Mohon tunggu...
yugo pangestu
yugo pangestu Mohon Tunggu... agribisnis

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Menyelamatkan Petani Indonesia

22 Juni 2021   12:15 Diperbarui: 22 Juni 2021   12:24 57 0 0 Mohon Tunggu...

Menyelamatkan Petani Indonesia

Dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik didapatkan data petani miskin di Indonesia adalah 13,1%.Dari keseluruhan produk hasil pertania di indonenesia khususnya petani miskin 49 % mengantungkan hidup disektor hasil pertanian sungguh ironis untuk akalnagan masyarakat mennegah keatas,sungguh ironis ang katanya negara yang kaya yang sering di sematkan di mata dunia yak itu negara agraris. Petani Indonesia memang selalu menempati posisi yang rawan dalam hal kesejahteraan. Mayoritas petani Indonesia merupakan petani guram, yakni petani yang hanya mengusahakan lahan kurang dari setengah hektar.Dari hasil survei pertanian pada 2018 didapatkan data jumlah petani guram meningkat sebanyak 10,95% dari 14.248.864 jiwa pada 2013 menjadi 15.809.398 jiwa pada 2018.

Petani sayuran  rentan terhadap berbagai risiko di antaranya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan jika hanya menggantungkan hidup pada lahan yang terbatas, tidak memiliki kecukupan modal untuk meningkatkan produktivitas sementara harga pupuk dan upah tenaga kerja terus melambung tinggi, dan menghadapi risiko gagal panen saat iklim buruk Tuntutan untuk segera memenuhi kebutuhan rumah tangga membuat banyak di antara mereka yang memilih beralih pekerjaan. Alternatif lain yang akhirnya mereka pilih adalah menjual lahan untuk kegunaan lain seperti untuk industri, jalan tol, dan properti.dan lain tidak bukan pengalihan lahan untuk di alih fungsikan untuk kedai kedai kopi atau pun kios kisa yang menghilangkan fungsi lahan menjadikan kawasan layak huni,

Langkah ini memberikan pendapatan jangka pendek yang jauh lebih tinggi dibandingkan penghasilan dari kegiatan bertani. Menurut kelompok umur, persentase petani yang berumur 65 tahun ke atas atau tergolong lanjut usia cukup besar, yakni 14%.Bagi petani yang berusia relatif muda melihat banyak peluang untuk beralih pekerjaan ke sektor lain yang lebih menjanjikan. Petani lanjut usia berkemungkinan tetap bertahan di sektor pertanian, namun entah sampai berapa lama mereka mampu melanjutkan usaha pertanian mengingat  buruh pertanian juga semakin langka.

Seperti yang kita ketahui Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sangat tinggi di sektor pertanian.Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam, keanekaragaman hayati dan ekosistem pertanian, lahan pertanian yang luas, tenaga kerja melimpah, inovasi dan teknologi, dan potensi pasar yang cukup besar baik di dalam negeri maupun internasional.Tidak lupa juga peran pemerintah untuk mengapresiasi para pekerja lahan atau petani untuk meningkatkan kualitas pemasaran hasil pertanian dan berusaha mengelola dengan tujuan meningkatkan produksi pangan mampu meninhkatkan kesejahteraan petani.Produksi pangan di Indonesia saat ini tergolong masih bagus walaupun saat ini masij mengandalkan hasil impor pangan ke luar negeri bagaimapun impor juga masih di perlukan untuk mengendalikan harga barang di pasar internasional atau domestik,yang perlu dinperhatikan adalah jangan sampai impor tersebut mematahkan semangat petani apalagi menyakiti petani kita.Pemerintah harus memastikan produksi pertanian khususnya dari petani kecil dapat terserap dengan harga yang cukup tinggi sehingga petani jangan sampai merugi. Sebagai contoh, kontroversi mengenai impor jagung pada saat mulai panen raya pada Januari lalu. Pemerintah kemudian memerintahkan Perum Bulog memaksimalkan penyerapan produksi jagung dari petani dengan harga layak. Pada 2019 ini, alokasi anggaran di bidang pertanian menurun dibandingkan dengan 2018 lalu, dari Rp23,84 triliun menjadi Rp21,6 triliun.

Kementerian Pertanian menyatakan tetap memprioritaskan anggaran untuk program pemenuhan pangan nasional. Hal tersebut dapat dilihat dari alokasi anggaran terbesar di Direktorat Tanaman Pangan sebesar 28% dari total anggaran.Diikuti dengan anggaran untuk Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian sebesar 23% dari total anggaran. Dana sebesar itu sampai saat ini masih terfokus pada pengingkatan produksi pertanian dan masih mengesampingkan masalah kesejahteraan petani.Seharusnya pemerintah meningkatkan apresiasi terhadap petani karena merekalah yang berperan penting terhadap keberhasilan pembangunan pertanian. Menurut  pandangan saya ada beberapa langkah baik yang dilakukan pemerintah maupun yang masih perlu dirumuskan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Dokpri
Dokpri
Pertama, modernisasi pertanian. Program hibah alat mesin pertanian (alsintan) menurut penilaian kelompok tani cukup membantu memangkas ongkos produksi hingga 30%. Langkah ini juga mengatasi masalah kelangkaan buruh tani.Kedua, program asuransi pertanian sebagai antisipasi risiko kegagalan pertanian akibat bencana alam atau serangan hama. Ketiga, diversifikasi pertanian agar pendapatan petani meningkat.Petani perlu dibina dan didukung untuk menanam tanaman yang memiliki profit lebih tinggi. Keempat, membatasi laju konversi lahan, misalnya dengan penguatan penetapan lahan sawah abadi.Kelima, ekstensifikasi lahan di luar Jawa. Sampai saat ini lahan pertanian tanaman pangan masih berpusat di Jawa padahal lahan kian minim dan terus-menerus tergerus oleh industrialisasi dan perkembangan pemukiman.Keenam, mendukung wacana dan hasil penelitian, misalnya penelitian pengelolaan Lahan Kering Mendukung Pengadaan Pangan Nasional.Penelitian ini mengulas pengelolaan lahan kering menjadi lahan pertanian tanaman pangan yang selama ini sebagian besar masih bergantung pada lahan sawah.Keberhasilan pengelolaan lahan kering menjadi lahan pertanian tanaman pangan akan menjadi solusi dari permasalahan keterbatasan lahan pertanian.Ketujuh, menjaga hubungan baik antara petani, pemerintah, dan swasta. Dengan sinergi yang baik antara publik dan swasta, masalah penyerapan dan pendistribusian hasil pertanian dapat terselesaikan.

VIDEO PILIHAN