Mohon tunggu...
Yonathan Christanto
Yonathan Christanto Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Movie Enthusiast | Awardee Best in Specific Interest Kompasiana Awards 2019

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

"Doctor Sleep", Menghidupkan Kembali Teror dan Trauma "The Shining" dalam Sekuel Berkonklusi Apik

6 November 2019   11:28 Diperbarui: 6 November 2019   11:34 0 9 5 Mohon Tunggu...
"Doctor Sleep", Menghidupkan Kembali Teror dan Trauma "The Shining" dalam Sekuel Berkonklusi Apik
Sumber: imdb.com

Mengadaptasi novel Stephen King menjadi sebuah film adalah sebuah tantangan tersendiri bagi sineas. Namun meneruskan apa yang menjadi warisan dari sutradara legendaris Stanley Kubrick, tentu merupakan tantangan yang jauh lebih besar.

Hal itulah yang lantas 'dibebankan' kepada Mike Flanagan kala membesut film Doctor Sleep di tahun ini, yang menjadi sekuel langsung atas film The Shining yang disutradarai Stanley Kubrick di tahun 1980 silam.

Seperti kita tahu, sampai saat ini The Shining masih menjadi salah satu film adaptasi terbaik dari novel horor Stephen King. Juga menjadi salah satu karya terbaik Stanley Kubrick di ranah horor, yang kelak berbagai unsur di dalam film tersebut menjadi sumber referensi atas berbagai film horor di era modern ini.

Jack Nicholson dalam The Shining (imdb.com)
Jack Nicholson dalam The Shining (imdb.com)
The Shining ibarat paket lengkap kombinasi kengerian Stephen King dengan visionernya cinematic style ala Stanley Kubrick, yang sulit dilewati kualitasnya hingga bertahun-tahun kemudian.

The Shining sendiri diangkat dari novel karya Stephen King berjudul sama di tahun 1977 dan menceritakan tentang kejadian kelam di Overlook Hotel yang menimpa Jack Torrence(Jack Nicholson) bersama istrinya, Wendy(Shelley Duvall), dan anak semata wayangnya Danny(Danny Lloyd). Kejadian kelam yang tak hanya penuh darah namun juga membuka tabir atas sejarah kelam hotel tersebut.

Sementara Doctor Sleep yang menjadi sekuelnya, diangkat dari novel Stephen King berjudul sama di tahun 2013 dan menceritakan tentang kehidupan Danny Torrence(Ewan McGregor) bertahun-tahun setelah kejadian kelam di Overlook Hotel. Di mana ia tumbuh dewasa dengan mewarisi sifat ayahnya yang pemarah dan alkoholik.

Kemampuan komunikasi Danny dengan dimensi lain (digitalspy.com)
Kemampuan komunikasi Danny dengan dimensi lain (digitalspy.com)
Danny tentu tidak serta-merta menjadi seorang pemarah dan pemabuk. Ada trauma masa kecil dan hilangnya peran seorang ayah yang pada akhirnya menyebabkan dirinya tumbuh menjadi seseorang yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. 

Anugerah dalam dirinya yang disebut 'The Shine', di mana memungkinkannya untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui pikiran, juga menjadi sebab atas ketidaksiapan dirinya menjadi seorang anak yang terlahir spesial. Meskipun kekuatan tersebut juga kerap dipakai Danny untuk 'mengantar' banyak orang menuju dimensi lain dengan tenang, di saat-saat sekarat penuh ketakutan mereka.

Pertemuan Danny dengan Abra (slashfilm.com)
Pertemuan Danny dengan Abra (slashfilm.com)
Pertemuannya dengan seorang remaja perempuan bernama Abra Stone(Kyliegh Curran) lantas menyadarkan Danny bahwa ada orang lain yang memiliki kekuatan serupa dengan dirinya. Orang-orang yang kini meminta pertolongan karena kekuatannya diburu oleh sekte gelap bernama The True Knot pimpinan Rose The Hat(Rebecca Ferguson), demi menciptakan komunitas 'panjang umur' dengan menyerap energi 'the shine' mereka.

Danny dan Abra pun kini harus bekerja sama menghentikan tindakan Rose The Hat dan sekutunya. Apapun akan mereka lakukan dan korbankan, termasuk jika harus kembali ke tempat di mana semua mimpi buruk Danny bersemayam.

Paket Lengkap Sekuel yang Menggugah

Bustle.com
Bustle.com


Sebagai lanjutan film The Shining yang kini telah menginjak usia hampir 40 tahun, Doctor Sleep tentu menghadapi banyak tantangan yang cukup berarti. Kontinuitas cerita yang harus menarik, rekonstruksi set, serta casting ulang pemeran yang didaulat memerankan tokoh ikonik di film sebelumnya, tentu menjadi beberapa hal yang harus diperhatikan kala menciptakan sekuel yang terpisah oleh waktu yang cukup panjang ini.

Beruntung, Doctor Sleep berhasil memaksimalkannya lewat tangan dingin Mike Flanagan, sutradara yang sejauh ini bisa dibilang belum pernah mengecewakan dalam menggarap film horor. Lihat saja hasil karyanya lewat film Ouija:Origin of Evil, Gerald's Game, Hush dan serial Netflix populer The Haunting of Hill House, yang semuanya cukup memberikan pengalaman horor dan thriller yang memuaskan.

Di sini Mike Flanagan tidak berusaha menjadi Stanley Kubrick. Mike tetaplah Mike dengan gaya visual khasnya yang lantas memadukannya dengan warisan kokoh yang ditinggal sang maestro.

Latar labirin yang ikonik berhasil dihidupkan kembali (indiewire.com)
Latar labirin yang ikonik berhasil dihidupkan kembali (indiewire.com)
Hasilnya, film ini berhasil menyajikan visual yang fresh dan tak kalah apik dengan apa yang ditampilkan Stanley Kubrick 40 tahun lalu. Bahkan di beberapa sisi Mike Flanagan berhasil melampauinya, berkat kombinasi visual surealis dan permainan tone apik yang menjadi ciri khasnya selama ini, yang belakangan semakin tegas ia tunjukkan pada serial The Haunting of Hill House.

Semakin menarik kala The Newton Brothers(Extinction, The Haunting of Hill House)berhasil memasukkan scoring original nan legendaris dari film The Shining garapan Wendy Carlos dan Rachel Elkind ke dalam komposisi scoring baru mereka. Hasilnya, paduan sound elektronik lawas 80'an dan nuansa tidak nyaman dari The Shining tetap terasa di sepanjang 151 menit film Doctor Sleep ini.

Secara cerita, sejatinya film ini dibagi ke dalam 3 bagian besar. Bagian awal digunakan untuk menceritakan masa kecil Danny dan usahanya dalam menerima statusnya sebagai penerima 'the shine'. Hingga kemudian tumbuh dan menjadi dewasa dalam naungan kekuatan tersebut.

Ewan McGregor (indiewire.com)
Ewan McGregor (indiewire.com)
Di sini Ewan McGregor benar-benar bersinar sebagai sosok Danny dewasa yang kita tahu telah mengalami banyak teror dan trauma di masa kecilnya. Penampilannya sebagai seorang alkoholik dengan hidup yang berantakan berhasil membuat kita prihatin sekaligus empati.

Namun di kala hidupnya kemudian dipenuhi oleh tindakan-tindakan pengorbanan, kita tahu bahwa Danny sejatinya tak benar-benar mewarisi sifat ayahnya secara total. Melainkan juga mewarisi sifat penyabar dan peduli yang kerap ditunjukkan oleh sang ibu. 

Danny Torrence seakan menjadi versi lain Jack Torrence andai saja ia tidak mengikuti sisi kelam yang berhasil dikeluarkannya di Overlook Hotel puluhan tahun silam.

Para anggota The True Knot (bustle.com)
Para anggota The True Knot (bustle.com)
Sementara di pertengahan, film lebih terfokus pada bonding time antara Danny dan Abra sekaligus memberikan gambaran bagaimana sepak terjang Rose The Hat dan True Knot dalam proses perburuannya. Di sini, nuansa horor seakan lenyap sesaat untuk kemudian digantikan dengan nuansa thriller bahkan action yang lebih kental kala ragam adegan 'jebakan pikiran' mewarnai fase ini.

Ya, fase inilah yang menjadi poin pembeda antara The Shining dan Doctor Sleep. Jika The Shining murni menghadirkan psikologis horor, maka Doctor Sleep menghadirkan sesuatu yang lebih kaya dari itu. Warna baru yang meningkatkan engagement serta excitement kita sebagai penonton ke level yang baru, sekaligus tetap mempertahankan kengerian psikologis yang menjadi benang merah film ini.

Rebecca Ferguson (empireonline.com)
Rebecca Ferguson (empireonline.com)
Pujian juga patut diberikan kepada Rebecca Ferguson(MI: Fallout, The Greatest Showman), yang berhasil menghidupkan karakter Rose The Hat dengan begitu apik. Sosoknya sebagai main villain yang cantik namun keji, dengan di satu sisi juga rapuh karena menyembunyikan rasa takutnya, tentu sangat layak untuk disandingkan dengan deretan villain legendaris lain di film horor.

Sementara di 1/3 akhir, barulah film ini memberikan sajian horor kental sekaligus fan service bagi para penggemar The Shining. Ya, teror yang pada akhirnya mengembalikan sang tokoh utama ke tempat yang begitu sakral dan dingin bernama Overlook Hotel, lengkap dengan teror hantu-hantunya yang begitu ikonik semisal perempuan di bak mandi kamar 237.

Di 1/3 akhir ini jugalah pada akhirnya kita benar-benar bisa merasakan aura mistis yang kerap ditunjukkan Mike Flanagan pada film-filmnya. Dengan permainan kamera yang menarik dari Michael Fimognari, setiap sudut Overlook Hotel yang direkonstruksi ulang namun kali ini jauh lebih mengerikan itu seakan mampu menciptakan nuansa intimidatif yang nyata. Persis dengan apa yang disajikannya pada The Haunting of Hill House.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x