Mohon tunggu...
Yoga PS
Yoga PS Mohon Tunggu... Buruh - Laki-laki yang ingin mati di pagi hari :)

Laki-laki yang ingin mati di pagi hari :)

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Keheningan, Kedamaian, Keramaian

16 Juli 2011   05:04 Diperbarui: 26 Juni 2015   03:38 525 1 6
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Para pencari sesuatu yang sejati selalu mencintai sepi. Mereka mendambakan kedamaian dalam keheningan. Menolak segala bentuk kegaduhan, keramaian, dan kemegahan hiruk-pikuk kehidupan. Dunia dipandang sebagai permainan yang penuh kepalsuan. Kefanaan yang penuh nafsu dan harus dihinakan.

Maka sejarah mencatat para pencerah yang memulai dari keheningan. Seperti Musa yang pergi ke gunung Sinai, atau Muhammad yang mendapat wahyu di gua hira. Juga kaum sufi dan pertapa shramana yang terus berkelana. Mencari Ia yang utama.

Tapi, apakah pencerahan hanya bisa diperoleh dalam keheningan? Dalam magnum opus Kuntowijoyo Dilarang Mencintai Bunga-Bunga diceritakan pertentangan batin seorang anak. Ia berkawan dengan seorang kakek tua yang mencintai kedamaian. Lewat bunga.


...Hidup harus penuh dengan bunga-bunga. Bunga tumbuh, tidak peduli hiruk-pikuk dunia. Ia mekar. Memberikan kesegaran, keremajaan, keindahan. Hidup adalah bunga-bunga. Aku dan kau salah satu bunga...

...Bunga-bunga di atas air ini melambangkan ketenteraman, ketenangan dan keteguhan jiwa. Di luar matahari membakar. Hilir mudik kendaraan. Orang berjalan kesana kemari memburu waktu. Pabrik-pabrik berdentang. Mesin berputar. Di pasar orang bertengkar tentang harga. Tukang copet memainkan tangannya. Pemimpin meneriakkan semboyan kosong. Anak-anak bertengkar berebut layang-layang.

Apakah artinya semua itu, Cucu? Mereka menipu diri sendiri. Hidup ditemukan dalam ketenangan. Bukan dalam hiruk pikuk dunia. Tataplah bunga-bunga diatas air itu. Hawa dingin menyejuk hatimu. Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu, siapakah dirimu. Katakanlah, apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin, Cucu?"...

Tapi sang Ayah bersikap sebaliknya. Baginya kebahagiaan ada dalam kerja-kerja dunia. Peduli setan dengan bunga-kedamaian-keindahan. Ia memecahkan vas bunga sang anak. Membuang bunga yang dikantongi buyung ke tempat sampah, melarangnya menemui si kakek, dan menyuruh anaknya bekerja di bengkel. Suatu ketika, sang anak bertanya,


"Ayah, kenapa tidak mencari hidup sempurna?"

"Ya, Aku mencari itu, Buyung."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan