Mohon tunggu...
Yuliana Sartiningsih
Yuliana Sartiningsih Mohon Tunggu... mahasiswa

hidup

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Napas Buatan untuk Industri Perhotelan

2 Januari 2021   09:22 Diperbarui: 8 Januari 2021   15:19 203 8 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Napas Buatan untuk Industri Perhotelan
fliggy.com


Wabah virus Covid-19 memberi dampak buruk bagi perekonomian. Virus ini memberikan dampak yang terburuk jika dibandingkan dengan gonjang-ganjing perekonomian yang telah terjadi sebelumnya. Krisis keuangan Asia dan global serta wabah SARS bahkan masih bisa dikatakan tidak terlalu buruk bagi berbagai sektor jika dibandingkan dengan wabah virus Covid-19 ini, karena virus ini tidak hanya menjangkit beberapa negara saja, akan tetapi hampir di seluruh negara yang ada di dunia. 

Sehingga hal tersebut berakibat pada lumpuhnya berbagai aspek yang ada di dunia, terutama pariwisata. Sektor pariwisata adalah sektor yang jelas sangat terpengaruh oleh kondisi ini, karena pariwisata tentunya memerlukan interaksi antara satu individu dengan individu yang lain secara langsung. Salah satu bidang yang sangat terpengearuh oleh pandemi ini adalah bidang perhotelan.

Semenjak pandemi Covid-19 melanda, fungsi utama hotel mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena adanya pembatasan seseorang untuk berwisata, menginap, serta melakukan kegiatan apapun diluar rumah. Banyak pemilik hotel yang mengalami kerugian, hal ini bukan hanya dirasakan oleh pemilik hotel namun juga dirasakan oleh karyawan yang bekerja didalamnya. Pekerjaan yang dikerjakan mengalami penurunan, penghasilan pun juga mengalami penurunan. Mau tidak mau, para pelaku usaha perhotelan harus memutar otak bagaimana caranya agar bisnisnya bisa terus bertahan di tengah pandemi. 

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono. Kepada Kompas.com, Jumat (25/9/2020) malam, Deddy menceritakan bagaimana kesulitan para pelaku usaha hotel di wilayahnya selama masa pagebluk ini. "Saat ini kita dalam keadaan tersengal-sengal, jadi kita butuh oksigen (intevensi pemerintah) agar kita bisa bertahan," kata Deddy. 

Intervensi yang dimaksud misalnya keringanan dalam sejumlah biaya-biaya yang menjadi beban operasional hotel selama ini, di mana pemerintah bisa turut andil di sana. Misalnya pajak, listrik, dan sebagainya. "Seperti beban operasional kita yaitu pajak-pajak (PBB, hotel, resto) yang diringankan atau dihapuskan, serta iuran BPJS Ketenagakerjaan, listrik, dan gas." papar Deddy. 

Bergantung penanganan pandemi Ketua Umum PHRI, Haryadi Sukamdani berharap pemerintah dapat melakukan intervensi dengan cara mengurangi beban para pengusaha hotel di masa yang sulit ini. Misalnya dengan memberi keringanan pembayaran pajak, dan sebagainya. "Ini kan ada beban yang besar yang tidak mungkin bisa ditanggung dalam kondisi tidak normal, beban ini yang harusnya bisa dikurangi. 

Mulai dari biaya infrastruktur, pajak daerah, itu harusnya pada situasi seperti ini harus dilonggarkan, kalau enggak akan susah."tambahnya. Ia menyinggung adanya diskon yang diberikan pemerintah untuk pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), namun itu masih tetap memberatkan. Hal-hal ini nantinya akan memberi peluang lebih besar untuk mempertahankan industri perhotelan sampai pandemi ini berakhir.

Saat pandemi berakhir nantinya, prospek hotel yang awalnya sedikit terhambat saat pandemi akan mulai berangsur-angsur pulih seperti dahulu kala. Sebab didukung juga dengan kegiatan berwisata yang mulai mengalami kenaikan yang signifikan kembali. Sehingga hotel-hotel yang terkena dampak pandemi akan dapat berfungsi normal kembali. Hal ini dapat membangkitkan perekonomian dan juga sitem pelayanan disetiap hotel-hotel yang ada. 

Akan tetapi perlu diketahui, wisatawan akan cenderung memilih brand yang diyakini memberi jaminan pencegahan yang diperlukan. Untuk mempersiapkan hal tersebut, perusahaan-perusahaan akomodasi diwajibkan untuk mengambil pendekatan lintas disiplin sehingga hotel tersebut akan memiliki posisi yang baik untuk membangun kepercayaan publik dan menawarkan penawaran produk dan layanan yang menarik. 

Krisis akibat Covid-19 ini akan mengubah wajah dari hospitality. Hotel-hotel akan menjalankan pengawasan yang lebih ketat untuk standar kebersihan dan kesehatan bagi para pelanggannya. Industri perhotelan harus berjuang keras dalam mencari cara untuk survive dan merancang rencana untuk bangkit dari keterpurukan yang ditimbulkan oleh wabah ini segera setelah pembatasan perjalanan berakhir. 

Kedepannya, aspek kesehatan dan kebersihan akan menjadi poin utama dalam menjalankan bisnis perhotelan. Pelanggan juga pasti akan menuntut lebih banyak fasilitas dalam melindungi diri mereka, untuk itu para pelaku industri perhotelan  kedepannya diharuskan untuk memperketat kebersihan, kesehatan dan keselamatan dari para pelanggan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN