Mohon tunggu...
Yonathan Christanto
Yonathan Christanto Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Movie Enthusiast | Music Lover | Kompasiana Awards 2018 Nominee for Best in Specific Category

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"The Peanut Butter Falcon", Perjalanan Menaklukkan Mimpi si Anak Down Syndrome

8 Oktober 2019   07:10 Diperbarui: 9 Oktober 2019   18:24 0 12 3 Mohon Tunggu...
"The Peanut Butter Falcon", Perjalanan Menaklukkan Mimpi si Anak Down Syndrome
The Peanut Butter Falcon (slashfilm.com)

Sehingga praktis, hal tersebut membuat film ini tampil dengan warnanya sendiri meskipun menggunakan tema yang juga pernah muncul pada film-film lainnya.

Hampir tidak ditemukan plotting adegan yang kurang ideal pada film ini. Baik tiap adegan yang bertujuan menyampaikan pesan kehidupan, adegan yang memunculkan momen haru ataupun seru, hingga adegan dengan punchline komedi yang mampu mengocok perut, semuanya mampu ditampilkan dalam posisi dan porsi yang pas. Sehingga atmosfer yang muncul kala menikmati film ini adalah atmosfer yang sama layaknya kita membaca novel petualangan dan perjalanan khas Mark Twain.

Thefilmstage.com
Thefilmstage.com
Semakin kuat kala tiap adegan berpadu dengan scoring yang indah garapan multi instrumentalis Zachary Dawes, pemain banjo Noam Pikelny, komposer Jonathan Sadoff dan pemain biola peraih Grammy Awards, Gabe Witcher. 

Kolaborasi keempatnya menghasilkan nuansa folk yang kental dengan sisipan sound modern yang memanjakan telinga. Menjadikan tiap musik latar yang ditampilkan begitu mengena dan menyatu sempurna pada tiap adegannya.

Apalagi kemudian ditambahkan dengan soundtrack menawan dari grup gospel RnB 70-an The Staple Singers, musisi folk legendaris Ola Belle Read hingga musisi folk modern Chance McCoy dan Parker Ainsworth. Tentunya deretan musik tersebut semakin memantapkan suasana buddy road movies yang menggugah di film ini.

Zack Gottsagen & Shia LaBeouf berdebat (clture.org)
Zack Gottsagen & Shia LaBeouf berdebat (clture.org)
Sementara dari sisi akting rasanya tidak ada yang mengecewakan. Shia jelas sangat meyakinkan sebagai seorang nelayan yang mengalami pahitnya kehidupan hingga kemudian belajar arti kebahagian dan nilai hidup yang lebih luas pasca bertemu Zak, seseorang yang tetap optimis dan memandang segala hal dengan positif meskipun memiliki banyak keterbatasan pada tubuhnya.

Tak hanya dengan Zack, bersama dengan Dakota Johnson pun Shia LaBeouf mampu menampilkan chemistry yang cukup apik. Membuat kita percaya bahwa dua insan ini memang betul-betul kasmaran meskipun masih saling menyembunyikan pada awalnya.

Pun Zack Gottsagen yang di dunia nyata memang seorang down syndrome, nyatanya mampu membuktikan bahwa keterbatasan tubuhnya bukanlah halangan untuk menggapai mimpi. Zack membuktikan bahwa nilai kehidupan yang dibawanya ke dalam film, adalah sebenar-benarnya dirinya di dunia nyata.

“People think that someone with Down can’t do things,” Zack says. “I want to prove them wrong. If they watch me in a movie, maybe they’ll think that they can do anything too. Maybe someone else with a disability will follow their dreams because of me." - People.com

Kekurangan film ini sendiri sejatinya hanya ada pada beberapa konflik yang nampak kurang greget penyelesaiannya termasuk beberapa konflik yang tampak tiba-tiba timbul kemudian tenggelam tanpa dijelaskan lebih lanjut. Tapi toh itu adalah minor flaws yang tidak memengaruhi jalan cerita. Karena fokus utamanya memang ke duet Zack dan Shia.

Comingsoon.net
Comingsoon.net
Pada akhirnya, The Peanut Butter Falcon adalah film tentang sebuah perjalanan menemukan kebahagiaan dan makna hidup yang lebih dalam. Sebuah mimpi Amerika, dimana setiap orang yang berada di dalamnya berlomba-lomba untuk meraihnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x