Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Pelajaran dari Transfer Egy ke Polandia

13 Maret 2018   00:36 Diperbarui: 13 Maret 2018   01:33 662 2 2
Pelajaran dari Transfer Egy ke Polandia
Sumber: Twitter.com/LechiaGdanskSA

Pada Sabtu, (10/3) lalu, Egy Maulana Vikri resmi pindah ke klub Lechia Gdansk, klub Ekstraklasa, kompetisi kasta teratas Liga Polandia. Bersama Si Putih-Hijau, Egy diikat kontrak selama 3 tahun. Tapi, sesuai aturan FIFA, kontrak Egy bersama Lechia Gdansk baru efektif berlaku per 8 Juli 2018 mendatang, saat Egy genap berumur 18 tahun.

Resminya transfer Egy ke Lechia Gdansk, disambut gembira pecinta sepak bola Tanah Air. Karena, transfer ini sudah bersifat resmi, bukan lagi gosip. Menariknya, peresmian transfer Egy ini memberi pelajaran berharga, yang bisa diterapkan juga, oleh pemain muda kita di masa depan.

Pelajaran pertama, transfer Egy ke Gdansk membuktikan, betapa pentingnya keberadaan seorang agen pemain, bagi seorang pemain muda. Jika si pemain ingin bermain di luar negeri, maka ia harus mempunyai agen pemain, yang memang punya wawasan seputar karakter pemain lokal, atau jaringan relasi memadai, di liga yang ingin dituju. 

Secara teknis, keberadaan agen dengan "pengetahuan internasional" memadai, juga akan menguntungkan si pemain. Karena, ia akan terus mendorong si pemain, untuk dapat membekali diri, misalnya dengan belajar kemampuan bahasa asing, agar tak ada masalah dalam berkomunikasi.

Pada kasus Egy, pemain kidal asal Medan ini diageni oleh Dusan Bogdanovic, eks pemain Persikota Tangerang asal Serbia. Dalam hal wawasan, Bogdanovic cukup memahami karakter pemain Indonesia, berkat pengalamannya semasa bermain di Persikota dulu. 

Sementara itu, dari sisi relasi, relasi Bogdanovic, terutama untuk wilayah Eropa Timur, cukup luas. Modal Inilah yang membuat Egy akhirnya dapat mendarat di liga Polandia.

Pelajaran kedua, kepindahan Egy (setidaknya sedikit) membuka mata pemain muda kita, bahwa liga di negara-negara Eropa Timur (misal Polandia, Serbia, dan Kroasia) adalah opsi menarik, sekaligus batu loncatan. Terutama, bagi mereka yang suatu hari nanti ingin bermain di liga top Eropa. 

Meski bukan pilihan populer, dibanding liga-liga top Eropa, liga di Eropa Timur tetap layak dipertimbangkan.

Karena, liga-liga di Eropa Timur terbukti rajin mencetak pemain berkualitas, misalnya Robert Lewandowski (Bayern Munich/Timnas Polandia), Luka Modric (Real Madrid/Kroasia), dan Nemanja Matic (Manchester United/Serbia). Para pemain 'kualitas ekspor' ini, dapat membela tim-tim kelas dunia, berkat tempaan keras di liga domestik masing-masing semasa muda.

Banyaknya menit bermain yang bisa didapat, membuat liga-liga di Eropa Timur layak dijadikan tujuan, bagi para pemain muda kita di masa depan. Jelas, bagi seorang pemain muda, menit bermain adalah hal krusial, bukan nama besar kompetisi atau klubnya. 

Akan percuma, jika ia dikontrak klub top, tapi tak pernah diberi kesempatan bermain. Karena, itu hanya akan membuat karirnya layu sebelum berkembang.

Satu pelajaran krusial lainnya adalah, pemain muda kita jangan takut bermain di luar megeri. Meski terlihat sulit, ini adalah satu tantangan tersendiri, yang dapat membuat mereka lebih berkembang, baik secara teknis maupun mental. 

Jika mampu melewati tantangan ini, maka seorang pemain akan layak disebut sebagai "pemain berkualitas". Tentunya, kita sama-sama berharap, semoga Egy bukan pemain muda asal Indonesia terakhir, yang berani bermain di liga Eropa.