirkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan peri kehidupan berbangsa serta bernegara. Terutama dalam aspek ketuhanan, kemanusiaan, kebersatuan, permusyawaratan, dan keadilan sosial, sesuai dengan sila-sila dalam dasar negara kita tersebut.

Pertama, dalam aspek ketuhanan, disadari bahwa segala musibah ataupun nikmat merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam hal ini saya mengutip tulisan Nasarudin Umar (mantan Wamen Kemenag, sekarang imam besar masjid Istiqlal).

Jika mengutip dari harian Jurnal Nasional (24/01/2014) bahwa bencana atau bala' dapat dibedakan antara balaun khasanah dan balaun sayyiah. Balaun khasanah berarti ujian/ kebencanaan yang baik seperti bertambahnya rejeki, kenaikan jabatan (promosi), dan prestasi.

Untuk level negara contoh balaun khasanah ini seperti bertambahnya investasi, meningkatnya pendapatan nasional, atau banyaknya prestasi manusia Indonesia diakui di dunia internasional.

Dalam perspektif keagamaan, "insentif" kenikmatan dari Tuhan adalah bagian dari bencana atau ujian yang perlu disikapi. Sehingga kenikmatan yang dikaruniai oleh-Nya juga merupakan ujian.

Maksudnya apakah dalam suasana kenikmatan tersebut kita masih sempat bersyukur dan memikirkan mereka yang sedang mengalami ketidakberuntungan.

Balaun sayyiah berarti ujian/ kebencanaan yang buruk, seperti jatuh miskin, raibnya benda yang berharga, kehilangan pekerjaan, dan mendapat fitnah. Untuk level negara contoh balaun sayyiah ini seperti datangnya bencana secara bertubi-tubi, adanya ketidakpercayaan publik dan dunia luar, jatuhnya nilai mata uang, bertambahnya pengangguran, dan sebagainya.

Kita perlu menyiasati kedua bentuk ujian ini. Jika balaun sayyiah mendera, maka hadapi dengan kesabaran. Sedang bila kita dalam kondisi balaun khasanah maka terima dengan kesyukuran. Keduanya harus tetap dengan ikhtiar.

Sabar dan syukur bagaikan dua kepal sayap kehidupan yang perlu diseimbangkan, bagi siapa saja, tidak terkecuali bagi para pemimpin saat ini.

Kedua adalah aspek kemanusiaan. Bencana yang melanda nusantara ini merupakan ujian kepedulian kita sebagai sesama manusia. Tanpa memperdulikan suku, atau agamanya, mereka yang sedang terkena bencana akan ditolong.

Indonesia dalam beberapa kesempatan juga memberikan bantuan kepada negara lain, misalnya Filipina (bencana topan haiyan bulan November 2013), bahkan Presiden SBY dulu pernah meninjau bekas tsunami di Jepang di sela-sela kunjungan kenegaraannya.

Indonesia juga sangat dibantu dan bekerjasama dengan bangsa lain seperti waktu membersihkan sisa bencana tsunami di Aceh sepuluh tahun yang lalu. Keberadaan LSM dan organisasi sosial diuji di sini, apakah mereka hanya mengutamakan bergerak di dunia politik ataukah mampu juga melakukan kegiatan kemanusiaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x