Mohon tunggu...
Yudi Kurniadi
Yudi Kurniadi Mohon Tunggu... Kontributor Galuh.id

Menulis sajalah. Tidak usah terlalu mikir soal bagus apa enggak, yang penting menyenangkan buat kita dan semoga bermanfaat buat yang membaca. Amin.. Here We Go!

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Atalanta dan Gian Piero Gasperini Menjadi Kisah Menakjubkan dari Buah Kesabaran

5 Juni 2020   08:08 Diperbarui: 5 Juni 2020   07:59 76 16 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Atalanta dan Gian Piero Gasperini Menjadi Kisah Menakjubkan dari Buah Kesabaran
Pelatih Atalanta BC, Gian Piero Gasperini. (Foto: Getty Images)

Pelatih Atalanta BC, Gian Piero Gasperini bukanlah nama baru dalam belantika kepelatihan sepak bola di Italia. Ia tercatat pernah melatih klub Genoa, Palermo sampai Inter Milan.


Gasperini yang saya kenal kini sudah berubah semenjak direkrut Inter Milan pada musim panas 2011, ia menjadi pelatih baru bagi tim favorit saya kala itu untuk menggantikan pelatih asal Brasil, Leonardo. Hal itu terjadi pada tanggal 24 Juni 2011.

Tapi, sepak terjang Gasperini menakhodai Inter tidaklah berjalan mulus, padahal saya sempat optimis dia akan membuat Inter kembali meraih kesuksesan pasca memori indah bersama Mourinho di musim 2009-2010. Gasperini dipecat oleh pihak klub karena tidak memberikan kemenangan timnya di lima pertandingan, itu terjadi pada tanggal 21 September 2011.

Entah kenapa racikan Gasperini di Inter berbanding terbalik ketika ia pertama kalinya dikenal publik Italia kala menukangi Genoa FC musim 2006-2007, waktu itu dia dikenal sebagai pelatih yang ambisius hingga tim asuhannya bermain di Serie A sebagai tim promosi.

Ditangannya, Genoa menduduki peringkat kelima di kancah liga tertinggi Italia pada musim pertamanya di Serie A 2007-2008. Hal itu merupakan rekor tertinggi Genoa selama 19 tahun, ditambah klub berjulukan I Grifone itu mengamankan tempat untuk tampil di Liga Eropa UEFA. Kala itu, di skuatnya memiliki pemain-pemain seperti Diego Millito dan Thiago Motta.

Selepas momen pahitnya bersama Inter yang hanya mampu bertahan tiga bulan, Gasperini kemudian menangani Palermo. Di klub asal pulau Sicilia itu berakhir dengan pemecatan, Gasperini malah membawanya ke jurang degradasi pada musim 2012-2013.

Selepas dipecat Palermo dan sempat beberapa bulan menggangur kemudian dia kembali ke Genoa pada 2013 Selama kurang lebih tiga musim di Genoa, Gasperini mampu mengembalikan nama besarnya, meski tak pernah membawa Genoa mengakhiri musim Serie A di posisi empat besar.

Prestasi terbaik di klub itu terjadi pada musim 2014-2015, ia membawa Genoa mengakhiri musim dengan finis di posisi ke-6. Selebihnya, ia membawa Genoa mengakhiri musim dengan tercecer di peringkat ke-10 (2015-2016) bahkan peringkat ke-14 (2013-2014).

Berbekal pengalaman-pengalaman itulah, ia kemudian menerima pinangan dari Atalanta. Gasperini kemudian dipercaya sebagai pelatih utama Atalanta pada 14 Juni 2016. Bersama Gasperini, Atalanta menjelma sebagai kekuatan baru yang ditakuti di Liga Italia.

Kendati pada musim pertamanya bersama klub berjulukan La Dea itu tidak berjalan mulus. Dari empat laga awal di musim 2016-2017, Atalanta secara beruntun menderita kekalahan. Sontak berhembus kencang bahwa dirinya akan dipecat.

Akan tetapi, Gasperini bersyukur mempunyai bos klub seperti Antonio Percassi yang penuh kesabaran dan tanpa keraguan, kepada para pemain ia mengatakan masih mempercayai Gasperini yang menurutnya adalah seorang pelatih terbaik dan dia tak tersentuh.

Benar saja, ucapan Percassi itu manjur. Dengan penuh kesabaran, Atalanta akhirnya memperoleh kemenangan pertama mereka pada musim 2016-2017 saat bertandang ke markas Crotone di Stadion Adriatico pada pekan ke-5. Setelah hasil melawan Crotone itu, Atalanta mencatatkan delapan kemenangan dan satu hasil imbang pada sembilan laga selanjutnya.

Performa Atalanta pun terus menanjak, meskipun juga diselingi oleh kekalahan. Hasilnya, mereka mampu mengakhiri musim 2016-2017 dengan finis di posisi ke-4.

Musim selanjutnya, yakni 2017-2018 tidak terlalu mulus bagi Gasperini dan Atalanta. Meskipun begitu, mereka masih bisa finis di posisi ke-7 pada akhir musim. Kemudian beranjak ke musim 2018-2019 yang mungkin menjadi musim terbaik dan terindah bagi klub asal Bergamo itu.

Mereka dapat mengakhiri musim dengan finis di posisi ke-3 dan otomatis lolos ke Liga Champions 2019-2020. Untuk diketahui bahwa keberhasilan lolos ke kompetisi elit itu sebagai sejarah untuk kali pertama sejak klub berdiri pada 1907.

Pada musim ini sebelum kompetisi dihentikan akibat wabah virus Corona, pertunjukkan Gasperini bersama Atalanta kembali berlanjut. Kini, mereka berada di peringkat ke-3 dibawah Lazio dan Juventus yang memimpin klasemen.

Lantas apa rahasia Gasperini menjadi nakhoda Atalanta selain kesabaran? Baru-baru ini ia mengungkapkan rahasianya saat di wawancara oleh media ternama The Guardian, ternyata Gasperini suka menyiksa seluruh pemainnya di setiap sesi latihan.

Menurutnya, anak asuhnya memang harus berjuang dengan sangat keras di setiap sesi latihan. Karena hal ini merupakan cara yang ideal untuk menjadi juara. Bekerja keras di setiap sesi latihan merupakan satu-satunya cara agar Atalanta bisa meraih kesuksesan. Hal ini ia lakukan karena menyadari bahwa timnya tak akan mendapat investasi besar dari para investor.

Berkat kerja keras dan prestasi yang dicetak oleh Gasperini, maka tak salah sejumlah media di Eropa tak hentinya mengulas kepiawaian pelatih berusia 62 tahun ini. Bahkan, dikutip dari laman Goal.com, Gian Piero Gasperini, dijuluki sebagai "The Renaissance Man of Italian Football", selain itu ia pun memiliki julukan Alex Ferguson dari Bergamo.

Kita semua tahu Ferguson adalah manajer legendaris yang membuat Manchester United begitu dominan di persepakbolaan dunia dan prestasinya belum bisa disamai manajer United sampai sekarang.

Jika Serie A kembali berlanjut, masihkah Atalanta semakin moncer dan Gasperini layak disebut Ferguson dari Bergamo? ***

VIDEO PILIHAN