Yon Bayu
Yon Bayu Penulis

memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Pujian Tak Biasa Luhut untuk Prabowo

24 April 2019   17:44 Diperbarui: 24 April 2019   23:11 1620 14 7
Pujian Tak Biasa Luhut untuk Prabowo
Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Foto: KOMPAS.com

Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengumbar pujian setinggi langit kepada calon presiden 02 Prabowo Subianto. Tentu ini pujian tak biasa. Mungkinkah Prabowo akan luluh hatinya karena sanjungan itu?

Melalui akun facebooknya, Luhut mengaku mengenal Prabowo sebagai seorang yang sangat konsisten dan betul-betul rasional dalam berpikir, yang juga penuh dengan idealisme, penuh dengan jiwa patriot, penuh dengan keinginan berbuat yang terbaik untuk negeri ini.

Pujian itu menjadi menarik bukan saja karena dalam kampanye Pilpres 2019 Luhut ikut menyerang Prabowo, tetapi juga situasi saat ini yang disebut Presiden Joko Widodo "ada riak-riak kecil". Bahkan Jokowi memerintahkan TNI/Polri untuk benar-benar bisa menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban (kompas.com)

Riak-riak yang dimaksud Presiden Jokowi kemungkinan terkait proses pilpres yang masih berlangsung di mana KPU tengah melakukan input data C1 ke dalam Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng), sebelum hitung manual. 

Proses ini sangat krusial karena baik pasangan calon 01 Jokowi-Ma'ruf Amin maupun paslon 02 Prabowo-Sandiaga Uno sama-sama mengklaim kemenangan. Kubu 01 mendasarkan klaim kemenangannya pada hasil quick count sejumlah lembaga, sedang klaim kubu 02 didasarkan pada hasil real count internal. Kemungkinan jumlah provinsi yang dimenangi lebih banyak dari petahana, membuat kubu Prabowo kian yakin atas klaim kemenangannya.  

Bukan hanya klaim kemenangan, Prabowo juga sudah mendeklarasikan diri sebagai presiden pilihan rakyat. Hingga saat ini, rumah Prabowo juga masih terus dikunjungi tokoh-tokoh yang dikenal i berseberangan dengan pemerintah, termasuk Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais.

Dari sinilah muncul kekuatiran Prabowo tidak akan mau mengakui hasil pilpres manakala hasilnya tidak sesuai data yang dimiliki. Kekuatiran semakin menjadi-jadi karena sebelumnya Amien Rais menyeru, jika kalah pihaknya tidak membawa sengketa pilpres ke Mahmakah Konstitusi (MK) melainkan langsung people power.

Sejumlah pihak mulai was-was Prabowo akan terpengaruh bujuk rayu Amien Rais sehingga ketika kelak hasil hitung KPU ternyata tidak sesuai klaimnya, Prabowo akan menolak. Meski tidak menyeru people power, penolakkan tersebut menjadi landasan pendukungnya turun ke jalan.    

Di sinilah posisi strategis Luhut ketika berusaha menemui Prabowo, terlepas dirinya utusan Jokowi atau bukan. Sebab Luhut dikenal sangat dekat dengan Jokowi, baik selaku presiden maupun secara pribadi. Jika sampai berhasil menemuinya, bukan mustahil Luhut akan bisa meluluhkan hatinya, minimal mendapat jaminan Prabowo akan mengakui apapun hasil keputusan KPU.  

Terlebih selama ini Prabowo dikenal sebagai pribadi yang gampang "mengalah" jika sudah disebut untuk kepentingan bangsa dan negara. Di awal masa pemerintahan Jokowi, Prabowo tidak segan-segan tampil sebagai "penyelemat" ketika Jokowi berada dalam situasi pelik. 

Contohnya, saat Jokowi "dipaksa" untuk mengangkat Jenderal (Pol) Budi Gunawan sebagai Kapolri. Saat itu Prabowo memberi jaminan apa pun keputusan Jokowi, akan didukung sehingga akhirnya Jokowi menarik pencalonan Budi Gunawan yang saat itu menjadi tersangka KPK. 

Bahkan setelah praperadilannya diterima PN Jakarta Selatan sehingga Budi Gunawan tidak lagi menyandang status tersangka, Jokowi tetap tidak melantiknya. Dari sisi ini, pujian Luhut jika Prabowo seorang patriotik, tidak mengada-ada.

"Jika berhasil menemuinya, bukan mustahil Luhut akan bisa meluluhkan hatinya, minimal mendapat jaminan Prabowo akan mengakui apapun hasil keputusan KPU."

Tetapi situasi saat ini cukup berbeda. Jika pada Pilpres 2014 Prabowo akhirnya luluh dan mau mengakui kemenangan Jokowi-JK, belum tentu hal yang sama akan dilakukan Prabowo. Pertama, seperti disebut di atas, sebaran perolehan suara Prabowo lebih masif. 

Jumlah daerah yang dimenanginya lebih benyak dibanding Jokowi. tentu, sesuai sistem elektoral yang kita anut yakni one man one vote, maka pemenangnya adalah pasangan yang mendapat suara terbanyak, bukan jumlah provinsi yang dimenangi.

Kedua, militansi pendukungnya yang luar biasa. Kegiatan politik Prabowo-Sandi selalu ramai didatangi pendukungnya, termasuk di daerah-daerah. Sulit membantah adanya ghirah luar biasa di tengah masyarakat yang menginginkan Prabowo menjadi presiden.

Ketiga, dukungan tokoh-tokoh nasional  seperti pemilik Jawapos Group Dahlan Iskan dan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo. Suara tokoh-tokoh ini tentu akan menjadi pertimbangan utama sebelum Prabowo mengambil keputusan menyangkut  hasil pilpres.

Dengan "ditundanya" pertemuan dengan Prabowo, kini Luhut dan kubu Jokowi, hanya bisa menunggu keputusan apa yang akan keluar dari Kertanegra- kediaman Prabowo. Tentu kita semua berharap yang terbaik namun juga tidak dengan mengintervensi hak konstitusional Prabowo.      

Salam @yb