Mohon tunggu...
YOHANES IGO KELEN
YOHANES IGO KELEN Mohon Tunggu... Human Resources - Aktivis

Lahir dan besar di Larantuka, Flores, NTT. Kini bekerja di Yayasan Alfons Suwada, Keuskupan Agats menangani kusta.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Nasib Anak-anak Asmat

16 November 2020   16:59 Diperbarui: 16 November 2020   17:24 97
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Anak-anak di kampung Pupis, Asmat.Dokpri.

Ceritra tentang  anak-anak  di rimba Papua,  nyaris  tak  ada  yang elok dan menggembirakan  bila  diperhadapkan dengan  situasi 'terkini'  di luar tanah  Papua.

Publik  mungkin merasa  terkesima mendengar  atau  melihat segelintir pembangunan  dan  perkembangan yang terjadi  di  beberapa  titik / wilayah Papua.  Namun  Situasi  itu  tidak bisa  mewakili semua  wilayah di  tanah  Papua.

Jika kita  berjalan lebih jauh ke kampung-kampung  di pedalaman maka serentak itu pula pikiran dan perasaan kita  akan melahirkan sejumlah  pertanyaan yang 'menggugat'...mengapa, bagaimana, kok bisa...?  Dan  mumgkin   sejumlah  kata tanya  dan pernyataan lainnya. 

Kita  tidak  bisa  pungkiri realitas  yang terjadi saat ini  yang tengah  menderah  anak-anak  di rimba   Papua.  Mulai  dari  masalah  pendidikan, kesehatan, Ketahanan  pangan   sampai  dengan  masalah pembangunan infrastruktur, media informasi  dan  komunikasi serta  transportasi.

Masalah  Transportasi  dan  media  komunikasi  menjadi  sebuah persoalan  besar  yang telah banyak  mengorbankan  banyak  jiwa.  Karena  banyak  pasien  yang tak bisa  tertolong.

Sudah banyak  terjadi  kasusu para  ibu  yang gagal  partus  dan mengorbankan   nyawa  bayi  atau  nyawa sang ibunya  sendiri yang menjadi korbannya.  Hal itu  disebabkan oleh  karena jarak tempuh hampir sehari  dengan  menggunakan alat   transportasi    perahu  dayung atau *perahu mesin katinting   dari kampung ke pusat  pelayanan  kesehatan (Puskesmas di pusat Distrik).  

Di sisi  lain, banyak masyarakat   yang menderita  penyakit  kronis  seperti :  Kusta, penyakit  Kulit bersisik, TBC, malaria dan masalah   gizi  buruk yang  memicu  kematian  bayi dengan  angka  yang cukup tinggi. 

 Sementara  itu  dibidang pendidikan,  masalah   kekurangan  guru/tenaga  pendidik menjadi  bahasa  klise  dalam usaha  menggejot  SDM anak-anak di rimba ini.  Namun  sering kali alasan ini  kurang  pas jika ada  sejumlah  guru/tenaga  pendidik yang  tidak betah untuk  tinggal di kampung-kampung bahkan sering  membuat  'jadwal libur sendiri' di kota atau  pulang kampung di luar tempat  tugasnya  dalam  waktu  yang lama.  

Masalah pendidikan  di Papua  menjadi sebuah persoalan  serius   dan harus  ditangani secara  serius pula.  Kita   tidak  bisa  mengukur  perkembangan  pendidikan  di Papua   hanya memotret di ibu kota  propinsi   atau  kabupaten tertentu  saja.  Maka  mari kita  melihat situasi pendidikan    untuk anak-anak Pupua  secara menyeluruh. 

Membedah   sebuah  persoalan   yang dihadapi  oleh  anak-anak  di rimba  Papua  tidak  bisa    hanya   dari satu  sisi saja.  Kita  harus  peka untuk   melihat   dan  secara  kritis  pula membedahnya  secara menyeluruh dan komprehensif. 

Dibalik semua   situasi  yang  memprihatinkan  ini  hanya  ada   satu  kata  kunci  yakni  Komitmen  dan Keberpihakan   dalam usaha  membantu anak-anak di rimba  ini. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun