Mohon tunggu...
Yose Revela
Yose Revela Mohon Tunggu... Penulis lepas amatir & Karyawan Swasta

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Memaklumi Kepulangan Firza dan Ezra

11 September 2019   17:23 Diperbarui: 11 September 2019   17:34 0 1 0 Mohon Tunggu...
Memaklumi Kepulangan Firza dan Ezra
Tribunnews.com

Pada bursa transfer paruh musim Liga 1 2019, banyak klub peserta kompetisi yang membongkar pasang komposisi pemain. Ada yang mengganti pemain asing, ada juga yang mendatangkan pemain lokal baru. Misalnya, Amido Balde yang kini berseragam PSM Makassar setelah dicoret dari Persebaya Surabaya, ada juga Dhika Bayangkara, yang berganti seragam, dari PSS Sleman ke Persib Bandung.

Tapi, diantara sekian banyak aktivitas transfer yang terjadi, kedatangan Firza Andika dan Ezra Walian ke PSM Makassar menjadi satu sorotan tersendiri. Maklum, mereka sebelumnya bermain di luar negeri. Firza bermain di AFC Tubize (Belgia), sementara Ezra terakhir berseragam RKC Waalwijk, klub promosi Eredivise Belanda musim ini.

Tentunya, ada pertanyaan, mengapa keduanya pulang ke Indonesia, dalam usia masih muda?

Secara normatif, jawabannya adalah, kontrak mereka di klub masing-masing tak diperpanjang. Jadi, mereka bebas pindah ke klub manapun, termasuk PSM Makassar.

Tapi, jika dilihat secara teknis, baik Firza maupun Ezra dilepas karena sama-sama dianggap surplus oleh klub masing-masing. Posisi mereka makin tak menguntungkan, karena mereka sama-sama berstatus pemain berpaspor non-Uni Eropa.

Seperti diketahui, liga-liga di Benua Biru biasa menerapka kuotan batasan jumlah pemain berpaspor non-Uni Eropa. Biasanya, kuota ini digunakan klub, untuk pemain yang dinilai punya kualitas di atas rata-rata.

Hal ini sebanding dengan gaji mereka yang diatas rata-rata pemain lokal. Dengan harapan, mereka bisa memberi nilai tambah buat tim. Sayangnya, baik Ezra maupun Firza sama-sama "harus pulang" ke Tanah Air, karena sebab berbeda.

Pada kasus Ezra (21), pemain jebolan akademi Ajax Amsterdam ini akhirnya harus pulang ke Tanah Air, karena kesulitan mencari klub baru di luar negeri, khususnya di Belanda dan Eropa. Karena, meski lahir di Belanda, Ezra kini sudah menjadi WNI, dan negara kita tak mengizinkan seorang warga negara punya dua atau lebih kewarganegaraan.

Ezra Walian (kiri), (Tribunnews.com)
Ezra Walian (kiri), (Tribunnews.com)
Otomatis, Ezra kini berstatus sebagai pemain non-Uni Eropa. Masalahnya, karena kemampuannya dinilai "setara" dengan pemain lokal Belanda pada umumnya, ia tak punya banyak pilihan. Apalagi, menit bermainnya relatif terbatas. Pastinya, klub pasti ingin menggunakan kuota pemain non-Uni Eropa semaksimal mungkin, termasuk dalam hal kualitas dan menit bermain.

Sementara itu, pada kasus Firza (19), eks pemain Timnas U-19 ini dinilai punya potensi berkembang di Belgia. Tak heran, AFC Tubize mengikatnya dengan kontrak hingga tahun 2021.

Firza Andika (Indosport.com)
Firza Andika (Indosport.com)
Sayangnya, ada permasalahan antara klub dengan sponsor yang membantu pembiayaan transfer dan gaji Firza. Apa boleh buat, Firza pun dilepas.

Keputusan melepas semakin punya alasan kuat, setelah klub masa kecil Eden Hazard (Real Madrid) ini terdegradasi ke divisi amatir Liga Belgia akhir musim lalu. Jelas, daripada mempertahankan pemain muda asing, dengan gaji di atas rata-rata pemain muda lokal, membina pemain muda lokal dengan gaji lebih murah adalah opsi logis. Bagaimanapun, terdegradasi adalah satu kerugian besar.

Meski terlihat seperti satu kemunduran, "kepulangan" Ezra dan Firza ke Indonesia bisa dimaklumi. Dengan usia mereka saat ini, penting buat mereka untuk memperoleh klub yang siap memberi jaminan menit bermain sebanyak mungkin, karena hanya itulah jalan terbaik mereka untuk bisa meningkatkan kemampuan.

Selain itu, banyak-sedikitnya menit bermain juga akan menentukan, apakah mereka bisa ikut bergabung di Timnas Indonesia (untuk ajang SEA Games 2019) atau tidak. Jadi, wajar jika mereka memilih pulang ke Tanah Air. Dengan harapan, mereka bisa bermain reguler dan tak luput dari perhatian tim pelatih Timnas.

Meski sama-sama berakhir getir, kiprah Firza dan Ezra menunjukkan, ada hal-hal teknis dan nonteknis yang harus diperhatikan dengan seksama, jika pemain muda Indonesia ingin awet dan sukses berkiprah di Eropa. Dengan status pemain non-Uni Eropa, si pemain harus punya kualitas di atas rata-rata pemain lokal setempat, dan bebas dari masalah eksternal, termasuk dengan pihak sponsor.

Di sinilah pentingnya pembinaan pemain muda (seharusnya) mulai diperhatikan dan digarap serius. Supaya, pemain kita punya standar kualitas yang jelas, dan siap bermain di luar negeri. Tanpanya, kasus "pulang cepat" seperti yang dialami Firza dan Ezra akan terus terulang di masa depan.

Bisa?

KONTEN MENARIK LAINNYA
x