Mohon tunggu...
Rusj
Rusj Mohon Tunggu... Ingin bermanfaat.

Warga negara biasa yang mencoba tuk berbuat lebih baik untuk negri.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kebangkitan Nasional ke-II

21 Juni 2016   01:12 Diperbarui: 21 Juni 2016   01:22 0 1 0 Mohon Tunggu...

Kita sudah melalui masa-masa yang berwarna sebagai bangsa. Masa-masa penjajahan dan kebodohan. Masa dimana kita sangat mudah diadu domba. Masa dimana kita begitu mudah dijajah dan dikalahkan. Oleh kekuatan jahat serakah sang penjajah.

Masa itu telah kita lalui. Dimulai dengan kebangkitan Nasional. Saat kesadaran tumbuh. Saat kedewasaan dan persatuan kita menjadi senjata untuk melawan. Akhirnya, persatuan kita pun menang. Penjajah pun harus hengkang karena tak ada lagi tempat baginya dibumi pertiwi.

Saat kemerdekaan dicapai, mulailah kita membangun negeri, menentukan nasib sendiri. Namun sayang, rupanya ini pun tidak berjalan serasi. Kita, masih bercerai berai. Kita masih harus berjuang, melawan diri sendiri. Kini musuh itu bukan lagi penjajah bangsa luar, tetapi penjajah dari ketidakjujuran bangsa sendiri.

1945 — 2016, 70 tahun lebih kita merdeka. Kita masih melakukan perjuangan yang sama. Melawan penjajah yang jauh lebih sulit, karena bersarang dalam diri. Ketidakjujuran, egoisme, keserakahan.

Sepertinya kita membutuhkan Kebangkitan Nasional yang Kedua. Yaitu, kesadaran berbangsa akan kejujuran dan kebersamaan. Bahwa, kejujuran harus menang dinegeri ini, kebersamaan harus jadi ruh disetiap sudut negeri. Cinta dan kasih sayang harus menjadi cemeti.

Jangan mau lagi kita dijajah, ditipu, oleh ketidakjujuran dan keserakahan. Jangan mau lagi, dikalahkan oleh egoisme.

Bangkitlah !

Kita sebagai bangsa harus menang, tuk kedua kali.

Dan temukan, diri kita yang baru. Indonesia baru. Yang penuh cinta dan harga diri.