Yasintus Ariman
Yasintus Ariman Pendidik & Pengajar

menyuarakan kebenaran tanpa bernuansa sara

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Membina Diri dengan Menulis

13 Maret 2017   11:23 Diperbarui: 13 Maret 2017   11:46 297 11 5

Menulis merupakan seni merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat dan kalimat yang berisi ide atau gagasan. Ide atau gagasan tentu saja dibangun oleh kesadaran akan adanya “sesuatu” yang muncul dari dalam diri maupun dari luar diri. “Sesuatu” yang muncul dari dalam diri antara lain berupa kenyataan-kenyataan yang dialami dan dirasakan secara pribadi. Sedangkan sesuatu yang muncul dari luar diri antara lain berupa fakta atau obyek yang dilihat. Nurjamal dalam Sumirat Darwis (2011:69) mengemukakan bahwa menulis sebagai sebuah keterampilan berbahasa adalah kemampuan seseorang dalam mengemukakan gagasan, perasaan, dan pemikiran-pemikirannya kepada orang atau pihak lain dengan menggunakan media tulisan.

Dengan demikian, menulis selalu dimengerti sebagai kegiatan mengungkapkan kenyataan atau fakta yang diketahui oleh penulis. Dan, selalu dipastikan bahwa seorang penulis menulis "sesuatu" yang dia ketahui. Dan karenanya, penulis mesti memiliki wawasan dan pemahaman yang mendalam tentang “sesuatu. Hal itu bisa dimungkinkan melalui proses belajar. Mengasah kesanggupan menulis melalui proses belajar yang terencana dan terstruktur hanya ada dalam lembaga pendidikan. Itu berarti idealnya pendidikan harus bisa mengarahkan peserta didiknya (para remaja) untuk dapat menulis.

Melalui kegiatan menulis karakter para remaja dapat dibentuk, antara lain mengolah rasa dan kemandirian berpikir. Karena itu tulisan ini hanyalah suatu ajakan bagi para remaja agar mengisi waktunya dengan kegiatan yang bermanfaat, salah satunya adalah menulis.

Mengolah Perasaan

Menulis sebagai kegiatan mengolah rasa berarti penulis melalui bahasa tulisan mengungkapkan apa yang dirasakannya. Hal yang dirasakan itu berkaitan dengan perasaan atau emosi yang muncul dari dalam diri, antara lain gembira, senang, suka, duka, benci, jengkel, marah. Semua perasaan ini kalau tidak diolah secara benar akan menimbulkan ketidak seimbangan karakter. Misalnya kalau seseorang yang sedang mengalami kegembiraan yang meluap-luap, dia bisa terlena dan larut dalam kegembiraan tanpa memikirkan lagi aktivitas lain yang lebih bermafaat. Atau pun yang mengalami kesedihan, dia bisa patah semangat dan seakan kesuksesan tertutup baginya. Perasaan atau luapan emosi yang muncul dari dalam diri mesti diselidiki dan diolah sedemikian rupa demi suatu kebaikan.  

Sebagai remaja, kalian tentu mempunyai pengalaman dalam hidup, entah itu di rumah, di lingkungan sosial kemasyarakatan dan di lingkungan sekolah. Dalam lingkungan keluarga ia bisa saja menghadapi persoalan rumah tangga, misalnya keluarga broken home. Dalam lingkungan sosial kemasyarakatan anda berhadapan dengan persoalan sosial sperti kelompok remaja yang suka minuman keras (miras), rokok, narkoba sampai pada pergaulan bebas. Di lingkungan sekolah, ada pergaulan dengan teman-teman yang sebaya, membuat anda mengalami apa yang namanya jatuh cinta, fall in love. Semua persoalan yang dialami dan dirasakan tersebut jika tidak dikelola dengan baik maka anda akan gampang stres dan patah semangat dalam belajar.

Cara menyelidiki setiap rasa yang dialami yaitu melalui pertanyaan, antara lain mengapa saya merasa sedih, mengapa saya mersasa gembira, mengapa saya tiba-tiba marah dan apa yang mesti saya lakukan kalau saya benar-benar merasa senang, sedih, dan marah. Pertanyaan tersebut tentu saja ditujukan kepada diri sendiri dan bukannya kepada orang lain. Semua yang dirasakan tersebut diungkapkan melalui tulisan. Disinilah awal anda menjadi seorang penulis. Jadi, mulailah menulis dari hal-hal yang anda alami dan rasakan.


 Mandiri dalam Berpikir

Anda sebagai remaja pada tingkat sekolah menengah, pada umumnya belum mampu berpikir mandiri. Anda masih cenderung memiliki ketergantungan penuh pada pihak orangtua/wali dan pihak sekolah. kecenderungan seperti akan tampak dalam sikapnya yang malas tahu atau tidak peduli dengan persiapan masa depannya sendiri, dalam hal ini belajar. para remaja juga kadang enggan memiliki inisiatif sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik guna menunjang proses pertumbuhan dalam belajar.

Kenyataan seperti ini jika tidak disiasati dengan baik maka akan menghasilkan generasi yang mental enak, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, serta merebaknya budaya korupsi di masa depan. Hal-hal seperti ini sama sekali tidak diharapkan dari sebuah generasi. Lantas bagaimana agar hal tersebut tidak terjadi? Lagi-lagi, sekolah atau lembaga pendidikan (formal dan nonformal) menjadi wadah yang paling tampan untuk membentuk diri anda agar mandiri dalam berpikir. Artinya,  mampu menciptakan hal baru dari hasil pikiran sendiri. 

Bagaimana hal tersebut bisa dimungkinkan? Ya, cuma ada satu seruan; “mulailah menulis!”. Dengan berlatih menulis anda para remaja usia sekolah akan bertumbuh cerdas dengan mengetahui alur pemikiran sendiri tentang masalah yang dihadapi. Anda tidak lagi bertindak sebagai obyek atau penonton yang pasif, melainkan ikut melibatkan diri dalam memikirkan pemecahan aneka persoalan yang dihadapi. Tentu saja persoalan yang relevan dengan kehidupan sebagai seorang remaja-pelajar.

Melalui kegiatan menulis, para remaja diharapkan bisa menjadi calon pemikir yang cerdas dan berwawasan. Melaluinya anda dilatih untuk kritis terhadap berbagai fenomena global yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Kegiatan menulis pada akhirnya akan mengarahkan anda, para remaja untuk tidak hanya berfokus pada keinginan diri semata melainkan menjadi lebih terbuka untuk melihat kenyataan yang ada di luar diri.


 Secercah Harapan

Aktivitas menulis memungkinkan orang terkhusus para remaja untuk mengolah rasa dalam diri sekaligus membuatnya sanggup berpikir mandiri. Tentu saja ini menjadi secercah harapan akan teciptanya generasi yang benar-benar bermutu, berguna bagi kehidupan bangsa dan negara di masa mendatang.