Mohon tunggu...
Yudi Kurniawan
Yudi Kurniawan Mohon Tunggu... Psikolog Klinis, Dosen

Psikolog Klinis | Dosen Fakultas Psikologi Universitas Semarang | Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah Jateng | HIMPSI Wilayah Jateng | Contact at kurniawan.yudika@gmail.com | Berkicau di @yudikurniawan27 |

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Civil War: (Bukan) Tentang Stark Versus Rogers (Spoiler Alert!)

28 April 2016   18:21 Diperbarui: 28 April 2016   20:19 252 0 0 Mohon Tunggu...

 

www.slashfilm.com 

Pertempuran selalu memiliki dua wajah. Menang dan kalah. Kejayaan dan kepahitan. Kepahlawanan dan kejahatan. Para Avenger pun menghadapi situasi serupa. Sejak pertempuran melawan Loki dan pasukan Chitauri di New York (The Avengers, 2012), sedikitnya ada tiga wilayah di dunia yang porak poranda karena aksi mereka: Washington DC (Capt America: Winter Soldier, 2014), Sokovia (Age of Ultron, 2015), dan Lagos (pertempuran yang membuka film ini, Civil War 2016). Warga dunia mulai skeptis terhadap Avengers. Benarkah mereka pahlawan? Atau Avengers justru sumber kekacauan dan konflik? Avengers pun saling berbeda pendapat, terutama Tony Stark (Iron Man) dan Steve Rogers (Captain America).

Sekali lagi, duet sutradara Anthony Russo dan Joe Russo berhasil menyuguhkan alur cerita yang rapi dan konflik yang menarik. Meski intrik politik tidak menonjol seperti Captain America:Winter Soldier,duo Russo sukses membangun konflik berdasarkan pengalaman pribadi satu karakter terhadap karakter lainnya.

Konflik utama dipicu oleh keinginan PBB untuk mengesahkan Perjanjian Sokovia. Perjanjian ini akan mengikat Avengers untuk bekerja di bawah instruksi dan pengawasan PBB, demi keamanan dunia. Begitu mendengar penjelasan Sekretaris Negara (Thaddeus Ross, pernah muncul di Incredible Hulk), sikap Avengers langsung terbelah. Rogers dan Sam Wilson (Falcon) langsung menolak. Sementara Stark dan Rhodey (War Machine) berada di pihak pro. Lalu bagaimana dengan keputusan Avengerslainnya? Masih abu-abu, dan itulah yang justru membuat film ini menarik. Alih-alih membawa perdamaian, Perjanjian Sokovia malah memancing aksi pertempuran berikutnya. Rangkaian peristiwa itu menjadi motif yang cukup kuat bagi satu karakter untuk memusuhi dan atau bekerjasama dengan karakter lainnya.

Pada akhirnya, Captain America, Iron Man, Black Widow, War Machine, Vision, Scarlet Witch, Hawkeye (akhirnya dia tidak jadi pensiun), Spiderman (Welcome to the club, Spidey!), Black Panther, dan Winter Soldier saling bertempur. Harus diakui ini adalah film Captain America rasa Avengers. Aksi laga di paruh pertama film melibatkan seluruh Avengers.Baru ketika memasuki paruh kedua, fokus cerita beralih pada konflik antara Captain America, Iron Man, dan Winter Soldier. Pada satu titik, Stark sadar bahwa dia telah keliru melihat kebenaran. Ironisnya, dia terjebak pada kebenaran lain yang lebih menyakitkan, hingga dia tak tahu lagi harus berpihak pada siapa. Penasaran konfliknya seperti apa? Silakan Anda saksikan sendiri ya, hehe.

Persiapan Menuju Infinity War

Civil Wardigadang-gadang sebagai arena pertarungan antara Steve Rogers dan Tony Stark. Tak hanya konflik fisik, tapi juga prinsip. Makanya ramai muncul tagar #TeamCap dan#TeamIronMan di dunia maya. Rogers dan Stark sebenarnya punya tujuan yang sama. Hanya saja, mereka melihat kebenaran dengan cara dan pendekatan yang berbeda.

Stark, dengan segala pengalaman dan trauma pribadinya, melihat bahwa harus ada yang mengawasi penggunaan kekuatan mereka. Dengan aksesnya ke pemerintahan, Stark yakin bahwa dia mampu memegang kendali perjanjian tersebut. Sejak peristiwa New York pada The Avengers (2012), Stark digambarkan mengalami trauma dan terobsesi pada keamanan teknologi perangnya. Itulah mengapa Stark membuat Iron Legacy di Iron Man 3 dan akhirnya malah menciptakan Ultron. Sementara Rogers hanya menaruh kepercayaan terhadap individu, bukan sistem. Mungkin karena dia masih kecewa dengan S.H.I.E.L.D. Dia direkrut oleh S.H.I.E.L.D sebagai Avengers, namun S.H.I.E.L.D juga yang menjadikannya buronan (lihat cerita di Winter Soldier).

Di balik semua perbedaan tersebut, Rogers memiliki hubungan yang panjang dengan keluarga Stark. Sejak zaman Perang Dunia II, dia berkawan baik dengan Howard Stark yang merupakan ayah Tony (Hubungan baik mereka bisa dilihat di Captain America First Avenger). Itulah sebabnya, setelah konflik yang melelahkan dengan Stark Junior alias Tony, Rogers mengirimkan sebuah “pesan perdamaian”. Selepas bertarung dengan kekuatan fisik di atas manusia normal, “pesan” Rogers kepada Stark terasa sangat manusiawi. Tentunya pesan itu akan membawa cerita mereka pada pertarungan berikutnya: Infinity War.Entah mereka masih sebagai lakon utama, atau mereka akan menjadi mentor bagi Avengers generasi berikutnya. Wanna See Those Heroes? J

Rating pribadi: 8/10. Skenarionya oke banget, perpindahan antar konflik cukup rapi, efek visual jangan ditanya deh, sayangnya tidak ada kejutan yang “wah”, hehe.

@yudikurniawan27 

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x