Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Bima Sakti, Kenapa Tidak?

11 Oktober 2018   18:26 Diperbarui: 11 Oktober 2018   18:27 681 0 0
Bima Sakti, Kenapa Tidak?
Jawapos.com

Judul di atas adalah pendapat saya, mengenai kapabilitas Bima Sakti sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia, seandainya PSSI dan Luis Milla gagal mencapai kesepakatan, terkait perpanjangan kontrak Milla selama setahun ke depan. Seperti diketahui, hingga saat ini, lanjutan masa depan Luis Milla di Tim Garuda belum juga menemui titik terang, karena Luis Milla saat ini masih menjalani kursus lisensi kepelatihan UEFA Pro (strata lisensi kepelatihan tertinggi di Eropa) di Spanyol. Meskipun, PSSI dan Luis Milla sebelumnya sudah mencapai kesepakatan verbal, terkait perpanjangan kontrak selama setahun.

Memang terkait masalah ini PSSI mengklaim sudah punya rencana cadangan, dengan Simon McMenemy (pelatih Bhayangkara FC) santer disebut-sebut sebagai kandidat favorit. Tapi, berhubung kick off Piala AFF 2018 sudah dekat, saya melihat Bima Sakti sebagai kandidat pengganti ideal, andai kerjasama PSSI dan Luis Milla tak jadi berlanjut. Mengapa demikian?

Karena, meski masih relatif hijau di dunia kepelatihan, eks pemain PSSI Primavera ini sudah belajar banyak dari Luis Milla selama dua tahun terakhir, dalam kapasitasnya sebagai asisten pelatih timnas Indonesia. Jadi, ini bisa jadi kesempatan buat Bima Sakti, untuk mulai bertugas sebagai pelatih kepala dalam sebuah tim.

Dari segi teknis, pengalaman Bima Sakti ini adalah satu nilai tambah. Dengan ilmu yang didapat dari Luis Milla, Bima Sakti tinggal apa yang sudah dibangun Luis Milla di Tim Garuda sejauh ini. Jadi Timnas Indonesia tidak perlu memulai dari nol lagi. Karena, mereka sudah punya materi pemain dan konsep taktik yang mulai terbentuk.

Dari segi biaya, menunjukkan Bima sakti juga bisa menjadi opsi cerdas buat PSSI. Karena mereka bisa merekrut melatih berkualitas dengan biaya gaji lebih murah dari sebelumnya. Di sisi lain ini juga menjadi kesempatan baik bagi PSSI, untuk mulai kembali memberdayakan potensi pelatih lokal.

Lagi pula di bawah komando Bima Sakti, (yang diasisteni Kurniawan Dwi Yulianto) timnas Indonesia berhasil mengalahkan Mauritius (1-0), dan Myanmar (3-0). Di sini, apa yang sudah dibangun oleh Luis Milla sudah mulai menghasilkan performa stabil. Seharusnya ini hanya perlu dipertahankan dan ditingkatkan, agar dapat mencapai hasil yang lebih baik.

Secara personal, sosok Bima Sakti juga sudah cukup mengenal dan dihormati oleh para pemain timnas, berkat perannya sebagai asisten pelatih timnas, dan legenda sepak bola nasional. Jika PSSI berani mempercayai Bima Sakti sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia, para pemain tidak perlu lagi beradaptasi dalam hal taktik, teknik, maupun personal. Hasilnya, timnas bisa lebih fokus sepenuhnya pada pertandingan, dengan tim yang sudah cukup kompak.

Tentunya ini hanya sebuah analisa, yang berasal dari satu kemungkinan yang bisa saja terjadi, terkait teka-teki masa depan Luis Milla di Tim Garuda. Bagaimanapun akhir teka-teki ini nantinya, semoga tidak membawa dampak buruk buat tim Garuda.