Mohon tunggu...
Yadi Pebri
Yadi Pebri Mohon Tunggu... #BanggaJadiAnakPetani

Blogger, Writer, Riwayat Organisasi 1. Ketua PW IPM Sumsel 2013-2015 2. Ketua DPD IMM Sumsel 2017-2019 3. Ketum PP HPP Muratara 2015-2018 4. Ketua DPD PSI Muratara 2019-Sekarang

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pemanfaatan Kelapa Sawit dalam Bidang Farmasi

1 Juni 2020   10:59 Diperbarui: 1 Juni 2020   11:18 401 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pemanfaatan Kelapa Sawit dalam Bidang Farmasi
www.kompasiana.com/yadipebri

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar yang memiliki SDA (Sumber Daya Alam) yang melimpah khususnya di luar Pulau Jawa. Salah satunya adalah Pulau Sumatera.  Pulau Sumatera merupakan pulau ketiga terbesar di Indonesia setelah Pulau Kalimantan dan Pulau Papua dengan luas wilayah sebesar 473.481 km2. Luas wilayah Pulau Sumatera didominasi oleh perkebunan karet sebanyak 65 % dan kelapa sawit sebanyak 70 %. 

Aktivitas ekonomi yang bergantung pada sektor primer tersebut memberikan kontribusi terbesar kedua bagi perekonomian negara setelah Pulau Jawa. Namun, kualitas dan kuantitas SDM (Sumber Daya Manusia) di Pulau Sumatera belum memenuhi dalam pengolahan SDA yang mendominasi daerah terisolir sehingga membutuhkan infrastruktur sebagai penghubung antara pelabuhan di kota besar dan perkebunan, terutama bagi provinsi penyumbang terbesar perekonomian Pulau Sumatera seperti Sumatera Utara (25,76 %), Riau (19,71 %), dan Sumatera Selatan (13,81 %).

Sumatera Selatan menjadi salah satu provinsi yang dikembangkan oleh pemerintah saat ini melalui pengembangan wilayah strategis di bagian barat dan timur. Peningkatan komoditas perkebunan di Sumatera Selatan bagian barat terus berkembang mengingat wilayah tersebut dilewati Jalan Lintas Tengah Sumatera yang menghubungkan Bakauheni, Lampung hingga Banda Aceh. 

Salah satunya adalah Kabupaten Musi Rawas Utara atau yang disingkat Muratara. Kabupaten Muratara merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten induk Musi Rawas dengan tujuh kecamatan dan 83 desa. Selain itu, Kabupaten Muratara memiliki kepadatan penduduk yang cukup rendah, yaitu 32 orang tiap km2 sehingga setengah dari luas wilayah lebih banyak digunakan sebagai hutan suaka alam, hutan lindung, dan hutan pengelolaan. 

Pertumbuhan ekonomi kabupaten Muratara bertumpu pada sektor perdagangan dan pengolahan. Walaupun industri pengolahan di Muratara berada pada nomor dua pada kontribusi dalam PDRB sebanyak 21,07 %, hal tersebut masih kurang mencapai standar PDRB Sumatera Selatan. 

Buktinya adalah pertumbuhan ekonomi Muratara pada tahun 2017 yang mencapai 5,46 % yang berada di bawah 5,6 %. Oleh karena itu, banyak potensi kabupaten Muratara seperti perkebunan yang belum dimanfaatkan untuk kemajuan masyarakat Muratara, salah satu potensi yang akan diangkat adalah perkebunan kelapa sawit.

Kabupaten Muratara memiliki komoditas kelapa sawit dengan luas 107.471 Hektar, terluas nomor dua setelah komoditas karet. Kelapa sawit dan karet mudah tumbuh di tanah berjenis podsolik yang ditandai dengan tanah berwarna kuning kecokelatan. 

Walaupun penanaman kelapa sawit dianggap menjadi penyebab menyusutnya hutan di Indonesia, kelapa sawit menjadi penyumbang devisa terbesar negara karena mampu memproduksi minyak sawit (CPO) dan minyak inti sawit (KPO) dalam jumlah besar. 

Namun, semakin berkembangnya teknologi pada industri pengolahan kelapa sawit, tanaman kelapa sawit memiliki manfaat pada bidang farmasi mengingat kelapa sawit memiliki kandungan vitamin E (tokoferol dan tokotrienol) yang mampu melembabkan dan mencerahkan kulit. 

Hal ini sejalan dengan pengurangan angka infeksi (salah satunya pada kulit) pada balita di Kabupaten Muratara yang cenderung fluktuatif dalam rentang tahun 2015-2017 (Data Kesehatan Muratara, 2016). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN