Mohon tunggu...
Yuanita AprilandiniSiregar
Yuanita AprilandiniSiregar Mohon Tunggu... Dosen Sosiologi UNJ

Dosen Sosiologi UNJ

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pelatihan Gender untuk Remaja Putri Al Irsyad Jakarta

16 Desember 2019   15:13 Diperbarui: 16 Desember 2019   15:18 26 0 0 Mohon Tunggu...

Program pelatihan "Menumbuhkan dan Meningkatkan Sensitivitas dan Keadilan Gender" dilakukan oleh Program studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Uiversitas  Negeri Jakarta pada hari Minggu 13 Oktober 2019 bertempat di kantor cabang Al Irsyad Al Islamiyyah Jakarta Timur. Kegiatan Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman, kesadaran dan sikap kritis kepada perempuan peranakan Arab,   serta mensosialisasikan nilai-nilai kesetaraaan dan keadilan gender di dalam organisasi Al Irsyad. Narasumber dari pelatihan ini ada dua orang yakni Dr. Yuanita Aprilandini Siregar, M.Si untuk pemateri kajian sosiologi gender dan etnisitas, serta Ubedillah Badrun, M.Si sebagai pemateri kajian perempuan dan politik. Pelatihan ini menggunakan empat metode , yakni Ceramah, Bedah Film,  Diskusi dan Tanya Jawab.

Pada kegiatan pelatihan, materi dari ibu Dr Yuanita memberikan pengertian dan perbedaan antara gender dengan jenis kelamin (seks), bagaimana perempuan harus bersikap kritis untuk mengubah kultur patriarki di dalam organisasi Al Irsyad dan keluarga peranakan Arab. Sedangkan materi pak Ubedillah menekankan pentingnya kaum perempuan untuk berkiprah dan menjadi pemimpin di dalam organisasi, termasuk di dalamnya perempuan peranakan Arab mau terjun di dalam politik praktis demi  menyuarakan kepentingan kaum perempuan.  

Setelah selesai sesi pemateri masuk dalam sesi diskusi dan tanya jawab, terdapat beberapa pertanyaan dari peserta pelatihan untuk kedua narasumber yang dipandu oleh moderator dari keputrian Al Irsyad. Dalam sesi ini ada seorang ibu yang bertanya kepada pemateri bagaimana mengenalkan konstruksi gender ini kepada anggota keluarga. Ini merupakan pertanyaan yang menarik, mengingat konteks keluarga peranakan Arab sangat kental nuansa budaya patriarki berbalut agama. Ibu Dr. Yuanita mejawab bahwa konstruksi gender harus diperkenalkan oleh ibu (ummi) sebagai pilar utama pendidik dalam rumah tangga. Sosok ummi merupakan agen sosialisasi primer untuk mendidik anak-anak mereka. Ditangan merekalah anak-anak tertanan nilai dan norma sosial. Dan hal ini bias diubah melalui pendekatan antara ibu dengan anaknya. Konstruksi gender harus diubah, melalui penanaman nilai dan norma sejak kecil kepada anak-anak melalui didikan para ummi dirumah.

Pertanyaan berikutnya ditujukan untuk pemateri kedua, yakni pak Ubedillah. Bagaimana kalau suami tidak mengijinkan istrinya berpolitik, serta bagaimana tata cara nyaleg sebagai perwakilan daerah atau propinsi? Terkait pertanyaan pertama, pak Ubedillah menjawab bahwa para istri bisa membujuk pelan-pelan para suami ketika keadaan tenang dan santai dengan menguatarakan keinginannya utk nyaleg, karena suami biasanya luluh jika dibujuk oleh istri. Bagi peserta yg memiliki minat pada bidang politik praktis, pak Ubedillah memberikan nomor kontaknya sekaligus akun instagramnya yakni ubedillah_official yg khusus memposting isu-isu terkini bidang sosial dan politik di tingkat nasional. Di dalam kontennya tersebut juga ada misi berpolitik secara baik dan benar, sebagai tanggung jawab moral pak Ubedillah sebagai seorang dosen sekaligus pendidik. Masyarakat perlu pendidikan politik praktis, supaya ia menyadari konstituen yg diwakilinya, termasuk kaum perempuan yang ingin aktif berpolitik. Mengenai tata cara nyaleg, pak Ubedlillah menjawab bahwa sudah dibuat UU tetnang pemilihan DPRD dan DPR bisa diunduh dari internet. Tapi beliau terbuka untuk konsultasi jika peserta pelatihan berminat untuk berdiskusi tentang politik praktis via instagram ubedillah_official tersebut

Karakteristik Peserta Pelatihan 

 Peserta pelatihan terdiri dari 19 orang, mayoritas termasuk generasi milenial karena berusia 15-20 tahun. Peserta pelatihan memiliki latar belakang pendidikan terbanyak SMU sederajat, diikuti D3/S1. Diharapkan generasi milenial perempuan peranakan arab setelah mendapatkan pelatihan ini dapat melakukan perubahan di lingkungan keluarga, sekolah/kampus, dan kantor. Pelatihan ini menjadi strategis karena diikuti calon ibu, pemimpin dan tokoh perempuan arab Al Irsyad Al Islamiah Jakarta.

Berdasarkan angket yg diedarkan para peserta menilai sangat baik kedua narasumber. Hal ini disebabkan karena model pelatihan yang bersifat dialg interaktif, dua arah, megguakan audio visual serta mendatangkan ahli yang sesuai dengan kompetensi materi yg diberikan, yakni Dr Yuanita ahli gender dan identitas etnik, serta bapak Ubedillah Badrun, M.Si ahli sosiologi politik. Mayoritas peserta juga sangat tertarik terhadap materi pgender, feminism islam, kekerasan perempuan dan politik perempuan. Para peserta sangat tertarik pada materi gender dan feminism islam karena isu tentang perempuan sangat berhubungan dengan keseharian responden. Hal tersebut juga terlihat dari pertanyaan yang diajukan seputar isu perempuan dan islam ketika diberikan waktu untuk sesi tanya jawab oleh moderator diskusi.

 Kebermafaatan dan Keberlanjutan Pelatihan

 Mayoritas peserta pelatihan memberikan repson yang positif terhadap pelatihan ini. Kebanyakan dari mereka berpendapat bahwa pelatihan gender membuat mereka paham perbdeaan gender dengan jenis kelamin, bagaimana seharusnya perempuan berkiprah di raah publik, serta megetahui isu dan permasalahan kontemporer kaum permepuan, isu sosial dan politik di masyarakat, serta kiat-kiat berpolitik praktis bagi kaum perempuan.

Tindak lanjut dari pengadaan pelatihan adalah praktek di lapangan. Mayoritas peserta menjawab aka menerapkan pelatihan tersebut di dalam lingkup keluarga, pertemanan dan kantornya. Semoga dapat terjadi perubahan dalam hal cara berpikir kaum perempuan peranakan arab al Irsyad, sehingga mereka bisa menjadi agen perubahan di dalam lingkup keluarga, komunitas dan masyarakatnya. Diharapkan kegiatan pelatihan sejenis dilakukan lagi mengingat urgensi materi yg diberikan tetapi dibalut dengan kegiatan atau program yang khas ibu-ibu da kaum perempua yakni praktek masak atau keterampilan hena. Hal ini akan menarik banyak peserta untuk hadir dalam acara pelatihan selanjutnya. Para peserta menginginkan bentuk acara pelatihan yang lebih bersifat guyub dan kekeluargaan, sehingga terjalin komunikasi dan interaksi yang lebih cair dengan para narasumber. Selain itu, praktek memasak, merias hena, menjahit merupakan bagian dari program pemberdayaan perempuan Al Irsyad, sehingga mereka bisa mandiri secara ekonomi.

VIDEO PILIHAN