Mohon tunggu...
Yunia Anindya
Yunia Anindya Mohon Tunggu... mahasiswa

saya mahasiswa semester akhir

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kebahagian Berasal dari Mana Saja

1 Januari 2021   00:22 Diperbarui: 1 Januari 2021   00:23 60 0 0 Mohon Tunggu...

Bahagia merupakan perasaan senang atas apa yang diinginkan oleh setiap individu telah tercapai sesuai dengan tujuan utama. Tingkat kebahagiaan seseorang berbeda -- beda. Ketika saya menduduki bangku SD, saya merasa bahagia ketika saya berhasil lolos ke SMP favorit di kota saya. Namun lama kelamaan, saya merasa biasa saja. Bukan karena saya tidak bersyukur. Saya tentu bersyukur. Tetapi saya sadar, lambat laun, koneksi pertemanan dan kreativitas adalah 2 hal utama yang menurut saya untuk bisa bertahan di jaman sekarang.

Bagi orang lain, bahagia adalah memiliki uang yang banyak. Kata mereka, "Punya banyak duit tuh bikin bahagia loh!". Pada dasarnya saya setuju akan pernyataan tersebut, apalagi jika didapatkan dari hasil keringat sendiri. Tetapi, bahagia menurut saya adalah memiliki mama yang selalu berada di sisi saya sekalipun dalam titik terendah saya. Ya, saya memang tidak memiliki orang tua yang lengkap dan berpisah dengan papa saya sejak saya kecil. Hal itu menyadarkan saya bahwa, bahagianya mama bukan dengan papa. Melainkan, dengan memiliki saya pun, mama saya sudah merasa paling bahagia di bumi ini.

Bagi saya, kebahagiaan itu bisa didapatkan dimana saja. Asalkan dari kitanya, selalu bersyukur atas apa yang kita miliki. Segala hal yang membuat saya bahagia hanya saya yang bisa mengendalikannya, bukan orang lain. Persepsi ini sering kali disalahgunakan orang -- orang. Terutama mereka yang berpacaran, yang katanya mereka bahagia yang dimana mereka secara tidak sadar dikontrol oleh lawan jenisnya.

Bahagia menurut definisi saya adalah ketika saya bisa melakukan hal -- hal atau kegiatan yang saya cintai dari dalam hati, yang saya mau benar -- benar tekuni untuk investasi jangka panjang (Pssst, ilmu itu investasi jangka panjang loh! Jadi, jangan malas buat selalu belajar hal baru yaa), yang pasti yang bisa meningkatkan hormon dopamine saya hingga saya bisa tertawa lepas tanpa memikirkan beban lain. Tetapi ketika saya mengalami masalah yang cukup berat, tentunya saya harus mencari kebahagiaan itu sendiri. Saya tekankan lagi, kadar kebahagiaan manusia bukan berdasarkan ada atau tidaknya orang lain. Jadi kalian para pembaca, jangan sedih kalau diputusin sama pacarnya. Toh ya aslinya kalian bahagia sebelum kenal doi, jadi kalian juga harus bahagia dong setelah lepas dari doi.

Menginjak jenjang kuliah, tentunya saya berpisah dengan mama saya. Tetapi jarak tidak menghalangi kami untuk tetap berkomunikasi satu sama lain. Di dunia perkuliahan, saya memahami bahwa tidak semua orang seberuntung saya. Sedikit demi sedikit saya merasa harus berbagi terhadap sesama. Mulai dari memberi makanan kepada teman kamar kos saya, hingga menyantuni orang -- orang yang sekiranya kurang dalam segi materi maupun finansial. Mungkin menurut saya jumlah yang saya beri tidak ada apa -- apanya karena saya bisa mendapatkannya dengan mudah, tetapi ketika melihat senyuman mereka, para orang -- orang kelaparan, sopir -- sopir yang dikejar deadline para clientnya, ataupun mereka yang berjualan hanya untuk sesuap nasi, bukan mencari keuntungan, sangatlah berarti.

Saya pun juga belajar tentang bisnis. Mulai dari mencari partner, hingga mempercayakan suatu kurir yang akan mengirim barang saya nantinya agar sampai ke customer saya dengan selamat. Setelah riset kesana kemari dan bertanya kepada teman -- teman saya, selama 2 tahun bisnis saya beroperasi, saya selalu mempercayakannya kepada Jalur Nugraha Ekakurir atau yang biasa kita kenal dengan singkatan JNE. Dan Alhamdulillahnya selama menggunakan jasa mereka, saya tidak pernah merasa khawatir sedikit pun tentang paket yang saya kirim. Dan kebetulan banget nih JNE lagi ada Writing Competition dengan Tema "3 Dekade Bahagia Bersama". Mari ikutan dan raih hadiahnya!.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x