Mohon tunggu...
Yolan Sadewa Aditya Kusuma
Yolan Sadewa Aditya Kusuma Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Kampus Mengajar sebagai Solusi Krisis Pendidikan Dasar di Tengah Pandemi

26 Juni 2021   06:35 Diperbarui: 26 Juni 2021   06:41 214 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kampus Mengajar sebagai Solusi Krisis Pendidikan Dasar di Tengah Pandemi
Bersama teman-teman kampus mengajar ke dinas pendidikan (Dokpri)

Tulisan ini adalah sepenggal cerita dari perjalanan kami mahasiswa yang mengikuti program kampus mengajar Angkatan 1 tahun 2021. Khususya saya bersama rekan saya yang ditempatkan disekolah penugasan kami di SD Inpres Tanah Merah 2, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu yang dimulai 22 maret hingga 25 juni yang akan datang.

Program Kampus Mengajar merupakan bagian dari Kampus Merdeka yang mengajak mahasiswa di Indonesia untuk menjadi guru dan mengajar siswa-siswa Sekolah Dasar (SD) yang ada di wilayah 3T yakni terdepan, tertinggal dan terluar. Kegiatan ini menjadi peluang bagi mahasiswa untuk mengabdi di SD yang masi ber akreditasi C. apalagi ditengah pandemi saat ini, program ini benar-benar bermanfaat baik untuk menambah pengalaman mahasiswa ataupun untuk membantu berbagai kegiatan di SD yang selama ini begitu kesulitan ditengah pandemi.

Dalam program ini mahasiswa dapat berkolaborasi bersama guru-guru SD dalam menyelesaikan berbagai masalah dunia pendidikan ditengah pandemi. Harus diakui, tujuan program Kampus Mengajar ini sangat baik dan mulia. Apalagi dalam masa Pandemi Covid-19, proses belajar mengajar terutama di jenjang sekolah dasar nyaris lumpuh. Berdasarkan hal inilah saya berani mencoba mendaftarkan diri mengikuti program ini, apalagi saya sendiri yang berlatar belakang jurusan Pendidikan Sejarah di Universtas Negeri Malang (UM) membuat saya semakin yakin mengikuti program ini agar mengetahui berbagai macam masalah serta dapat membantu menyelesaikan masalah didunia pendidikan dasar, dan ditambah lagi program ini bisa menjadi pengalaman berharga buat saya.

Saat dinyatakan lulus program kampus mengajar angkatan 1 ini saya benar-benar bersyukur, apalagi ditempatkan di SDI Tanah Merah 2 yang tidak jauh dari rumah saya sekitar 10 km. pada hari-hari awal penugasan, saya langsung pergi ke kantor dinas pendidikan kabupaten bersama teman-teman kampus mengajar lainnya yang kami sendiri berbeda universitas. Total kami ada 20 peserta dari Kabupaten Belu yang akan disebar keseluruh plosok Kabupaten hingga wilayah perbatasan. Tujuan kami kedinas pendidikan untuk meminta surat izin penugasan ke SD sasaran, sehingga kegiatan kami dari awal hingga akhir dapat didukung pihak dinas pendidikan kabupaten.

Ketika saya mengikuti sosialisasi dan pembekalan program kampus mengajar benar saja masalah-masalah yang dihadapi dilapangan hampir semua terjadi mulai dari permasalahan adaptasi teknologi, administrasi, hingga yang paling cukup menantang adalah permasalahan kemampuan literasi dan numerisasi siswa-siswa yang sudah tertinggal. Semua permasalahan itu disebabkan masa pandemi yang memaksa pembelajaran di SD dilakukan secara terbatas, dari setiap kelas baik dari kelas 1 sampai 6 melakukan pembelajaran tatap muka 2 hari seminggu, diluar kegiatan itu telah dilarang pihak pemda dikarenakan wilayah Kabupaten Belu sudah memasuki zona merah bahaya covid 19.

Ketika permasalah itu benar-benar kami hadapi dilapangan kami harus memulai dari awal membantu guru mengajar dikelas. strategi mengajar kami adalah kami memfokuskan kepada siswa yang tertinggal dalam hal literasi dan numerisasi, dalam proses pembelajaran dikelas kami membimbing secara pribadi siswa yang tertinggal. Mulai dari abjad sederhana, kata per kata, hingga kaliamat-kalimat yang masi sederhana. Seperti salah satu kelas yang kami bantu yaitu kelas 3B terdapat 4 anak yang benar-benar kesusahan dalam hal literasi, dalam kasus ini kami juga memberikan materi khusus terhadap mereka sehingga nantinya dapat menyusul teman lainnnya.

