Kuliner Artikel Utama

Bilur Bubur Cianjur

9 Juli 2018   11:33 Diperbarui: 11 Juli 2018   01:30 2328 4 0
Bilur Bubur Cianjur
Foto: Tribunnews.com

Perang menghadirkan hal-hal tak diundang yang tidak disukai siapapun. Kesengsaraan adalah salah satunya. Kesengsaraan, tanpa melihat umur, jenis kelamin, ataupun dimana tinggal, menghimpit nyawa dalam bentuk penyakit dan tidak adanya makanan. 

Kombinasi ini menyebabkan warga negara yang ringkih, yakni anak-anak, meninggal pada usia sebelum mereka sendiri sadar bahwa mereka adalah anak-anak yang berhak menikmati masa kanak-kanaknya dengan bermain, dan menghirup udara segar kekanakan.

Indonesia didera derita akibat perang yang menyebabkan para orangtua kehilangan kata-kata untuk menggambarkan kesedihan sekaligus keperihan yang harus ditanggung dirinya sebagai orang tua juga anak-anaknya sebagai buah dari cintanya. 

Perang yang menghadirkan derita adalah pada masa 'saudara tua' dari negara matahari terbit tiba di bumi pertiwi yang telah lelah dengan janji palsu dari Belanda. 

Penjajahan Jepang yang tidak lebih dari tiga setengah tahun, meninggalkan lebih banyak luka dan darah bagi rakyat biasa hampir di seluruh Indonesia, termasuk kota kecil yang terlihat hampir memiliki potensi perlawanan yang hebat karena seluruh rakyatnya hanyalah petani yang kesehariannya hanya bersentuhan dengan tanah dan mencurahkan semua cintanya pada tanaman yang dibesarkannya. 

Penduduk Cianjur dominan petani, penanam padi. Dengan kata lain, masyarakat Cianjur tidak memiliki pengetahuan melawan kezaliman penjajah dengan adu fisik dan menumpahkan darah di atas tanah kerontang akibat musim kering berkepanjangan.

Perang Dunia II yang hebat, kecamuknya membuat rakyat Cianjur menjadi papa. Semua harta, apapun bentuknya, diangkut oleh Jepang dengan alasan untuk membangun Persemakmuran Bersama Asia Timur Raya. 

Kebrutalan tentara Jepang dalam menyita apapun yang dimiliki rakyat (termasuk anak perempuan) mengakibatkan rakyat Cianjur tidak memiliki apapun selain tulang dibungkus baju karung goni berkutu. 

Masa paceklik tak berkesudahan hadir digemilangkan dengan masa pagebug (penyakit cacar) tiba. Kedua kondisi ini disebut "Zaman Korod."  Korod itu sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menamai hantu kematian yang kejam yang mencabuti nyawa tanpa belas apalagi kasih. 

Zaman Korod adalah zaman dimana malakal maut itu terlihat bayangannya dan hampir semua orang bisa tahu kapan dia mengambil nyawa. Kematian yang begitu menakutkan dan begitu nyata.

Petani lazimnya memiliki beras, tapi tidak demikian pada masa pendudukan Jepang. Semua beras diangkut. Rakyat Cianjur yang terkenal dengan kekayaan padinya, terpaksa mengubah menu makanan pokoknya. Mulai berpindah dari beras menjadi gaplek yaitu singkong yang dikeringkan. 

Perlahan namun pasti, singkong tidak bisa tumbuh karena hujan tidak lagi turun. Sebagian rakyat yang sangat lapar membabat pohon apapun yang masih berdiri. Pohon pisang, pohon kelapa, pohon enau, dikuliti dan diambil bagian tengahnya dan dimakan sekadar untuk mengganjal perut yang telah kembung karena kelaparan. Bisa menikmati makan nasi seminggu sekali menjadi kemewahan termahal yang jarang ditemui oleh rakyat yang hampir semuanya menjadi melarat.

Kemiskinan membuat rakyat Cianjur sanggup memakan apapun. Nasi campur gaplek, nasi campur jagung, pepes dedak, humbut (bagian dalam) pisang, humbut enau, kelapa, bahkan humbut pohon pepaya. 

Memiliki secangkir beras seolah memiliki tabungan berharga yang akan memperpanjang nafas dan menyelamatkan nyawa dari Korod. Beras yang begitu berharga dimasak untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga yang semuanya telah melewati masa lapar. Sejumput beras dicampur air dan direbus sehingga menjadi bubur. Sebetulnya tidak layak disebut bubur nasi karena didominasi air. Bubur ini disebut bubur encer.

Bubur encer tidak sanggup menghapus lapar siapapun, ia hanya mampu menenangkan keroncong tari perut lapar terutama anak-anak. Bubur encer menjadi salah satu menu penyambung nyawa yang tidak dipedulikan rasanya seperti apa, yang penting kemampuannya mengisi perut kosong. Pada masa pendudukan Jepang, satu keluarga yang bisa menikmati bubur encer menjadi keluarga yang dianggap mewah.

Sumber: limawaktu.id
Sumber: limawaktu.id
Seiring perubahan kondisi dan siapa yang mengatur negara Indonesia, Cianjur merasakan pula perubahan ini. Setelah masa Sukarno, bubur encer menjadi sedikit lebih kental karena petani perlahan bisa menanam padi tanpa dicuri pada saat panen. Kemudian pada rezim Suharto, bubur beras berubah dari bubur yang sedikit agak lengket menjadi bubur kental tapi tidak lengket. 

Hal ini terjadi karena pada era Suharto, petani dimasukkan kedalam program Pembangunan Lima Tahun (Pelita) yang memaksa petani meninggalkan bibit padi tradisional menjadi bibit artifisial bernama IR64 yang dipandang tahan terhadap segala penyakit. 

Sejak saat itu, hanya sedikit petani padi Cianjur yang menghasilkan padi dari bibit lokal yang masa tanamnya memerlukan waktu setengah tahun. Sementara IR64 hanya memerlukan waktu lebih kurang 100 hari saja.  

Sejak saat itu, bubur encer menjadi bubur kental tapi dengan rasa beras yang tidak sama. Kurangnya rasa nikmat bubur encer akibat dari berubahnya bahan pokok bubur encer. Beras IR jenis apapun miskin rasa dan kemampuannya dalam mengenyangkan perut. Menggenapi rasa, maka bubur Cianjur ditambah dengan pepes jeroan ayam, kerupuk, dan goreng kacang kedelai.

Kini, satu-satunya bubur encer masih bisa ditemui di sudut pasar Bojongmeron Cianjur. Bubur encer ini telah pula dicampur kerupuk, kacang kedelai, pepes jeroan ayam. Cara membuat bubur encer sangatlah mudah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2