Mohon tunggu...
Yan Provinta Laksana
Yan Provinta Laksana Mohon Tunggu...

titik kesetimbangan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Antara Sarjana (Teori) dengan Sarjana (Terapan)

14 Juni 2011   11:19 Diperbarui: 26 Juni 2015   04:31 1583 0 0 Mohon Tunggu...

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari tahun 2011 menyebutkan bahwa pengangguran di Indonesia mencapai 8.12 juta orang atau yang biasa disebut sebagai penganggur terbuka. Data yang sama dengan rentang waktu yang berbeda yaitu Agustus tahun 2010 menyebutkan pengangguran terbuka mencapai 8.32 juta orang atau 7.14% dari angkatan kerja dengan rincian 11.92% adalah pengangguran lulusan sarjana dan 12.78% pengangguran lulusan diploma. Dari data tersebut menunjukkan bahwa ada sekitar 967904 orang dengan predikat sarjana yang menjadi pengangguran terbuka atau benar-benar tidak bekerja.

Data dari BPS tersebut meskipun masih dipertanyakan kevalidannya namun sudah memberikan gambaran yang jelas bahwa masalah pengangguran terutama di kalangan intelektual atau akademisi menjadi salah satu masalah di Indonesia. Pengangguran pada dasarnya bukan hanya terjadi di Indonesia saja bahkan di negara industri sekalipun seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, dll. Di saat krisis finansial yang melanda beberapa negara Uni Eropa serta krisis kredit perumahan di Amerika Serikat (subprime mortgage) fundamental ekonomi di negara-negara maju sudah mulai goyah yang berujung pada naiknya jumlah pengangguran terbuka walaupun dampaknya masih belum signifkan. Di Indonesia pengangguran di kalangan intelektual terutama yang lulusan sarjana terjadi karena banyak faktor antara lain masih kurangnya lapangan kerja yang sesuai dengan bidang ilmu, kondisi ekonomi riil yang masih belum stabil, pola pikir sebagian lulusan sarjana terhadap wirausaha yang masih kurang. Pengangguran di kalangan sarjana pada dasarnya lebih membahayakan tetapi juga lebih mudah diatasi, lebih membahayakan karena ilmu yang didapat di bangku kuliah akhirnya tidak termanfaatkan atau teraplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari sehingga seolah-olah menempuh pendidikan tinggi adalah sia-sia dan di sisi lain lebih mudah diatasi karena dengan modal pendidikan yang telah ditempuh hingga sarjana bisa dimanfaatkan untuk membuka usaha. Hanya saja harus diakui sistem pendidikan tinggi di Indonesia masih belum banyak merubah pola pikir pelajar atau siswa tentang wirausaha dan kreativitas.

Sistem inilah yang diduga menjadi akar penyebab mengapa sarjana di Indonesia lebih disebut sebagai sarjana teori ketimbang sarjana terapan. Berkaca pada pengalaman penulis yang menempuh pendidikan tinggi di salah satu institut teknologi di Indonesia, mata kuliah yang diberikan sebanyak 144 SKS hampir 90% adalah mata kuliah yang bersifat teori. Sehingga kualitas lulusan yang dihasilkan memang akan lebih banyak berkutat pada teori-teori di buku atau diktat mata kuliah padahal kondisi di lapangan kerja tidak bisa 100% mengandalkan teori. Rumus-rumus yang dipelajari selama masa kuliah adakalanya tidak berlaku di dalam kehidupan nyata. Bahkan terdapat deviasi yang cukup besar antara aplikasi dengan pelajaran yang ada di bangku kuliah. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Missing Link atau hilangnya garis hubungan antara dunia industri atau kerja dengan akademisi adalah salah satu penyebabnya. Sistem pengajaran pendidikan tinggi di Indonesia lebih menitik beratkan pada pentingnya mencetak sarjana untuk kepentingan akademik seperti riset dan pendidikan namun tidak diimbangi dengan pola pendidikan yang seimbang dengan kebutuhan dunia kerja. Tidak ada salahnya menciptakan sarjana untuk kepentingan peneliti atau dosen/pengajar namun juga tidak boleh dikesampingkan bahwa tidak semua sarjana harus menjadi akademisi/peneliti ada sarjana yang terjun di dunia aplikasi atau terapan. Oleh karena itu sistem pendidikan tinggi di Indonesia sebaiknya mulai menerapkan jalur pilihan jenjang karir kepada mahasiswa semenjak memasuki bangku kuliah. Bagi mahasiswa yang memilih jenjang karir di bidang akademik atau riset maka mata kuliah yang diberikan lebih banyak bersifat teori atau pembuktian teori berbasis eksperimen (60% teori: 40% eksperimen) sebaliknya yang memilih jalur industri/aplikasi diberikan porsi yang lebih besar terhadap teori yang berkembang dan digunakan di dunia kerja plus waktu yang lebih banyak untuk magang atau uji coba di dunia kerja. Dengan demikian seseorang sebelum masuk ke dunia kerja dia sudah mengetahui bagaimana sistem dan pola dunia kerja.

Selain itu satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah pendidikan kewirausahaan, dalam hal ini beberapa institusi pendidikan tinggi di Indonesia sudah mulai memberikan pendidikan tentang wirausaha atau enterpreneurship sebagai mata kuliah pilihan. Selain diberikan secara teori maka mahasiswa diharapkan bisa memulai praktek wirausaha semenjak duduk di bangku kuliah seperti membuat sendiri produk yang diminati. Selain modal hambatan lain di bidang wirausaha Indonesia adalah infrastruktur dan birokrasi. Disinilah yang seharusnya menjadi tantangan bagi mahasiswa kreatif untuk menembus kekurangan-kekurangan perkembangan wirausaha di Indonesia. Karena di Indonesia yang kaya akan SDA bahan baku apapun bisa diolah menjadi produk jadi selama pasar membutuhkan. Sebagai contoh, pecahan tempurung kelapa yang selama ini menjadi sampah bisa digunakan sebagai kerajinan tangan berupa hiasan bahkan lukisan tempel yang memiliki corak. Di bidang industri tempurung kelapa ini menjadi bahan baku produksi uap untuk industri penggorengan atau pengolahan oleochemical (produk turunan minyak kelapa sawit).

Pengangguran di kalangan sarjana bisa diminimalisasi selama pola pikir para lulusan sarjana di Indonesia tidak hanya terpaku pada teori bangku kuliah melainkan terbuka untuk setiap kesempatan. Tidak ada yang lebih terhormat jika bekerja dengan tangan dan usaha sendiri daripada meminta-minta atau mencuri dari hasil orang lain.

Tinggalkanlah gengsi hidup berawal dari mimpi (mengutip lirik lagu Bondan Prakoso).

Link data : Sarjana Pengangguran
Pengangguran Terbuka

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x