Mohon tunggu...
Budiyanti
Budiyanti Mohon Tunggu... Guru - Seorang guru di Kabupaten Semarang yang gemar menulis di usia senja. Menulis adalah jejak hidup. Menulislah agar hidup bermakna.

Guru dan pegiat literasi

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Ridho Orangtua

6 Oktober 2022   18:33 Diperbarui: 6 Oktober 2022   18:40 90 17 11
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Usai dari Masjid, anak Ragil menemuiku. Sebenarnya ingin bertemu dengan Bapaknya juga, tetapi bapaknya masih ada rapat di masjid. 

"Ibuk, saya mau cerita nih." Anakku mengawali pembicaraan.

"Apa sih kok membuat Ibuk deg-degan?" tanyaku agak penasaran. 

"Alhamdulillah ada kabar dari Pak Budi kalau kiosnya boleh disewa satu tahun. Mohon pertimbangan Ibuk dan Bapak," ucapnya pelan.

"Alhamdulillah, berarti ini rejekimu, jawab saja dengan Iya," saranku selanjutnya. 

Perasaan bahagia menyelimuti  kami selaku orangtua. Penantian dan impian kami selama ini terwujud. Impian untuk mengembangkan usaha diridhoi Allah. Awalnya ada tulisan kios untuk disewa. Pemilik minta disewa selama dua tahun. Tentu saja hal ini sangat berat. Karena tidak boleh, kami melangkah ke tempat lain.  

Kami bersama-sama mencari tempat usaha di lain tempat. Tak berapa lama ada info di daerah lain.  Kami pun bersama-sama menemui yang punya. Ternyata tak juga bisa karena tak sesuai dengan anggaran. Anak pun pasrah mungkin belum waktunya untuk mengembangkan usaha baru. Dia fokus yang satu dan tidak begitu ngebet yang satunya. 

Selang satu bulan , ada informasi ini. Tentu saja ini amat membahagiakan kami. Kalau sudah rejeki memang tak akan ke lainnya. 

"Mohon doanya bapak ibu untuk memulai usaha ini, semoga sukses dan membawa keberkahan," ucap anak yang lulusan sarjana pendidikan. 

"Bismillah, semoga sukses dan membawa keberkahan keluarga, jangan lupa untuk bersedekah. Sisihkan rejekimu untuk orang lain," pesanku diiringi doa.

Anak pun mencium tangan kami. Kami bahagia. Alhamdulillah bisa merestui langkah anak untuk berusaha lebih baik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan