Mohon tunggu...
Veronica Yuliani
Veronica Yuliani Mohon Tunggu... Guru bahasa yang jatuh cinta dengan cello, panflute, dan violin.

Bercerita tentang hal-hal sederhana yang orang lain belum sempat tuliskan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Skenario Film Masuk Kurikulum, Sebuah Usulan

15 Januari 2020   09:55 Diperbarui: 17 Januari 2020   08:18 71 2 1 Mohon Tunggu...

Film adalah media komunikasi yang menarik bagi segala usia, apalagi bagi anak muda. Anak muda mana yang tidak tahu drama korea yang 'booming' beberapa tahun terakhir ini. 

Drama korea banyak diminati salah satunya karena ceritanya menarik, alur ceritanya jelas dan tidak terlalu panjang seperti kebanyakan sinetron Indonesia. Drama korea biasanya rata-rata terdiri dari 16 episode. 

Tetapi siapa sangka, jika honor penulis skenario drama korea bisa mencapai 1,18 miliar per episodenya (sumber:tribunnews.com).  

Di Indonesia, menurut informasi salah satu prodoction house honor penulis skenario untuk film relatif lebih tinggi daripada series televisi maupun FTV. Webseries juga lebih tinggi daripada series televisi. Nilai honor skenario film sangat bergantung dari siapa penulisnya. Rangenya bisa dari 25 juta rupiah sampai dengan 300 juta rupiah. Wow. Saya berpikir ada masa depan yang cerah bagi para penulis skenario.

Di dalam pelajaran bahasa Indonesia ada materi drama. Tentu juga ada materi menulis naskah drama. Namun, jika dibandingkan dengan film, anak-anak muda zaman sekarang tentu akan lebih senang melihat film dibandingkan drama pementasan atau bahkan teater sekalipun. 

Film dekat dengan dunia orang muda. Maksud saya adalah banyak orang yang tidak tahu seperti apa dan bagaimana menulis skenario film. Skenario film dengan naskah drama pementasan tentu memiliki perbedaan. Jika penulisan skenario masuk dalam kurikulum, khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentu ini akan menarik. 

Materi ini akan memberi gambaran kepada para siswa yang ingin studi lebih lanjut mengenai perfilman. Setidaknya dari sisi penulisan skenarionya. Selain itu, jika penulisan skenario masuk kurikulum tentu ini akan memacu semangat kaum muda untuk berkarya. 

Jika banyak orang muda berkarya, bukankah perfilman di Indonesia juga akan semakin berkembang maju? Ini hanya sebuah pemikiran. Bagaimana tanggapan Anda?    

VIDEO PILIHAN