Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto karyawan swasta

Ketua Yayasan Berkala Widya Husada-www.akperberkala.ac.id

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Dramaturgi dan Propaganda dalam Tahun Politik

12 Juni 2018   13:02 Diperbarui: 12 Juni 2018   13:09 529 0 0
Dramaturgi dan Propaganda dalam Tahun Politik
(sumber: posbali.id)

Tampilan itu tidak bisa diabaikan. Kini kita sebut citra, bukan sekedar penampilan yang tampak dimuka saja, tapi sekaligus aksesoris kesan dalam pesan yang hendak dimunculkan secara bersamaan dengan keberadaan tampilan tersebut.

Bertutur, berlaku dan berpakaian pun menjadi sebuah aspek yang perlu dikelola, agar dapat membentuk citra secara sempurna sesuai dengan harapan.

Kadang berjins, berkaos, bersarung dan berpeci bahkan berjas formal adalah bagian dari kesan yang tengah dikonstruksikan melalui cara berbusana.

Pada beberapa tahun terakhir, kita semakin mengenal konsep pencitraan, yang lekat dengan kepentingan para pengalap kekuasaan.

Citra atau kesan, ibarat bertindak layaknya sebuah peran alias lakon dari seorang aktor. Dimana nantinya sang aktor akan berlaku dipentas pada panggung drama sandiwara.

Dalam bentuk tersebut diakhir tersebut, korelasi konsep dramaturgi Goffman menjadi relevan. Bahwa kehidupan adalah panggung sekaligus latar dari sebuah skenario drama.

Kita, alias diri sendiri (the self) adalah aktor yang berhadapan dengan peran dalam interaksi atas audiens (masyarat), baik pada panggung depan maupun panggung belakang dibalik layar.

Bermain peran adalah kemampuan bertukar wajah dan watak sesuai kondisi situasional yang diharapkan penonton, target sebuah drama adalah efek menghibur dan memuaskan khalayak.

Dengan demikian, para aktor dalam pentas teaterikal, termasuk ditahun politik, akan memiliki kemampuan beradaptasi layaknya mimikri ala bunglon. Benarkah? Silahkan dievaluasi.

Propaganda dan Kamuflase

Berbagai alat peraga kampanye, menjadi sarana sosialisasi. Dalam ilmu komunikasi disebut sebagai alat persuasi, sedangkan dalam kerangka kepentingan kekuasaan dan merubah prinsip pikiran hingga tindakan dikenal sebagai propaganda dan agitasi.

Untuk hal terakhir, audiens diharuskan memiliki kemampuan kritis dari sekedar menjadi objek paparan propaganda. Akan terdapat perang kata antar para kandidat, termasuk klaim dan mengasosiasikan dirinya akan sesuatu hal yang menjadi fokus perhatian publik.

Pada teknik propaganda, kita mengenal banyak bentuk turunan praktis. Mulai dari memberi julukan (name calling) semisal penyambung lidah rakyat, transfer dalam makna membawa dukungan mudah saja lihat spanduk yang memberikan ilustrasi gambar tokoh partai masa lalu selain foto kandidat kontestan, hingga mengasosiasikan diri sebagai rakyat biasa (plain folks) agar terlihat merakyat.

Tidak berhenti disitu, dampak hasil dari propaganda adalah terbentuknya bandwagon effect, agar publik bertindak menjadi pengikut dengan dasar penerimaan tanpa syarat, sebagai efek ikut-ikutan atas persetujuan yang telah lebih dahulu diterima oleh kelompok mayoritas.

Kalau demikian, maka kita juga dapat memahai bila propaganda kerap menghilangkan satu sisi yang menjadi kelemahan, memberikan penekanan pada kemampuan diterima masyarakat, bahkan dengan melakukan kamuflase yang menyamarkan diri untuk tujuan dan kepentingan tertentu.

Jadi, ditahun mendatang pada tahun politik, Anda perlu jelas melihat konsistensi karakter dan kepribadian individu sang calon. Karena pertaruhan nasib kita, dimulai ketika terjadi salah memilih pada proses pilihan politik.

Pastikan Anda teliti dan cermat, bukan sekedar melihat tampilan dan suguhan aktraksi simbolik yang bisa jadi tidaklah menunjukkan wajah sebenarnya, bahkan nampak jauh dari keaslian dalam pribadi keseharian seorang kandidat.