Kotak Suara

Pidato Kosong Megawati untuk Memenangkan Ahok-Djarot

16 Maret 2017   12:39 Diperbarui: 16 Maret 2017   12:51 827 7 8
Pidato Kosong Megawati untuk Memenangkan Ahok-Djarot
Sumber: Tribunnews.com

Ada yang lucu ketika Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri berkunjung ke Rumah Pemenangan Ahok di Rumah Lembang. Dalam Pidato pengarahannya kepada para relawan, Megawati sedikit bercerita mengenai kekalahannya dalam Pilpres 2004 atas duet Soesilo Bambang Yudoyono-Jusuf Kalla.

Menurut Megawati, masyarakat keliru memilih pemimpin baru saat itu, sebab beliau merasa seharusnya masyarakat memilih pemimpin yang sudah bekerja. Masyarakat seharusnya memberikan kesempatan bagi pemimpin yang sedang menjabat untuk melanjutkan kebijakan atau pekerjaannya yang belum rampung. Tentu saja, hal ini mengacu pada posisinya yang sebagai calon petahana saat itu. Bahwa seharusnya masyarakat memberikannya kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan yang telah ia jalankan ketika menjadi presiden. Bagi Megawati, memilih pemerintah tidak boleh coba-coba. Berilah kesempatan lagi bagi penguasa yang sebelumnya memimpin untuk meneruskan program-programnya supaya pembangunan berlanjut hingga selesai.

Dengan menyebutkan kisah pilunya sebagai calon preseiden yang gagal dipilih kembali, Megawati ingin mendorong kepada para relawan dan masyarakat untuk memilih pemimpin Jakarta yang menurutnya sudah bekerja, yakni Ahok-Djarot. Megawati memang benar bahwa Ahok-Djarot sudah bekerja, dan tidak ada yang mewah dari kenyataan tersebut, karena Ahok-Djarot memang telah diberi amanah oleh masyarakat Jakarta untuk menjadi gubernur-wakil gubernur, tapi sayangnya masih banyak yang tidak dikerjakan oleh mereka.

Logika yang dibangun oleh Megawati sebenarnya menyesatkan dan alasan yang mengada-ngada. Jika pemimpin yang sudah menjabat lebih baik dari pada yang baru, maka lebih baik kita tidak melaksanakan pemilihan. Pemilihan pemimpin pemerintahan secara priodik dalam rentang waktu lima tahun dimaksudkan supaya masyarakat diberi kesempatan untuk memilih pemimpin baru, yang menurut masyarakat mungkin lebih baik dari pemimpin yang sebelumnya.

Sebaliknya, daripada mempertahankan pemimpin petahana yang kinerjanya masih banyak yang tidak memuaskan, maka masyarakat seharusnya memilih pemimpin baru, yang akan membawa harapan baru bagi perbaikan kehidupan masyarakat. Pemimpin baru artinya ada kebijakan yang dilanjutkan dan diperbaharui, ada suasana kepemimpinan yang baru dan lebih progressif, ada program yang dilanjutkan dan ditambah.

Itulah fungsi pemimpin baru dalam pemerintahan. Kehadiran pemimpin baru justru akan memperbaiki berbagai sektor yang mandeg di bawah kepemimpinan yang lama. Jika Megawati berkata bahwa memilih pemimpin tidak boleh coba-coba, begitu juga tidak boleh melanjutkan pemimpin yang tidak bisa mewujudkan harapan rakyat. Justru lebih berbahaya membiarkan pemimpin yang tidak peduli kepada rakyat mendapatkan kesempatan untuk menduduki jabatan sebagai pemimpin rakyat.