Mohon tunggu...
Aris Kurniyawan
Aris Kurniyawan Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Seorang pemerhati kehidupan spiritual dan kemanusiaan.Sedang belajar mencintai film dan fotografi. "Contemplationem Aliis Tradere"

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Tantangan Kepemimpinan Para Religius

3 Februari 2012   14:51 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:06 1096 0 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Digital. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

Tantangan Kepemimpinan Para Religius




Pengantar
Menjadi seorang pemimpin adalah bagian dari hidup setiap orang lebih-lebih hidup religius. Dalam banyak aspek kehidupan religius, mereka tidak bisa dilepaskan dari tugas menjadi seorang pemimpin, menjadi kepala sekolah, pengurus rumah tangga, bahkan menjadi pimpinan tarekat atau kongregasi. Semua bidang yang digeluti para religus akan senantiasa bersentuhan dengan kepemimpinan. Besar kecil skala tugas yang mereka emban tentunya memiliki dimensi kepemimpinan.
Sebagai seorang pemimpin para religius dihadapkan dalam situasi dunia yang sedang berubah. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menantang religius untuk tidak ikut arus dan hanyut didalamnya. Pesatnya kemajuan teknologi yang setiap saat berubah-ubah membuat manusia memaknai hidupnya secara dangkap. Para religius yang diberi tugas sebagai pemimpin mau-tidak mau senantiasa bersentuhan dengan segala kemajuan ini dan tidak bisa dihindari.  Untuk membendung situasi yang demikian harus ada model kepemimpinan yang tepat dan sesuai. Selama ini kepemimpinan yang dilakukan oleh banyak religius adalah kepemimpinan model tradisional yang cenderung otokratis[1]. Banyak pemimpin di kalangan religius dijumpai sebagai pribadi yang terlalu otoriter dalam memimpin. Akibatnya proses kepemimpinan yang harusnya mengarahkan pada komitemn bersama antara pemimpin dan aggotanya tidak berjalan dengan baik.
Salah satu persoalan yang dihadapi oleh pemimpin adalah kurangnya pemahaman diri tentang tujuan dan arti sebagai seorang pemimpin. Salah satu yang mungkin terlupakan sebagai pokok dan pegangan para religus adalah teladan Yesus sendiri yang pertama-tama adalah melayani. Kiranya gaya kepemimpinan Yesus sebagai pelayan inilah yang mampu membendung arus kepalsuan jaman. Tulisan ini akan memberikan panorama tantangan kepemimpinan yang dihadapi para religius dengan mengembangkan model kepemimpinan pelayan dari pemikiran Robert Greenleaf. Pemikiran ini diharapkan mampu menjadi sumbangan untuk para religius dalam menjalankan kepemimpinannya ditengah jaman yang sedang berubah.


Situasi Dunia Dewasa Ini
Sebuah perubahan besar terjadi pada awal Milenium ketiga, yaitu semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang mengalir deras membanjiri ruang-ruang hidup manusia.  Dalam situasi semacam ini realitas dan ruang hidup manusia yang mampu dirasakan dengan sentuhan dengan percakapan ringan menjadi semakin kecil bahkan lenyap tergantikan ruang yang melampaui realitas. Inilah realitas baru yang dialami manusia. Realitas baru ini melukiskan metamorfosis yang dialami manusia, dari apa yang disebut realitas bergerak menjadi dunia postrealitas. Kondisi posrealitas adalah kondisi yang di dalamnya prinsip-prinsip realitas itu sendiri telah dilampaui dan diambil alih oleh subtansi yang diciptakan secara artifisial lewat sarana ilmu pengetahuan, teknologi informasi yang menghancurkan pendapat sosial tentang apa yang disebut  nyata.[2]Sepintas kemajuan pengetahuan khusunya teknologi informasi memang memiliki implikasi positif dalam hidup manusia dan menolong untuk semakin memudahkan aktivitas hidup manusia. Namun demikian pengaruh negatif didalamnya  tidak bisa di hiraukan begitu saja.
Derasnya arus teknologi informasi ini mengaburkan seluruh realitas hidup manusia. Mengaburkan tidak hanya apa yang fisik seperti ruang pertemuan, cafe, taman yang biasa digunakan untuk membangun komunikasi tetapi juga cara berpikir dan aspek-aspek psikologis dalam membangun relasi dengan sesama. Serbuan informasi yang begitu deras ini membuat manusia tidak sempat berhenti untuk bergulat dan memaknai dirinya karena sudah disodorkan informasi baru dan pengalaman baru.[3] Menurunnya daya reflektif ini membuat setiap pribadi tidak lagi memiliki kedalaman dalam bertindak dan memaknai hidupnya.
Era ini ini juga ditandai pergeseran ruang dari yang faktual menjadi ruang maya, dari “layar” yang bisa terjadi canda, cengkrama dan dialog menjadi layar yang hanya menampilkan monolog antara pribadi dengan layar maya (komputer, TV, iPad, dll). Dalam situasi ini relasi antara sahabat, keluarga yang biasa terjalin dengan tatap muka menjadi tidak penting. Banyak orang lebih mementingkan gadget yang mereka miliki daripada relasi personal melalui orang di sekitarnya. Betapa dunia menjadi begitu “dekat” dengan kehadiran piranti-piranti seperti BlackBerry, iPhone, dan jenis hanphone(HP) lainnya yang mampu mendekatakan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Selain itu dunia juga menjadi bising dengan begitu banyak suara diMall-Mall, tempat karaoke, GameZone, dan piranti mungil Mp3, dan iPood.
Hidup manusia pelan-pelan terdistorsi oleh era baru yang menandai pergantian fase modern menuju postmodern dan dari realitas menuju postrealitas. Dalam situasi semacam ini mungkin kita bertanya masih perlukah kita mendengarkan orang lain, berempati dan membangun relasi dengan orang lain? Apakah kehadiran orang lain masih diperlukan? Dalam situasi dunia yang sedang melompat jauh dari realitas yang sesungguhnya kepemimpinan yang dijalankan oleh para religius berada di tengah-tengah situasi ini.


