Mohon tunggu...
Humaniora

Anak Kita Bersama

11 Juni 2017   13:48 Diperbarui: 11 Juni 2017   13:53 177
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, karena kodratnya saling membutuhkan satu sama lain. Komunikasi dan hubungan yang terjadi setiap hari  membentuk pola interaksi/sosial yang menjadi sendi-sendi kehidupan. Selain berinteraksi dengan masyarakat tempat tinggal, manusia juga membutuhkan pasangan yang selalu ada di sampingnya dalam keadaan susuah maupun senang yang siap berbagi dalam keadaan apapun. Untuk bisa memiliki pasangan yang selalu siap berbagi dalam keadaan apapun harus melalui proses sakral yakni pernikahan. 

Pernikahan adalah suatu ikatan suci yang menyatukan laki-laki dan perempuan menjadi pasangan suami istri. Dari pasangan suami istri akan membentuk keluarga kecil yang memiliki keturunan-keturunan (anak) yang menjadi kebanggaan keluarga. Keturunan inilah yang akan menjadi penerus yang di harapkan bisa lebih baik dari orang tuanya dan bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. 

Pertanyaannya bagaimana agar si anak ini bisa menjadi pribadi yang di harapan oleh keluarga maupun masyarakat luas? Jawabannya adalah bimbingan dan pendidikan yang baik. Pendidikan pertama bagi anak adalah keluarga, dimana keluargalah tempat pertama kali anak mengalami interaksi. Sebelum anak berinteraksi dengan masyarakat luas, anak harus memiliki bekal yang cukup dari lingkungan keluarga. Bekal yang dimaksud adalah mempersiapkan si anak agar siap dengan lingkungan luar yang berbeda dengan lingkungan keluarga. 

Anak yang terlahir dari keluarga harmonis cenderung akan menjadi pribadi yang periang, hangat, lemah lembut, dan lues berinteraksi di lingkungan masyarakat karena dalam lingkungan keluarga ia dididik dengan penuh kelembutan, kasih sayang dan cinta. Sedangkan anak yang lahir dari keluarga broken home cenderung akan menjadi pribadi yang dingin, pemarah, berpandangan negatif terhadap sesuatu dan lebih tertutup. Kondisi keluarg yang kurang harmonis membuat si anak menjadi terpukul dan cenderung menutupi diri. Kurangnya pengawasan juga membuat anak rentan terhadap kejahatan, entah dia sebagai pelaku ataupun korban. 

Bagi beberapa orang mungkin hal ini tidak begitu penting, namun sadarkah kita di luar sana banyak sekali hal-hal buruk yang menginti si anak. Pesatnya kemajuan tehnoloi menjadi salah satu penyebab rentannya anak terjerumus kedalam lubang hitam. Penggunan internet yang tidak terkontrol membuat anak bebas mengakses apaun yang ia inginkan dari hal positif sampai negatif yang tidak seharusnya dilihat. Kurangnya kontrol dari orang tua membuat si anak melakukan apapun yang ia inginkan. Sebagai contoh ketika orang tua bercerai dan anaknya di titipkan kepada nenek ataupun kakeknya membuat kontrol terhadap anak kurang. Pasalnya bagaimana seorang nenek ataupun kakek bisa mengontrol cucunya dengan baik sedangkan ia sendiri tidak mampu untuk melakukan banyak aktivitas. Anak jadi keluyuran kesana kemari dan tidak tahu apa yang dilakukan dan dialami si anak di luar sana. 

Ini seharusnya sudah menjadi kepedulian kita bersama, karena anak adalah generasi penerus yang akan membangun bangsa dan negara kedepan. Jika generasi penerus tidak di jaga dan di didik dengan baik bagaimana negara ini bisa menjadi lebih baik di kemudian hari. Marilah sma-sama kita jaga anak-anak penerus kita walaupun ia bukan anak kandung ataupun anak dari keluarga kita. Karena anak adalah anak kita bersama, ketika ia berada di rumah maka ia adalah anak ibu dan bapaknya dan ketika anak keluar dari rumah maka anak tersebut adalah anak kita bersama yang harus kita jaga dan harus kita linungi bersama-sama.    


Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun