Mohon tunggu...
Yon Bayu
Yon Bayu Mohon Tunggu... memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Menilik Sikap Jokowi Usai PDIP Tolak Gibran

28 September 2019   15:24 Diperbarui: 30 September 2019   13:44 0 18 10 Mohon Tunggu...
Menilik Sikap Jokowi Usai PDIP Tolak Gibran
Gibran usai mendaftar sebagai anggota PDIP. Foto: Tribunnews.com

Ketua DPC PDIP Kota Solo FX Hadi Rudyatmo menutup peluang Gibran Rakabuming Raka mengikuti Pemilihan Wali Kota Solo 2020. Tidak seperti biasanya, PDIP Kota Solo tidak membuka penjaringan bakal calon. Alasannya, sudah ada aspirasi dari internal partai untuk mengusung pasangan Achmad Purnomo - Teguh Prakosa.

Bahkan nama Wakil Wali Kota dan Sekretaris DPC PDIP Solo itu sudah dikirim ke DPP untuk mendapat persetujuan. Gibran yang sudah mendaftar sebagai anggota PDIP, akhirnya gagal mendapat kesempatan untuk menaiki perahu partainya.

Peluang putra sulung Presiden Jokowi itu memang belum sepenuhnya tertutup. Masih terbuka kemungkinan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri menggunakan hak prerogatifnya untuk memberi kesempatan kepada Gibran. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto juga menyebut Gibran masih memiliki peluang, meski tidak ada akan diistimewakan.

Dan bukan sesuatu yang luar biasa manakala aspirasi, bahkan hasil penjaringan pasangan bakal calon yang diusulkan DPC maupun DPD dianulir oleh DPP. Pilkada DKI Jakarta 2017 adalah contohnya. Saat itu Megawati memilih Ahok daripada memilih salah satu nama dari hasil penjaringan yang dilakukan DPD PDIP Jakarta, termasuk Yusril Ihza Mahendra.    

Namun jika pun PDIP ngotot mengusung Achmad -- Teguh, Gibran tetap masih memiliki peluang maju Pilwakot Solo dengan menggunakan perahu gabungan partai lain atau melalui jalur independen.

Tetapi di sinilah persoalannya. Meski keputusan itu diambil oleh Gibran, imbasnya akan ke Jokowi. Sebagai kader partai yang telah berkali-kali diusung PDIP, termasuk di ajang Pilpres 2014 dan 2019, Jokowi akan dianggap mbalelo jika merestui pengusaha kuliner itu maju Pilwakot Solo tanpa PDIP.

Pertanyaan menariknya, mengapa PDIP tidak mau mengusung Gibran? Selain alasan yang dikemukakan Rudyatmo, tidak terlalu sulit untuk menduga alasan lain yang tidak diungkap.

Pertama, nyaris mustahil DPC PDIP Solo membuat kebijakan sendiri di luar mekanisme baku partai. Sepertinya ada kekuatan lain yang memback-up pengurus PDIP Kota Solo.  Sikap "tergesa-gesa" Rudyatmo mengirim nama pasangan bakal calon yang akan diusung di Pilwakot Solo, kian menegaskan adanya hal yang tidak biasa.

Terlebih, usai resmi menjadi anggota PDIP, tidak ada pengurus yang menyambut Gibran saat hendak mengambil formulir pendaftaran. Belakangan Rudyatmo baru menyampaikan ke publik jika partainya tidak membuka penjaringan bakal calon.  

Kedua, sepertinya bagi PDIP, kemenangan maupun kekalahan Gibran sama-sama akan membawa dampak buruk yang tidak diinginkan.  
Jika Gibran memenangi Pilwakot Solo, maka siapa pengganti Jokowi setelah 2024, sudah dapat dibaca. Situasi demikian tentu tidak menguntungkan PDIP.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN