Mohon tunggu...
Yon Bayu
Yon Bayu Mohon Tunggu... memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama | https://yonbayuwahyono.com/

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Megawati dan Mitos-mitos PDIP

21 April 2017   07:02 Diperbarui: 21 April 2017   11:02 8647 21 33 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Megawati dan Mitos-mitos PDIP
FOTO: seruni.id

Semakin lama seseorang berkuasa, semakin sulit untuk mencari penggantinya. Bukan karena tidak ada orang lain yang bisa menyamai, bahkan melebihi, kemampuannya, tetapi lebih disebabkan oleh sikap pesimis, ketakutan dan mitos, selain kenyamanan dirinya dan orang-orang dekatnya. Gambaran seperti itu yang kini terjadi di tubuh PDI Perjuangan.

Galibnya politik, Keinginan pensiun yang diungkapkan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri beberapa waktu lalu, memiliki multi tafsir. Bisa dimaknai sebagai ungkapan kekecewaan terhadap kinerja kadernya, terutama terkait hasil pilkada serentak yang di bawah target. Bisa juga- sebagaimana dikatakan Sekretaris Jenderal  DPP PDIP Hasto Kristiyanto, sebagai pengingat agar partainya lebih serius mempersiapkan kader untuk menggantikan dirinya.

Artinya, Megawati tidak akan mundur dalam waktu dekat ini, tetapi tidak mau dipilih kembali sebagai ketum dalam kongres mendatang. Namun tidak sedikit pula yang meyakini apa yang disampaikan Megawati memang demikian adanya (an sich). Beragam tafsir yang berkembang menunjukkan betapa strategis posisi Megawati saat ini.

Meski demikian, suksesi kepemimpinan di tubuh PDIP tidak akan mudah. Banyak faktor yang menghambat proses regenerasi. Bukan karena  ketiadaan pengganti yang mumpuni, tetapi lebih pada ketakutan-ketakutan semu yang diciptakan oleh sekelompok kader di lingkungan dalam (inner circle) Megawati sendiri. Mereka menciptakan beragam mitos untuk menakut-nakuti siapa saja yang ingin mengganti Megawati.

Salah satu mitos yang paling sering digemakan dan dianggap sakral adalah PDIP harus dipimpin oleh anak-keturunan biologis Soekarno, Presiden RI I. Dasar mitos ini, orang yang tidak memiliki pertalian darah dengan klan Bung Karno, tidak akan mampu mengemban amanah, memahami pikiran dan nafas perjuangan Bung Karno.

Orang luar bisa saja menjadi marhaenisme sejati, bahkan ultra nasionalis, tetapi tidak mungkin dititisi aura Bung Karno. Padahal- menurut mitos itu, bangunan kokoh yang menaungi warga PDIP (baca: kaum nasionalis) adalah kharisma Bung Karno (dan pemikiran-pemikirannya).

Berangkat dari mitos ini, maka spekulasi siapa yang akan menggantikan Megawati kelak, tidak jauh dari keturunan Bung Karno, terutama anak-anak Megawati. Nama Puan Maharani dan Muhammad Pranada Prabowo menjadi titik sentral, menyusul kemudian anggota Fraksi PDIP di DPR RI Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari, anak Guntur Soekarno.

Jika pun diselenggarakan pemilu raya di internal PDIP untuk memilih pengganti Megawati dengan mengikutkan nama-nama kader tenarnya seperti (Presiden RI) Joko Widodo, (Seskab) Pramono Anung, (Sekjen PDIP) Hasto Kristiyanto dan (anggota Fraksi PDIP DPR) Budiman Sudjatmiko, nama Puan, Prananda dan Puti tetap akan berada urutan atas. Bukan karena mereka meragukan kemampuan dan nasionalisme Jokowi dan lainnya, tetapi sekali lagi, mitos bahwa PDIP hanya bisa bersatu, besar dan kuat jika dipegang anak-keturunan Bung Karno, yang menjadi penyebabnya.

Persoalannya, selama Megawati masih (mau) tampil di panggung politik, anak-anaknya tentu tidak berani mengingatkan pentingnya regenerasi, pentingnya memberi peran yang lebih strategis, kepada mereka. Misalnya “menunjuk” Puan sebagai ketua umum, minimal ketua harian, sementara Megawati menjadi ketua Dewan Pertimbangan Partai sebagaimana dulu suaminya, Taufik Kiemas.

Langkah ini sekaligus untuk menguji dan menunjukkan kemampuan Puan, juga Prananda dan Puti, kepada kader dan juga pendukung serta simpatisan PDIP. Jika pun dalam perjalanan, terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, Megawati masih bisa memegang kendali. Tetapi bukan hanya Megawati, orang-orang terdekatnya dipastikan menentang peralihan kekuasaan tersebut karena takut dirinya tidak terbawa dalam gerbong Puan.

Mitos kedua yang disakralkan dan wajib dipatuhi oleh seluru kader bahwa PDIP adalah Megawati dan berlaku sebaliknya.  Orang-orang di sekitarnya menciptakan Megawati sebagai sosok tak tersentuh, penentu segala kebijakan partai, dilengkapi hak prerogatif. Kuatnya stigma PDIP adalah Megawati, tercermin dari rangkaian pilkada serentak 2017.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x