Bung Stev
Bung Stev Pembelajar

Buruh negara. Sedang berusaha menjadi (pembaca, penulis, fotografer) yang baik.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Menyoal Kedewasaan Suporter Sepak Bola Kita

12 Maret 2018   10:28 Diperbarui: 12 Maret 2018   10:35 901 1 2
Menyoal Kedewasaan Suporter Sepak Bola Kita
Ilustrasi (Foto:Fandom.id)

Pagi ini saya membaca berita online tentang kericuhan suporter sepakbola di Tangerang. Enam orang dikabarkan luka-luka akibat peristiwa tersebut.

Yang menarik perhatian saya, kericuhan justru terjadi saat acara nonton bareng (nobar) pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Liverpool (Sabtu 10/3) malam.

Andai kericuhan terjadi di dalam stadion dan melibatkan klub-klub lokal atau tim nasional, mungkin peristiwa itu bisa agak dimaklumi. Tensi tinggi pertandingan dan hasil akhir pertandingan yang tak sesuai harapan bisa saja memicu emosi jadi gampang tersulut.

Namun agak sulit menerima sekaligus menjelaskan fakta kericuhan bisa terjadi di saat acara nonton bareng pertandingan yang berlangsung di benua lain dan berjarak ribuan kilometer jauhnya. Benarkah ini membuktikan karakter suporter kita yang gampang marah-marah ?.

Jejak kericuhan yang melibatkan suporter sepakbola di tanah air sudah berulangkali terjadi. Banyak kerugian materi yang harus ditanggung. Lebih memilukan, beberapa nyawa harus melayang.

Korban jiwa

Akhir tahun lalu, Banu Rusman, suporter Persita, meninggal usai terjadinya bentrok antarsuporter pada laga Persita vs PSMS di babak 16 besar Liga 2 di Stadion Mini Persikabo, Bogor, Rabu (11/10/2017). Banu mengembuskan napas terakhirnya meski sempat dilarikan ke RSUD Cibinong.

Duel panas yang terjadi antara Persebaya Surabaya dan Arema Malang 19 Desember 2015 lalu merembet ke barisan suporter juga mengakibatkan hilangnya nyawa satu orang suporter Arema Malang.

Tahun 2014, kerusuhan suporter terjadi saat laga Persis Solo vs Martapura FC di Stadion Manahan Solo, Rabu (22/10/2014). Di pertandingan delapan besar Divisi Utama Liga Indonesia tersebut, seorang suporter lawan, Joko Riyanto, tewas.

Masih di tahun yang sama, sekelompok orang bercadar menyerang bus yang ditumpangi puluhan fans PSCS Cilacap, Minggu (12/10/2014) malam di Jalan Solo tepatnya depan lapangan Parkir Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Penyerangan itu mengakibatkan satu orang suporter meninggal dunia dan beberapa orang mengalami luka-luka. Fans yang luka-luka disebabkan terkena sabetan pedang dan lemparan batu.

Pertandingan Persebaya dan Persela Lamongan 10 Maret 2012 juga berujung pada sebuah tragedi kematian lima orang suporter. Mereka adalah suporter Persebaya. Kelimanya tewas setelah diserang suporter Persela Lamongan dengan lemparan batu ketika korban berada di atas kereta api.

Sementara pada laga Persija versus Pesib Bandung (2012), tiga suporter tewas di stadion GBK akibat insiden pengeroyokan. Selain tiga orang tewas, kejadian itu juga mengakibatkan lima orang mengalami luka-luka yang sempat dilarikan ke rumah sakit RSCM.

Tahun 2011, seorang suporter sepakbola klub Pelita Jaya Karawang tewas mengenaskan pada 25 April 2011. Korban bernama Muhammad Azis, berusia 12 tahun mengalami luka serius akibat bacokan samurai di kepala bagian depan. Siswa SMP kelas satu ini menjadi korban penganiayaan dan pengeroyokan sekelompok pemuda yang mengaku suporter Persib Bandung, Viking.

Penilaian berbeda

Yang menarik, data-data diatas justru berbeda dengan penilaian Antony Sutton, seorang Inggris yang tahun 2017 lalu menerbitkan buku tentang sepakbola Indonesia.  

Setelah menonton 200an pertandingan di Indonesia, ia justru percaya budaya sepakbola Indonesia yang terbaik di Asia Tenggara. Antony Sutton mengeluarkan buku pertamanya yang berjudul Sepakbola: The Indonesian Way of Life.  

Sepanjang 15 tahun tinggal di Indonesia, Antony sudah menonton lebih dari 200 pertandingan liga Indonesia. Bukan hanya tim papan atas di Indonesia Super League, tapi Divisi Utama dan Liga Nusantara pun ia ikuti dan tonton.

Ia jatuh cinta setelah menonton pertandingan Persija melawan Sriwijaya di Stadion Lebak Bulus pada 2006.

Dalam bukunya, Antony menyindir secara halus kejenakaan yang terjadi di arena sepakbola Indonesia. Perkelahian antar supporter dan kekerasan di lapangan menurutnya adalah hal yang biasa. Tapi, Indonesia punya satu hal yang sangat unik dibandingkan sepakbola negara lain.

"Tapi, yang saya yakini tidak terjadi dimanapun di dunia ini barangkali adalah aparat keamanan yang masuk ke dalam lapangan dan bisa menghentikan pertandingan. Otonomi FIFA seketika lenyap, digantikan oleh perangkat kekuasaan di negeri ini," tulis Antony dalam bukunya.

Sumber bacaan dapat dilihat DISINI

Kedewasaan

Terlepas dari penilaian Sutton, kita harus mengakui bahwa suporter sepakbola kita memang harus belajar tentang sikap kedewasaan. Deretan fakta kericuhan yang terjadi dan sudah menimbulkan korban patut dijadikan bahan permenungan.  

Menjadi suporter tim sepakbola tentu sah-sah saja karena itu ada di belahan dunia manapun. Namun menjadi masalah jika hanya karena menjadi suporter, nyawa kita atau orang lain menjadi terancam. Sepakbola sebagaimana olahraga lainnya jelas-jelas menekankan aspek sportivitas dalam setiap pertandingan.

Suporter harus memiliki kedewasaan sikap agar bisa menerima sekaligus menghargai perbedaan termasuk menerima apapun yang menjadi hasil pertandingan.

Pertandingan sepakbola seharusnya menjadi ajang pemersatu bukan perpecahan. Kita ingin membuktikan penilaian Sutton bahwa budaya sepakbola Indonesia benar-benar menjadi yang terbaik dan layak dijadikan teladan.       

Jambi, 12 Maret 2018