Mohon tunggu...
Bung Stev
Bung Stev Mohon Tunggu... ASN

Buruh negara. Sedang berusaha menjadi (pembaca dan penulis) yang baik. Email: stevanmanihuruk@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Upaya Kita Menjaga Lingkungan dan Hutan yang Tersisa

8 September 2019   12:08 Diperbarui: 8 September 2019   12:17 0 1 0 Mohon Tunggu...
Upaya Kita Menjaga Lingkungan dan Hutan yang Tersisa
Foto bersama peserta Forest Talk with Netizens - Jambi (lestarihutan.id)

Kebakaran hutan dan lahan hanya satu dari sekian banyak persoalan kita di bidang kehutanan dan lingkungan. Dunia (tak hanya Indonesia) saat ini diperhadapkan pada situasi pelik yang menunjukkan tanda-tanda bahwa dunia yang kita tempati saat ini memang sudah rusak dan renta. Cuaca yang tidak menentu, bencana terjadi dimana-mana, dan sebagainya.

Kita sering merangkum masalah-masalah lingkungan ini dengan istilah perubahan iklim atau pemanasan global. Dunia menaruh perhatian yang besar berkaitan hal ini. Dapat dipahami karena persoalan lingkungan di suatu negara sedikit banyaknya pasti memberi dampak pada dunia secara meluas. Misalnya, perusakan hutan, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia jelas tak hanya berdampak buruk bagi Indonesia semata. Secara global, itu juga turut menyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) yang memicu terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global.

Dokpri
Dokpri

Tidak heran, tokoh-tokoh publik dunia kini tak lagi segan menyuarakan protes dan keprihatinannya terhadap permasalahan yang terjadi di di negara lain. Baru-baru ini, aktor tenar Leonardo Di Caprio melalui akun instagram miliknya @leonardodicaprio secara khusus menyoroti tumpukan sampah di Bantar Gebang, Jakarta. Ia bahkan menyebut tempat tersebut tempat pembuangan sampah terbesar di dunia "the worlds largest dump"  .

Beberapa tahun sebelumnya, aktor Hollywood, Harrison Ford juga sempat berseteru dengan mantan Menteri Kehutanan kita. Ford berang melihat kondisi rusaknya Taman Nasional Tesso Nilo yang terletak di kabupaten Pelalawan, Riau. Ford menemukan fakta bahwa kawasan yang seharusnya menjadi hutan belukar tersebut, lebih dari separuhnya sudah dirambah dan dijadikan lahan perkebunan.       

Forest Talk with Netizens - Jambi   

Isu pemanasan global juga menjadi salah satu topik penting dalam acara bertajuk Forest Talk with Netizens - Jambi dengan tema Menuju Pengelolaan Hutan Lestari yang diselenggarakan oleh Yayasan Doktor Sjahrir, organisasi nirlaba yang fokus pada isu pendidikan, kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup. Acara ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 31 Agustus 2019 di Swiss-BelHotel Jambi, dihadiri kurang lebih 50 netizens Jambi yang terdiri dari media, bloggers, dan pengguna aktif sosial media.

Moderator dan Narasumber Forest Talk (Dokpri)
Moderator dan Narasumber Forest Talk (Dokpri)

Jambi menjadi kota kelima tempat diselenggarakannya acara ini. Sebelumnya, event serupa telah dilaksanakan di Jakarta, Palembang, Pontianak dan Pekanbaru. Ya, tiga provinsi "langganan" kebakaran hutan dan lahan di Pulau Sumatera sepertinya memang sengaja menjadi target pilihan. Reportase kegiatan-kegiatan sebelumnya bisa dilihat di lestarihutan.id.     

Dr. Amanda Katili, Manager Climate Reality Indonesia dalam sesi penyampaian materi menyampaikan fakta menarik mengenai cuaca ekstrem yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini. Disebutkan bahwa 2018, ada 60 juta orang yang terdampak cuaca ekstrem. Di Indonesia masih pada tahun yang sama, terjadi 2.372 bencana, 97 % hidrometeorologi, dan 3,5 juta orang menderita dan mengungsi.

Data juga menunjukkan bahwa perubahan iklim yang diawali dari meningkatnya emisi gas rumah kaca dominan disebabkan oleh ulah/kegiatan manusia. Sementara itu, sektor kehutanan/penggunaan lahan menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca Indonesia yaitu sebesar 61,6 %. Selanjutnya, disusul sektor energi 26,2 %, sektor pertanian 8,2 %, limbah 3,2 %, industri 0,7 %, penerbangan dan perkapalan 0,1 %.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4