Membantu membimbing siswa dalam hal kemampuan literasi  (Dokpri)
Membantu membimbing siswa dalam hal kemampuan literasi  (Dokpri)
Jujur ketika menghadapi masalah yang begitu sulit mengajar siswa yang tertinggal kami cukup kesulitan dan kebingungan, tetapi berbarengan dari itu kami juga bersemangat ketika esok harinya memasuki kelas siswa-siswa begitu antusias melihat kami kakak-kakak mahasiswa yang datang, mereka menganggap kami sebagai warna baru di lingkungan sekolah. Mungkin dengan adanya kami mereka lebih bersemangat belajar dikelas, dibuktikan ketika kami mengajar banyak sekali siswa yang mencari perhatian dengan selalu aktif bertanya. Demikian juga siswa-siswa yang tertinggal mereka sama sekali tidak minder, bahkan lebih semangat ketika belajar bersama kami. Dari situ menjadi titik harapan buat kami bahwa mereka ada kesempatan memperbaiki kemampuan literasi dengan adanya bantuan kami. Benar saja hingga akhir kegiatan kemampuan literasi mereka lebih berkembang, dibuktikan kemampuan membaca mereka meningkat ketika membaca soal-soal ujian dan tuntas menyelesaikan ujian.

Dalam program ini kami bukan saja membantu mengajar dikelas tetapi juga membantu administrasi sekolah dari membantu merancang RKAS hingga membantu membuat soal-soal ujian siswa. Kami juga membantu guru-guru bagaimana melakukan pembelajaran daring via zoom meeting. Tujuan kami mahasiswa kampus mengajar juga sebagai duta bagaimana menerapkan protokol kesehatan dilingkungan SD, ketika kami melihat lingkungan sekolaha masi begitu sedikit mensosialisasikan protokol kesehatan maka kami terus membantu mengingatkan bagaimana menerapkan 3M (Menjaga Jarak, Mencuci Tangan, Memakai Masker). Kami juga membuat poster protokol kesehatan agar mendukung kegiatan sosialisasi ini. Kami juga berinisiatif membantu sosialisasi penerimaan peserta didik baru melalui media sosial, sehingga pengumuman jadwal penerimaan siswa baru lebih mudah manjangkau semua kalangan.

Mahasiswa kampus mengajar sebagai duta disiplin protokol kesehatan  (Dokpri)
Mahasiswa kampus mengajar sebagai duta disiplin protokol kesehatan  (Dokpri)
Poster sosialisasi protokol kesehatan di lingkungan SD  (Dokpri)
Poster sosialisasi protokol kesehatan di lingkungan SD  (Dokpri)
Hingga akhir penutup kegiatan kami dan mulai memasuki libur sekolah, maka tanggal 19 Juni Kepsek mengadakan acara pelepasan kami mahasiswa kampus mengajar dan dua guru senior yang telah pensiun. Hingga akhir acara kami sangat bersyukur dan berterimakasih kepada seluruh keluar besar SDI Tanah Merah 2 yang telah menerima kami dan mendukung kegiatan-kegiatan kami di SD. Kepsek juga menyampaikan terimakasih kepada kami dan program ini, dengan adanya program ini guru lebih terbantu dan siswa lebih tertolong dalam proses pembelajaran di tengah pandemi.

Disela-sela akhir kegiatan pembelajaran bersama siswa-siswa kelas 3B  (Dokpri)
Disela-sela akhir kegiatan pembelajaran bersama siswa-siswa kelas 3B  (Dokpri)
Bersama Ibu cecilda dan rekan ibu guru lainnya  (Dokpri)
Bersama Ibu cecilda dan rekan ibu guru lainnya  (Dokpri)
Pelepasan mahasiswa kampus mengajar dan dua guru senior yang telah pensiun  (Dokpri)
Pelepasan mahasiswa kampus mengajar dan dua guru senior yang telah pensiun  (Dokpri)
Sebaggai catatan akhir dalam program ini saya sangat berterimakasih kepada Kemendikbud, Dinas Pendidikan Kabupaten Belu, keluarga besar SDI Tanaha Merah 2, Dosen Pembimbing Lapangan, dan Pihak Universitas Negeri Malang. Kegitan-kegitan kami dapat berjalan lancar berkat semua pihak yang mendukung. Dari sini saya mendapat pengalaman berharga yaitu dunia pendidikan memiliki tantangan yang benar-benar kompleks, apalagi ketika melihat langsung dilapangan. Semua itu tidak kita dapatkan dalam pembelajara di kampus, maka dari itu saya sangat bersyukur dan berterimakasih mendapat kesempatan mengikuti program kampus mengajar.

Atambua, 24 Juni 2021

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN