Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto karyawan swasta

Ketua Yayasan Berkala Widya Husada-www.akperberkala.ac.id

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Memandang Aspek Kultivasi dalam Komunikasi

14 Maret 2018   09:01 Diperbarui: 14 Maret 2018   09:50 219 2 0
Memandang Aspek Kultivasi dalam Komunikasi
sumber: priorityofpreaching.com

Manusia ibarat lahan persemaian. Dalam ilmu komunikasi, terdapat teori kultivasi yang menempatkan manusia sebagai objek paparan komunikasi layaknya sebuah ladang garapan. Meski tidak memposisikan manusia sebagai objek bebas, yang memiliki cara pandang dan kehendak, teori kultivasi penting untuk dapat dipahami.

Dalam pemaknaan teori kultivasi, maka informasi dalam komunikasi massa yang direproduksi secara berulang, merupakan proses dari kegiatan menanam. Pesan dan simbol dalam komunikasi, khususnya komunikasi massa, kemudian mendapatkan wadah tanam yang sesuai pada objek sasaran yakni publik audiens.

Hal ini penting dipahami, khususnya di periode tahun politik ini. Sesungguhnya, menurut teori kultivasi, dampak yang diharapkan dari proses komunikasi, hanya dapat dituai setelah runutan menanam dan menyemai hingga matang. Dengan begitu, ada durasi waktu paparan dan repetisi atas perulangan pesan yang tidak sebentar. Terutama, bila ingin mendapatkan hasil permanen jangka panjang.

Konsistensi komunikasi, sesuai teori kultivasi akan melahirkan kesepahaman dalam wilayah long term memory. Jangan terlalu banyak berharap pada komunikasi temporal, terkecuali Anda telah populer sebelumnya.

Teori kultivasi dalam komunikasi lebih dalam menghadirkan analisa audiens, dibandingkan dengan teori peluru yang menempatkan audiens secara statis, dan menjadi objek sasaran tembak komunikasi massa.

Melalui kultivasi, maka hambatan psikologi akan terkikis. Persepsi audiens akan terbentuk seiring dengan paparan informasi yang konsisten, hingga mampu mewujud dalam bentuk motivasi -aspek tindakan. Perubahan pemahaman audiens, dari ketidaktahuan menjadi kesepahaman dan bertindak, adalah hasil panen dari proses menanam didalam komunikasi.

Melalui komunikasi dengan sudut pandang kultivasi, maka mekanisme penyebaran nilai serta pesan akan berlangsung secara perlahan, terutama mengatasi potensi penolakan ditahap awal.

Karena model komunikasi dilakukan meluas, baik secara langsung melalui interaksi tatap muka, ataupun menggunakan media massa, maka fase permulaan dimulai dengan melakukan dekonstruksi perjudice -prasangka.

Asumsi awalnya, audiens telah memiliki cara pandang sendiri serta berbeda, dari pesan yang akan disampaikan oleh komunikator.

Untuk itu, prosesnya tidaklah sebentar, ujian dari model komunikasi massa yang menekankan aspek kultivasi adalah durasi waktu dan repetisi yang menguatkan.

Jadi, dengan memahami hal ini, para pelaku dan partai politik di tahun kontestasi politik kali ini, perlu membangun eksosistem komunikasi jangka panjang. Bukan sekedar hit and run, karena simpati publik ada dalam komitmen nan konsisten, pada satu arah kesepahaman yang sama.

Mari kita lihat bersama!