Mohon tunggu...
Yeni Kartikasari
Yeni Kartikasari Mohon Tunggu... Freelancer - Mahasiswa

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Implementasi Pendidikan Karakter untuk Mewujudkan Generasi Harapan Bangsa

19 November 2019   22:07 Diperbarui: 19 November 2019   22:18 491
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Berbicara mengenai pendidikan, pendidikan bukan sekadar sekolah, pendidikan bukan sekadar pembelajaran dan penyampaian ilmu pengetahuan. Pendidikan adalah soal peningkatan kualitas dan kuantitas seseorang sekaligus penanaman jiwa dan moral. Sebab moral adalah kunci utama sebuah kesuksesan, dengan moral yang baik seseorang tentu mempunyai karakter yang baik, begitu pula sebaliknya. Menurut pakar psikologi Dr. Rosemini mengatakan bahwa keberhasilan hidup seseorang 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosionalnya dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otaknya.

Tetapi sangat disayangkan ketika banyak elemen sekolah yang kurang memahami hal tersebut. Sehingga kenakalan remaja lagi-lagi mencoreng wajah pendidikan di Indonesia. Terbukti ketika kita sering menemui krisis moral yang melanda negara. Maraknya kasus pergaulan bebas,tawuran, dan narkoba serta dekadansi moral lain, banyak dilakukan oleh kaum terpelajar membuat masyarakat semakin resah. Ditambah dengan derasnya arus negatif globalisasi yang membuat para pelajar menjadi lengah, memudahkan segala hal, dan ingin sesuatu yang serba cepat, namun kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar semakin berkurang.

Sungguh ironi, hal seperti ini masih saja terjadi disaat Indonesia telah memiliki banyak tempat pendidikan yang di dalamnya sudah mencanangkan program pendidikan karakter. Lantas hal ini menimbulkan pertanyaan besar. Dimana letak kesalahannya? Kesalahan utamanya terletak pada penerapan, yakni ketika banyak sekolah telah menjadikan pendidikan karakter sebagai mata pelajaran padahal sejatinya, pendidikan karakter adalah sebuah program. Sebagai program, pendidikan karakter semestinya merasuki, mewarnai, dan menjiwai seluruh komponen dan istrumen pendidikan yang ada di sekolah.

Seperti halnya sudah tertulis dalam pasal 31 ayat 3 Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang menyatakan bahwa "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu Sistem Pendidikan Nasional, yang menguatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang di atur dalam Undang Undang."

Sudah jelas disini, bahwa keimanan dan ketakwaan adalah hal utama yang harus diterapkan dalam pendidikan karakter di Indonesia, memang benar bahwa menanamkan karakter tidak mudah karena, semua orang memiliki latar belakang yang berbeda. Maka dari itu, semua sekolah wajib berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan pendidikan karakter dengan cara yang benar. Bukan sekadar teori semata, tetapi juga melalui praktek dan hasil yang nyata.

Untuk mewujudkan implementasi pendidikan karakter kita perlu kunci yang bernama kesadaran, kesadaran semua pihak tentunya. Terlebih bagi pendidik yang telah diberi amanah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yang sebelumnya telah berjanji untuk mengabdi pada negara. Maka seharusnya kesadaran harus muncul bahwa anak bangsa sedang membutuhkan asumsi akhlak yang banyak. Oleh karena itu, pendidikan harus di terapkan dengan baik dan benar, bukan sekadar mentransfer ilmu dari buku, tetapi juga merubah masa depan peserta didik menjadi lebih terarah.

Dalam penerapan pendidikan karakter, hal pertama yang harus dilakukan sekolah adalah mengadakan sosialisasi antar warga sekolah bersama wali murid. Dalam sosialisasi tersebut, kita beri pengarahan kepada wali murid tentang karakter inti yang akan dibangun, semisal soal kedisiplinan dan tanggung jawab, lalu kita adakan kerja sama dengan mereka untuk saling membina dan mengawasi anak anak supaya karakter yang dibangun bisa tertanam dalam diri mereka. Sebab tanpa adanya hubungan yang erat dalam semua pihak, pendidikan karakter tidak akan berjalan dengan maksimal.

Upaya yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah melalui pendekatan. Kita rangkul peserta didik, kita ringankan beban mereka tentang bagaimana cara mendapatkan nilai yang tinggi, kita bersihkan hati mereka, dan kita jernihkan fikiran mereka. Baru ketika hati dan fikiran mereka sudah bersih dan jernih, kita tanamkan jiwa jiwa nasionalisme dan patriotisme untuk menanamkan arti pendidikan yang sesungguhnya karena dengan seperti itu, kehidupan anak bangsa akan semakin terarah dan menuju masa depan yang lebih cemerlang.

Tetapi jangan sampai lupa, bahwa pendidikan karakter yang kita tanamkan harus sesuai dengan nilai-nilai pancasila karena, melalui pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur pancasila, peserta didik akan mampu memahami hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara yang cinta kepada tanah air.

Seperti dalam sila pertama "Ketuhanan Yang Maha Esa"

Pendidikan karakter harus mengajarkan arti kehidupan yang seutuhnya, dimana kita harus bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, membina kerukunan dan saling menghormti antar umat beragama (toleransi). Pada sila pertama ini, bisa diimplementasikan dengan cara praktik kegiatan keagamaan yang bisa dilakukan setiap hari, misalnya mengadakan kultum (Kuliah tujuh menit) setiap pagi dan melaksanakan shalat berjamaah bagi yang beragama islam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun