Mohon tunggu...
Yose Revela
Yose Revela Mohon Tunggu... Penulis lepas amatir & Karyawan Swasta

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Kembalinya "Formasi Trisula" El Barca

13 Juli 2019   12:05 Diperbarui: 15 Juli 2019   00:08 0 2 3 Mohon Tunggu...
Kembalinya "Formasi Trisula" El Barca
Fcbarcelona.com

Kembali ke trisula, inilah konsep taktik Barcelona musim depan, yang boleh jadi membuat manajemen El Barca bergerak merekrut Antoine Griezmann (28) dari Atletico Madrid, Jumat, (12/7) lalu. Penyerang gesit asal Prancis ini didatangkan dengan ongkos transfer 120 juta euro, dan diikat kontrak berdurasi lima tahun.

Ini adalah transfer mayor kedua Blaugrana di bursa transfer musim panas. Sebelumnya, Barca baru saja meresmikan transfer Frenkie de Jong (Belanda) dari Ajax Amsterdam seharga 75 juta euro.

Jika melihat situasinya, transfer Griezmann ini terlihat seperti "rencana B" dari manajemen Barca, karena mereka awalnya lebih memprioritaskan untuk memulangkan Neymar ke Nou Camp. Sayang, PSG enggan melepas pemain flamboyan asal Brasil ini.

Alhasil, Griezmann-lah yang dipilih. Kebetulan, di bursa transfer musim panas ini, Atletico cukup aktif mendatangkan pemain muda berbakat, misalnya Marcos Llorente (23), Joao Felix (19), dan Renan Lodi (21). Di arah sebaliknya, ada pemain-pemain senior macam Diego Godin (33) dan Juanfran (34) yang hengkang karena kontraknya tak diperpanjang. Ada juga Diego Costa (31), yang belakangan intens didekati Wolverhampton Wanderers (Inggris).

Jelas, ada "simbiosis mutualisme" di sini. Karena, Atletico ingin meremajakan tim, sementara Barca ingin memperkuat lini depan dengan mendatangkan Griezmann, pemenang Piala Dunia 2018 yang sudah terbukti mampu bersinar secara konsisten di La Liga Spanyol dan Liga Champions selama beberapa tahun terakhir. Pertanyaannya, mengapa Barca memilih kembali ke konsep trisula lini depan?

Jawabannya ada pada performa Barca pada satu bulan terakhir kompetisi musim lalu. Meski juara liga, Barca tumbang di semifinal Liga Champions (Vs Liverpool) dan final Copa del Rey (Vs Valencia). Dalam dua momen ini, duet Messi-Suarez yang banyak diandalkan pelatih Ernesto Valverde mulai bisa diredam lawan.

Jadi, jika strategi serupa masih diterapkan musim depan, Barca bisa jadi bulan-bulanan lawan. Memang, mereka masih punya Ousmane Dembele di lini depan. Sayang, pemain asal Prancis ini cukup akrab dengan cedera. Sementara itu, Coutinho cenderung bertipikal "playmaker". Tak heran, Barca lalu mencari penyerang baru berprofil tinggi yang jarang cedera. Kebetulan, kriteria ini dimiliki Griezmann.

Melihat gaya bermainnya, Griezmann bakal ditugaskan untuk mengurangi beban ketergantungan Barca pada Messi. Kebetulan, selain gesit dan cerdik, Griezmann juga berkaki kidal seperti Messi. Jadi, ia bisa menjadi pemecah konsentrasi lini belakang lawan. Dengan kehadiran Griezmann, lawan tak hanya dituntut untuk fokus menjaga ketat Messi, tapi juga harus memastikan Griezmann jangan sampai lepas.

Bicara soal konsep "trisula lini depan", Barca memang punya catatan manis yang agaknya bikin ketagihan untuk diulang. Maklum, dalam sedekade terakhir, formula ini terbukti manjur mendatangkan banyak gol dan trofi juara, baik di tingkat domestik maupun Eropa. Mulai dari era Ronaldinho-Eto'o-Giuly (2004-2006), Henry-Eto'o-Messi (2008-2009), Messi-Villa-Pedro (2010-2011), sampai Messi-Suarez-Neymar (2014-2017), semuanya sukses mendatangkan trofi Liga Champions buat El Barca.

Konsep inilah, yang agaknya mendorong Barca, untuk mendatangkan Griezmann. Memang, Griezmann adalah penyerang berprofil tinggi. Tapi, memadukannya dengan duet Messi dan Suarez dalam waktu singkat bukan perkara gampang. Apalagi, Barca juga masih punya Phillipe Coutinho dan Ousmane Dembele, duet pemain termahal mereka di sektor serangan.

Jadi, Barca (lebih tepatnya pelatih Ernesto Valverde) harus bisa memaksimalkan potensi kemampuan menyeramkan di lini serang Barca. Supaya, target "Treble Winner" yang kembali dicanangkan manajemen klub tak lagi meleset. Jika gagal lagi, kedatangan Griezmann hanya akan menjadi angin surga sesaat, yang mengawali cerita pilu kegagalan mereka musim ini.

Menarik ditunggu, bagaimana kiprah Antoine Griezmann dalam balutan seragam merah-biru Barcelona.