Realitas Kehidupan Religius
Kehidupan religius dewasa ini sejatinya memiliki banyak sekali tantangan. Dalam banyak hal tawaran untuk tidak lagi menghayati hidup seturut teladan Yesus semakin besar. Dalam Perfectæ Caritatis (Dekrit tentang pembaharuan dan penyesuaian hidup religius) dijelaskan bahwa tujuan hidup religius pertama-tama yakni: supaya para anggotanya mengikuti Kristus dan dipersatukan dengan Allah melalui pengikraran nasehat-nasehat Injil. Maka perlu dipertimbangkan dengan serius, bahwa penyesuaian-penyesuain yang sebaik mungkin dengan kebutuhan-kebutuhan zaman kita sekarang pun tidak akan memperbuahkan hasil, bila tidak dijiwai oleh pembaharuan rohani. Hendaknya pembaharuan rohani itu dalam pengembangan karya-karya di luarpun selalu diutamakan.[4] Sebagaimana dijelaskan dalam PC 2-e di atas hidup religius hendaknya diberi tekanan pada hidup yang dijiwai oleh pembaharuan rohani. Mengikuti Yesus yang diwujudkan dalam mentaati ketiga nasihat Injili tentunya memiliki implikasi bahwa hidup religius adalah hidup yang didasarkan pada hidup Yesus sendiri yaitu miskin, taat dan murni. Hidup religius, sebagai pembaktian seluruh pribadi, menampakkan di dalam Gereja pernikahan yang mengagumkan yang diadakan oleh Allah, pertanda dari zaman yang akan datang. Demikianlah hendaknya religius menyempurnakan penyerahan diri seutuhnya bagaikan kurban yang dipersembahkan kepada Allah; dengan itu seluruh eksistensi dirinya menjadi ibadat yang terus-menerus kepada Allah dalam cintakasih. [5]
Dimensi hidup religius sesungguhnya  adalah tanda akan dimensi eskatologis jika  hal ini sungguh-sungguh dihayati.  Oleh karena itu tuntutan hidup religius menjadi begitu berat karena situasi jaman “menghendaki” untuk meninggalkan nilai-nilai di atas. Dalam kenyataan keseharian, semakin-hari kehidupan religius mulai terserat pada arus dunia. Situasi dunia dengan sendirinya masuk dalam hidup religus karena memang ruang dimana para religus hidup tidak bisa dilepaskan oleh situasi dunia. Maka tidak jarang jika saat ini ada begitu banyak tren dan gaya hidup para religius mengikuti apa yang di kehendaki dunia. Munculnya alat-alat komunikasi seperti HP beberapa tahun yang lalu juga menjadi ajang perlombaan prestise di kalangan religius. Setiap religius berlomba-lomba untuk lebih dahulu mendapatkanBlackBerry atau iPhone yang terbaru. Bahkan tren saat ini untuk berlomba memiliki iPad terbaru. Selain itu distorsi ruang  nyata menjadi ruang  maya. Jika dua atau tiga tahun lalu di dalam situs jejaring sosial Facebook (FB)hanya ada 100 religius yang membuat account di FB, kini ada ribuan account religius dengan foto profilnya terpampang di FB. Lain halnya dengan di kota-kota besar di Jakarta atau Surabaya, kehidupan religius beberapa tahun lalu masih diwarnai dengan pertemuan bulanan atau rapat di biara atau komunitas-komunitas sekarang sudah bergeser di wilayah yang lebih santai seperti di Mall, cafe dengan fasilitas Wifi atau hotspot.  Semuanya itu dilakukan hanya untuk mengusahakan kenyataan bahwa hidup religius tidak tampak ‘kuno’ atau ketinggalan jaman.
Apa yang dialami oleh para religius saat ini adalah bagian dari sejarah penjang kemajuan jaman. Apakah yang terjadi sekarang itu salah? Pertanyaan ini memang tidak mudah dijawab, karena setiap hal yang dikerjakan oleh para religius tentunya memiliki pertimbangan dan alasan tertentu sesuai dengan kebutuhan bersama. Hanya ada satu barometer yang bisa dijadikan tanda untuk mengenali situasi ini yaitu ketika kehidupan religius mulai meninggalkan hal rohani saat itulah cara hidup mereka sudah larut dalam dunia.


Tantangan Kepemimpinan Para Religius
Di tengah situasi dunia seperti yang diuaraikan diatas kepemimpinan para religius mendapat tantangan yang berat. Tawaran dunia yang terus menerus  mengedepankan budaya instan dan derasnya arus informasi, para religius yang menjadi pemimpin di tantang  untuk memiliki disposisi batin sebagai pribadi yang berani menentang dan tidak larut dalam budaya ini. Salah satu tawaran yang tidak mudah di lakukan adalah mampu memulihakan dan mempertahankan kepemimpinan sebagai pelayan. Teladan Yesus “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,” (Mat.20:26) menjadi dasar bahwa kepemimpinan kaum religius mencontoh semangat  kepemimpinan Yesus. Hidup Yesus dalam misi pewartaan Kerajaan Allah juga tidak lepas dari tawaran dan godaan dunia,[6] namun demikian Yesus tidak ikut arus dunia.
Kepemimpinan pelayan yang sejati membutuhkan radikalitas dan prinsip hidup seperti Yesus, juga bahwa kehadiran para religius pertama-tama untuk melayani bukan untuk dilayani. Salah satu aspek yang menjadi kunci utama dalam menjalankan kepemimpinan dewasa ini adalah kemampuan menangkap apa yang sedang dialami dan terjadi di dunia. Kepemimpinan yang dihadapi oleh para religius adalah kepemimpinan yang berada di tengah-tengah situasi dunia yang semakin berubah. Ditengah kemajuan teknologi informasi dan sarana lainnya para religius ditantang untuk tidak larut dalam situasi dunia yang serba berubah. Gaya kepemimpinan yang otoriter dan menekankan aspek pemimpin sebagai penentu kebijakan pelan-pelan mulai ditinggalkan. Kepemimpinan semacam ini sering disebut sebagai kepemimpinan model komando dan kontrol. Kepemimpinan ini cenderung bersifat hierarkis, formal dan komunikasinya bersifat satu arah, atas-bawah.[7] Model kepemimpinan semacam ini dinilai terlalu lamban dan kurang dinamis dalam sebuah lembaga atau perusahaan. Oleh karena itu situasi dunia yang dinamis juga turut menetukan pola-pola kepemimpinan yang sama. Jika para religius tidak berusaha menangkap situasi semacam ini dengan sendirinya kepemimpinan yang dijalankan pasti tidak akan berhasil.
Pesatnya akses informasi yang sampai pada setiap individu dewasa ini membuat kebutuhan akan informasi semakin mudah didapatkan. Sebagai seorang pemimpin tentunya harus jeli dalam melihat perkembangan kepribadian dan kinerja anggotanya. Dalam setiap institusi tentunya akses internet selalu tersedia dan para anggota atau bawahan tentunya dengan mudah memanfaatkan sarana ini untuk membantu dalam meningkatkan kinerja mereka. Namun demikian bisa sebaliknya, yang terjadi adalah kinerja para anggota menjadi semakin menurun. Sebagai contoh, adanya jejaring sosial seperti Facebook, Twiter, dan media Youtube tetentunya memiliki pengaruh bagi kinerja anggotanya. Tidak sedikit waktu untuk bekerja digunakan untuk mengakses informasi yang tidak sepenuhnya perlu dan sesuai dengan kebutuhan institusi yang dipimpinnya.
Segala sesuatu yang serba cepat ditandai dengan arus informasi yang deras ini tentunya menuntut kinerja pemimpin yang menguasai segala bidang. Model-model kepemimpinan yang baru harus segera diusahakan untuk mengimbangi arus informasi ini. Salah satu model yang mampu mengimbangi arus dunia adalah kepemimpinan pelayan.


Kepemimpinan Pelayan Robert Greenleaf
Salah satu cara membendung kepemimpinan para religius untuk tidak larut dalam situasi dunia yang sarat akan instanitas maka setiap religius diminta mempertahankan kepemimpinan pelayan. Yesus datang ke dunia untuk melayani maka para religius yang memiliki jabatan sebagai pemimpin hendaknya mempertahankan kepemimpinan model ini. Kepemimpinan pelayan adalah sebuah konsep kepemimpinan etis yang diperkenalkan oleh Robert K. Greenleaf mula-mula pada tahun 1970. Robert K. Greenleaf sendiri menghabiskan sebagian besar kariernya di bidang penelitian manajemen, pengembangan dan pendidikan di AT&T selama 40 tahun. Kemudian, selama 25 tahun ia bekerja sebagai konsultan penting bagi sejumlah organisasi besar, seperti Universitas Ohio, MIT, Ford Foundation. Pada tahun 1964 ia mendirikan Center for Applied Ethics yang berganti nama menjadi Robert K. Greenleaf pada tahun 1985 di Indianapolis, Indiana.[8]
Greenleaf menjelaskan gagasan tentang kepemimpinan pelayan ini dengan menekankan bahwa pemimpin pelayan pertama-tama adalah seorang pelayan. Pemimpin pelayan adalah pribadi yang mampu melihat pribadi-pribadi yang dilayaninya menjadi lebih sehat, lebih bijaksana, lebih bebas, mandiri, berkembang dan bertumbuh dengan sadar untuk menjadi pelayan bagi orang lain. Konsep kepemimpinan pelayan ini secara keseluruhan mencoba mengubah pendekatan kepemimpinan yang bersifat hirarkis dan tradisional.  Menurut Greenleaf para pemimpin pelayan harus memiliki sikap mampu mendengarkan terlebih dahulu sehingga dapat memahami situasi. Mampu mengembangkan intuisi dan kemampuan mereka untuk “melihat apa yang tidak terlihat”. Mampu memimpin dengan mempengaruhi, melakukan perubahan dengan “meyakinkan daripada memaksakan”. Mengkonseptualisasikan perubahan yang mereka perjuangkan dan mengajak orang lain untuk melihat kemungkinan itu juga. Memberdayakan dengan menciptakan peluang dan alternatif untuk mereka yang di layani.[9]
Ada sepuluh ciri khas penting mengenai kepemimpinan pelayan, sebagaimana hasil studi Larry Spears atas tulisan-tulisan Greenleaf, yaitu:


1. Mau Mendengarkan
Pemimpin pelayan mengembangkan kemampuan dan komitmen untuk mengenali serta memahami secara jelas kata-kata orang lain. Mereka berusaha mendengarkan secara tanggap apa yang dikatakan dan tidak dikatakan. Mendengarkan juga melampaui upaya memahami suara batinnya sendiri, serta berusaha memahami apa yang dikomunikasikan oleh tubuh, jiwa, dan pikiran. Mendengarkan, dipadukan dengan perenungan yang teratur, mutlak penting bagi pertumbuhan pemimpin pelayan. Keberanian pelayan untuk berani mendengarkan orang lain adalah salah satu usaha untuk mempertahankan jalinan relasi yang nyata. Dengan mendengarkan setiap pemimpin diajak untuk merasakan apa yang orang lain rasakan sehingga dialog dari hati menjadi satu kekuatan untuk membangun sebuah intitusi tertentu tetap bertahan dalam budaya nyata. Situasi batin seseorang yang mungkin dalam banyak kesempatan diaktualisasikan di dalam dunia mayauntuk memperolah kepuasan diri pada akhirnya akan lebih berarti jika usaha untuk mendengarkan ini dikembangkan terus menerus.


2.Memiliki Empati
Pemimpin pelayan berusaha keras memahami dan memberikan empati kepada orang lain. Orang perlu diterima dan diakui untuk jiwa mereka yang unik. Mereka akan menunjukkan itikad dan kerja baik jika diakui sebagai manusia. Pemimpin pelayan paling berhasil adalah mereka yang menjadi pendengar ahli penuh empati. Ketika perhatian yang melibatkan empati ini tidak ditemukan didalam realitas keseharian maka orang cenderung untuk lari dan berusaha mengalihkan perhatian pada aktivitas dan sarana-sarana modren jaman ini. Orang bisa menghabiskan waktu hanya untuk “bertatap muka” dengan HP dan mengirim ratusan SMS kepada orang lain supaya mendapat perhatian. Ada juga yang menulis komentar-komentar bernada meminta perhatian di FB atau Twiter, tujuanya hanya satu yaitu mendapatkan empati dari orang lain. Seorang pemimpin pelayan harus memiliki kejelian dalam menangkap situasi ini sehingga membuat anggota yang dipimpinya tidak lari pada sesuatu di luar realitas yang sesungguhnya. Sikap empati dan perhatian yang diberikan oleh pemimpin pelayan mampu mengubah anggotanya untuk memperolah kepercayaan diri. Oleh karena itu pemimpin pelayan harus berusaha sedikit mungkin untuk banyak berbicara dan memerintah, sehingga waktu untuk menjadi pendengar yang penuh empati menjadi semakin banyak.


3. Menyembuhkan
Salah satu kekuatan besar kepemimpinan pelayan adalah kemungkinan untuk menyembuhkan diri sendiri dan orang lain. Banyak orang yang patah semangat dan menderita akibat rasa sakit emosional. Maka belajar untuk menyembuhkan merupakan daya yang kuat untuk perubahan dan integrasi. Pemimpin pelayan mengakui bahwa mereka mempunyai kesempatan untuk membantu pemberian kesehatan bagi orang-orang yang berhubungan dengan mereka. Seringkali dimensi menyembuhkan ini tidak pernah disadari oleh kebanyakan pemimpin. Dari pengalaman banyak orang kebanyakan pemimpin lebih sering membuat orang lain atau anggotanya sakit hati. Tekanan pekerjaan seringkali menjadi alasan kebanyakan orang untuk mencari kepuasan diri pada hal-hal lahiriah yang sifatnya sementara, pergidugem atau berbelanja banyak barang, bermain game berjam-jam dan lain sebagianya. Pemimpin yang sungguh-sungguh melayani adalah pemimpin yang berani untuk melihat kedalam dirinya bahwa ia mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan orang lain bukan malah lari dan mencari kesembuhan di luar dirinya. Banyak pemimpin religius yang cenderung kurang mampu mengendalikan emosi dan psikospiritual di dalam dirinya sehingga mudah goyah dan lari dari kenyataan. Sebagai seorang pemimpin pelayan para religius harus berani mengusahakan diri untuk mau menyembuhkan orang lain.


4. Kesadaran/Awareness
Kesadaran, terutama kesadaran diri, memperkuat pemimpin pelayan. Kesadaran membantu memahami persoalan yang melibatkan etika dan nilai-nilai. Ini memungkinkan orang bisa melihat persoalan-persoalan dari posisi yang lebih terintegrasi. Menurut Greenleaf, "Pemimpin pelayan senantiasa memiliki ketenangan batinnya sendiri." Dewasa ini banyak orang mengalami kegelisahan batin. Hal ini juga sering dalami juga oleh banyak religius yang memimpin sebuah lembaga yang besar dengan jumlah anggota yang banyak. Para pemimpin menjadi mudah patah semangat, menghindar dari hidup rohani dan lari pada banyak hal yang dianggap mampu menenteramkan batinnya. Seorang religius bisa menghabisakan banyak waktu di depan komputer untuk mengakses internet yang tidak berkaitan dengan tugas yang diembanya atau melakukan aktifitas yang tidak produktif sama sekali. Jika pemimpin terlalu larut dalam situasi ini maka yang terjadi adalah mereka kehilangan kesadaran padahal kesadaran ini penting sekali dalam tugasnya. Jika pemimpin itu memiliki kesadaran dan menjalankan tugasnya dengan kesadaran maka sudah dengan pasti segala tujuan yang ingin dicapai dalam menjalankan kepemimpinannya pasti berjalan lancar.


5. Berani Mengajak
Ciri khas pemimpin pelayan lainnya adalah mengandalkan kemampuan membujuk, bukannya wewenang karena kedudukan, dalam membuat keputusan di dalam organisasi. Pemimpin pelayan berusaha meyakinkan orang lain, bukannya memaksakan kepatuhan. Ini merupakan ciri pembeda antara model wewenang tradisional dan model kepemimpinan pelayan. Kepemimpinan pelayan efektif dalam membangun konsensus kelompok. Keberanian mengajak atau membujuk ini menjadi kunci untuk bergerak bersama-sama. Dalam situasi dunia yang memaksa orang lain untuk menjadi lebih individualistis ini kepemimpinan pelayan menawarkan arus lain yaitu bekerja sebagai tim. Keberanian pemimpin untuk mengajak anggotanya bertumbuh dan mengembangkan kepemimpinan dalam lembaga yang dipimpinya mematahkan kesan bahwa pemimpin itu bukanlah pribadi yang selalu menuntut untuk dipatuhi perintahnya. Usaha berani mengajak orang lain mencermikan pemimpin pelayan yang terbuka pada anggotanya.


6. Konseptualisasi
Pemimpin pelayan berusaha menjaga kemampuan mereka untuk melihat suatu masalah dari perspektif yang melampaui realita dari hari ke hari. Banyak orang yang disibukkan oleh kebutuhan untuk meraih tujuan operasional jangka pendek. Pemimpin pelayan harus meregangkan pemikirannya hingga mencakup pemikiran konseptual yang mempunyai landasan yang lebih luas. Ini berarti pemimpin pelayan harus mengusahakan keseimbangan yang rumit antara konseptualisasi dan fokus operasional sehari-hari.  Spontanitas seringkali membantu orang lain untuk menampilkan diri secara natural dan terkesan bebas, namun tidak seluruhnya tepat. Seorang pemimpin pelayan hendaknya memiliki sikap yang tidak hanya sekedar spontan melainkan memiliki konsep dalam menjalankan kepemimpinannya. Pemimpin tidak hanya berpikir untuk kebutuhan pasar dan apa yang diinginkan orang lain. Kepemimpinan pelayan yang konseptual adalah kepemimpinan yang mengedepankan pemaknaan pada proyek atau program-program yang mau dikerjakan sehingga tidak asal jadi dan mengikuti selera pasar. Arus deras yang membanjiri hidup manusia saat ini adalah hedonisme yang memaksa setiap orang untuk mencari kenikmatan sesaat, hal ini harus di bendung dengan kejelasan konsep.

7. Kemampuan meramalkan

Kemampuan untuk memperhitungkan sebelumnya, atau meramalkan hasil satu situasi sulit didefinsikan, tetapi mudah dikenali. Orang mengetahuinya bila mereka melihatnya. Kemampuan meramalkan adalah ciri khas yang memungkinkan pemimpin pelayan bisa memahami pelajaran dari masa lalu, realita masa sekarang, dan kemungkinan konsekuensi dari keputusan untuk masa datang. Ini menanamkan akarnya sampai jauh ke wilayah intuitif. Ini juga berarti ciri khas ini merupakan bawaan sejak lahirnya pemimpin tersebut. Inilah pergulatan pemimpin dewasa ini. Kemampan membaca situasi dunia yang terus menerus berubah menjadi penting sekali. Hanya dengan kemampuan inilah seorang pemimpin mampu mempertahankan pelayananan yang sejati. Kemampun ini hendaknya terus dikembangkan supaya dimensi pelayanan religius tetap bertahan.


8. Mau Melayani
Melayani, atau stewardship, menurut Peter Block, adalah "memegang sesuatu dengan kepercayaan kepada orang lain." Kepemimpinan pelayan haruslah mempunyai kemampuan untuk melayani, dan terutama komitmen untuk melayani kebutuhan orang lain. Ini juga menekankan penggunaan keterbukaan dan bujukan, bukannya pengendalian. Menurut Greenleaf, semua apa yang ada dalam sebuah organisasi memainkan peranan penting dalam menjalankan organisasi tersebut dengan kepercayaan kepada kebaikan masyarakat yang lebih besar. Semakin hari sikap melayani menjadi semakin sulit dijumpai. Banyak orang lebih senang dilayani. Kehidupan religiuspun tidak lepas dari ini semua. Maka dimensi mau melayani ini menjadi pergulatan tersendiri bagi kebanyakan religius. Seorang pemimpin pertama-tama haruslah menjadi pelayan. Hanya dengan melayani orang lainlah setiap pribadi bertumbuh dan berkembang. Melayani sesungguhnya tidak membutuhkan banyak hal yang besar tetapi hanya satu hal yaitu rendah hati. Jika setiap pemimpin dewasa ini mengedepankan pelayanan sudah dengan sendirinya orang lain disekitarnya juga akan bertumbuh menjadi pelayan-pelayan untuk orang lain.


9. Komitmen pada pertumbuhan anggotanya
Pemimpin pelayan berkeyakinan bahwa manusia mempunyai nilai intrinsik melampaui sumbangan nyata mereka sebagai pekerja. Dalam hal ini, pemimpin pelayan sangat berkomitmen terhadap pertumbuhan pribadi, profesional, dan spiritual setiap individu dalam organisasi itu. Banyak pemimpin selalu mengangap orang lain yang dipimpinnya atau para anggotanya sebagai mesin pekerja. Mereka dituntut untuk berkerja lebih bahkan melebihi kemampuannya. Jika situasi ini masih terjadi maka tujuan atau komitmen yang ingin dicapai bersama tidak akan terjadi. Mengapa? Karena anggota-anggotanya tidak mengalami pertumbuhan pribadi. Kepemimpinan yang semacam ini tidak membuat orang menjadi nyaman dalam bekerja dan tidak menjadi profesional. Pemimpin yang sejati tidak memperlakukan anggotanya seperti mesin cangih atau robot yang bermunculan saat ini. Pemimpin pelayan adalah pribadi yang menumbuhkan anggotanya untuk menjadi berkembang dan menyadar nilai hidupnya.


10. Membangun Komunitas
Pemimpin pelayan berusaha mengenali satu sarana untuk membangun komunitas di kalangan mereka yang bekerja dalam organisasi tersebut. Kepemimpinan pelayan menyatakan bahwa komunitas yang sesungguhnya bisa diciptakan di kalangan mereka yang bekerja dalam bisnis dan lembaga lainnya. Yang diperlukan untuk membangun kembali komunitas sebagai bentuk kehidupan yang bisa dihayati bagi jumlah besar orang adlaah sejumlah cukup pemimpin pelayan yang menunjukkan jalan, bukan dengan gerakan masal, melainkan dengan cara setiap pemimpin pelayan memperlihatkan kemampuan yang tidak terbatas untuk kelompok spesifik yang berhubungan dengan anggota komunitas. Tempat dimana kepemimpinan itu dijalankan sesungguhnya adalah komunitas kecil yang di dalamnya terdiri dari bermacam-macam pribadi. Keseluruhan sebuah lembaga tempat dimana pemimpin menjalankan tugasnya sebenarnya adalah keluarga. Di tempat itulah semua orang bertumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin pelayan harus mengedepankan bahwa komunitas yang dia pimpin adalah tempat dimana orang lain menyadari perkembangan hidupnya sehingga setiap orang menjadi kerasan atau nyaman. Inilah jalan untuk memulihkan benteng-benteng individualitas ditengah dunia yang serba bergerak cepat.


Penutup
Kepemimpinan Robert Greenleaf sesungguhnya adalah model kepemimpinan yang membantu setiap religius untuk kembali kepada kepemimpinan Yesus sendiri yaitu melayani. Sesungguhnya kepemimpinan model ini adalah sumbangan untuk menjadi pemimpin otentik ditengah pertarungan dunia dimana makna menjadi dangkal.[10] Kehidupan para religius yang menjadi pemimpin tidak berada ditengah-tengah situasi ini dan dituntut untuk tetap seutuhnya menjadi pelayan. Itulah makna mengikuti Kristus, menjadi pelayan.

[1] Bdk. A.M. Mangunhardjana S.J.  Kepemimpinan,Yogyakarta: Kanisisu. 1976. hlm.21

[2] Yasraf Amir Piliang,  Posrealitas: Realitas kebudyaan dalam Era Posmetafisika, Yogyakarta: Jalasutra. 2004. hlm. 53

[3] Antonius Sad Budianto, “Pewartaan di Era Multimedia” dalam  Iman dan Pewartaan di Era Multimedia, Robertus Wijanarko & Adi Saptowidodo (ed), Malang: STFT Widya Sasana.2010. hlm. 25

[4] PC. 2-e (Perfectæ Caritatis)

[5] Kan. 607 § 1

[6] Bdk. Mat 4:1-11

[7] DR. Antony D’Souza,  Ennoble Enable Empower, Kepemimpinan Yesus Sang Almasih, Jakarta: Gramedia. 2009. hlm. 8

[8] http://en.wikipedia.org/wiki/Robert_K._Greenleaf diakses 20 November 2011

[9] Antony D’Souza. Hlm. 13

[10] Armada Riyanto, “Era Multimedia” dalam Iman dan Pewartaan di Era Multimedi. hlm. 107
http://katolisitas.org/2011/12/08/aku-percaya/

Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan