Yose Revela
Yose Revela Buruh

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Menakar Nasib Manchester United Setelah Ole Gunnar Solskjaer Permanen

29 Maret 2019   12:36 Diperbarui: 29 Maret 2019   14:31 214 3 0
Menakar Nasib Manchester United  Setelah Ole Gunnar Solskjaer Permanen
Ole Gunnar Solskjaer (Goal.com)

Setelah sempat menjadi pelatih interim Manchester United (MU) sejak bulan Desember 2018 silam, akhirnya Ole Gunnar Solskjaer resmi dipermanenkan sebagai pelatih Paul Pogba dkk, pada Kamis, (28/3) lalu, dengan ikatan kontrak selama tiga tahun. 

Pada saat bersamaan, MU harus membayar uang kompensasi transfer sebesar 7 juta poundsterling ke Molde (Norwegia), klub tempat Solskjaer sebelumnya bekerja. Seperti diketahui, Solskjaer awalnya kembali ke Old Trafford sebagai "pelatih pinjaman" dari Molde, sebelum akhirnya dipermanenkan.

Dipermanenkannya status Ole sendiri, sebenarnya bukan sebuah kejutan besar. Karena, pelatih asal Norwegia ini terbukti mampu mengangkat performa MU di lapangan, dan membuat suasana ruang ganti tim menjadi kondusif dalam waktu singkat. Terbukti, MU kini mampu bersaing dalam perebutan posisi empat besar klasemen Liga Inggris, dan lolos ke babak perempatfinal Liga Champions.

Hal ini setidaknya terlihat dari performa MU bersama Ole. Berada di bawah asuhan Ole, MU mampu mencatat 14 kemenangan, 2 hasil imbang, dan 3 kekalahan dalam 19 pertandingan. Hebatnya, Ole mampu mengembalikan mental baja MU seperti saat dilatih oleh Sir Alex Ferguson, seperti yang mereka tampilkan di beberapa kesempatan, termasuk saat menumbangkan PSG secara dramatis di Liga Champions.

Secara umum, performa MU bersama Ole belakangan ini boleh jadi terdengar seperti alunan musik yang merdu buat Manchunian. Tak ada lagi olok-olokan, tak ada lagi nada sumbang, atau perang komentar lewat media, karena Ole sendiri tergolong irit bicara di luar lapangan. Dan, semuanya terasa lebih menyenangkan, karena Ole kini sudah resmi menjadi pelatih tetap.

Tapi, bukan berarti masalah MU selesai begitu saja dengan dipermanenkannya status Ole. Malah, ini menjadi awal dari sebuah pekerjaan besar. Karena, Ole dituntut untuk setidaknya mampu menjaga situasi positif yang sejauh ini sudah ia bangun bersama para pemain. Supaya, MU dapat meraih hasil positif di lapangan.

Sebagai target terdekat, MU mendapat tantangan untuk setidaknya mampu finis di posisi empat besar klasemen Liga Inggris, atau melaju sejauh mungkin di Liga Champions, sebagai modal awal untuk mempersiapkan diri di kompetisi musim depan, sekaligus menciptakan posisi tawar yang bagus di bursa transfer pemain. 

Meskipun, inilah sebenarnya tak mudah, karena di liga domestik, MU harus bersaing ketat dengan Arsenal dan Chelsea, sementara di perempat final Liga Champions mereka akan menghadapi Barcelona yang dikapteni Lionel Messi.

Tapi, dengan mood positif yang saat ini menaungi tim, seharusnya ini bisa menjadi satu tantangan menarik. Apalagi, saat ini mereka hanya tinggal berfokus di liga Inggris dan Liga Champions. Jadi, MU seharusnya bisa tampil lebih fokus. Di sini, para pemain akan dituntut untuk dapat tampil maksimal, supaya MU setidaknya punya sedikit hal positif yang dapat diingat di musim ini.

Situasi ini seharusnya bisa dimanfaatkan Ole untuk mengevaluasi kinerja pemain yang ada saat ini, sebelum menentukan sektor mana saja yang harus dibenahi, dan siapa saja pemain yang harus didatangkan atau dilepas. 

Dari sinilah, Ole dan MU dapat membenahi sekaligus mempersiapkan diri secara terukur. Dengan catatan, Ole punya kebebasan penuh dalam berbelanja pemain, dan manajemen MU tak lagi tergoda untuk berpola pikir instan.

Jika hal ini dapat terwujud, penunjukan Ole sebagai pelatih permanen MU adalah awal dari bangun tidurnya sebuah tim raksasa. Jika tidak, ini hanyalah cerita kegagalan konyol berikutnya dari Old Trafford.

Selamat bertugas penuh, Ole!