Yon Bayu
Yon Bayu Penulis

memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Garuda, Partai yang Lupa Terbang

12 September 2018   21:30 Diperbarui: 12 September 2018   21:32 523 6 4
Garuda, Partai yang Lupa Terbang
DPP Partai Garuda. Foto: tribunnews.com/ist

Kehadiran Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda) sebagai satu dari empat partai baru yang akan berlaga di Pemilu 2019 bisa dianggap sebagai anomali. Bayangkan, Garuda bisa langsung lolos seleksi awal oleh KPU di saat partai-partai dengan nama besar seperti Idaman yang digawangi raja dangdut Rhoma Irama, dan partai lawas seperti PBB yang dipimpin Prof Yusril Ihza Mahendra, serta PKPI yang dikomandani (saat itu) jenderal gaek Hendropriyono, gagal memenuhi persyaratan.

Lebih dramatis lagi, karena Ketua Umum Partai Garuda Ahmad Ridha Sabana diketahui mantan calon anggota legislatif (caleg) Partai Gerindra pada Pemilu 2014. Timbul pertanyataan, resep apa yang digunakan mantan direksi Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) untuk meloloskan partainya yang membutuhkan persyaratan lebih rumit, sementara dirinya saja gagal meraih satu kursi di DPRD DKI Jakarta?

Tidak berlebihan ketika akhirnya masyarakat mengaitkan keberhasilan Ahmad Ridha meloloskan Garuda dengan Partai Gerindra. Terlebih Ahmad Ridha merupakan adik kader Gerindra Ahmad Riza Patria yang kini duduk di DPR. Bahkan kader dan simpatisan Garuda sendiri seperti mengamini jika partainya menjadi sekoci Gerindra meski di level DPP membantah isu tersebut.

Terlepas kontroversinya, Partai Garuda terlihat kian solid dan berhasil memenuhi semua tahapan pemilu termasuk mendaftarkan 243 bakal calon anggota legislatif. Ini merupakan prestasi sendiri di saat partai-partai lain kesulitan mencari tokoh. Terlebih kemudian, 243 bacalegnya dinyatakan memenuhi syarat untuk bertarung di 80 daerah pemilihan.

Tetapi soliditas dan kecakapan memenuhi kelengkapan admistrasi baik saat mengikuti verifikasi partai politik maupun bacaleg, bukan jaminan dapat melenggang ke Senayan. Target 40 kursi DPR atau sekitar tujuh persen sehingga lolos ambang batas parlemen (parliamentary threshold) bukan sulit digapai, bahkan sepertinya mustahil. Hasil survei terbaru yang digelar Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menempatkan Partai Garuda di pisisi buncit dengan elektabilitas0,1 persen. Bahkan andai margin of error sebesar 2,9 ditambahkan, tetap saja tidak mampu menolong lolos ke Senayan.  

Berikut beberapa alasannya. Pertama, tidak memiliki basis pendukung yang jelas. Klaim sebagai partai yang mewadahi kelompok milenial tidak didukung dengan visi, performa dan program nyata. Sulit menemukan berita kegiatan kader Partai Garuda yang berhubungan dengan kegiatan, atau bahkan sekedar menyerap aspirasi kelompok milenial. Jika pun dipaksakan, kita hanya menemukan gambar-gambar pengurus partai yang fresh dan memang cukup mewakili wajah milenial.

Artinya, pemahaman terhadap milenial terdistori hanya pada penampilan, bukan pada pemenuhan keinginannya. Bahkan lebih berbahaya lagi ketika milenial diidentikkan dengan hura-hura dan lost orientation. Padahal pengertian milenial dalam politik kekinian adalah generasi yang sangat dinamis dan kritis terhadap persoalan di sekitarnya. Mereka yang saat ini menguasai ruang-ruang media sosial. Mereka dengan ringan menggerakkan jemarinya untuk memberikan komentar pada peristiwa yang terjadi, terlepas pro atau kontra.

Kedua, ketiadaan tokoh sebagai pengikat sekaligus vote getter. Politik Indonesia masih kental dengan figur. Sangat mungkin dari 10 orang yang ditanya alasan memilih partai tertentu, setengah di antaranya karena sosok yang ada di partai tersebut. Selain figur ketua umum, caleg setempat juga bisa menjadi alternatifnya.

Persoalannya, ada berapa banyak caleg Partai Gerindra yang memiliki nama cukup menonjol di daerah pemilihannya? Ketokohan di sini bukan hanya terkenal di media, tetapi benar-benar mengakar. Bahkan Ahmad Ridha sendiri sudah mengalami bagaimana kerasnya pemilihan secara langsung, padahal saat itu baru di level provinsi.

Ketiga, lupa terbang. Tentu ini hanya perumpamaan karena Partai Garuda terkesan mengabaikan kekuatan media alternatif, khususnya media sosial. Sebagai partai yang memposisikan diri sebagai partai milineal, Garuda tidak terlihat mencoba menguasai media. Hal ini bisa kita buktikan saat mengetik keyword partai garuda" di mesin pencari Google. Nyaris tidak ada program atau kegiatan yang pernah dilakukan Partai Garuda yang terindeks di situ. Atau memang belum pernah ada? Mirisnya, hingga sampai beberapa halaman, justru kontroversi sekitar Ahmad Ridha Sabana dan Partai Garuda yang mendominasi.

Keberadaan media internet, khususnya media sosial, saat ini sudah sejajar dengan media lain yang berada di udara seperti TV dan radio. Salah satu keunggulannya tentu karena bisa menjangkau medan yang luas, bahkan ke wilayah-wilayah terpencil, dalam waktu sekejap. Jika Garuda tetap tidak (mau) terbang, tidak berusaha memenangi perang di udara, jangan harap akan bisa memenangkan perang di darat yang membutuhkan logistik dan kemampuan operasionjal lebih besar.

Salam @yb