Mohon tunggu...
Michael Gunadi Widjaja
Michael Gunadi Widjaja Mohon Tunggu...

L'ART POUR L'ART

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

The Art Of Sex

31 Mei 2011   04:04 Diperbarui: 26 Juni 2015   05:02 0 5 5 Mohon Tunggu...

Dalam peradaban sekarang,  Sex memang lebih dari sekedar penetrasi dan meremas-remas sudah layak kiranya jika sex dinaungi oleh nuansa estetis. Bukan sekedar buka baju, memelorotkan celana dalam,   kemudian rekam sana sini.

Banyak orang berpendapat bahwa cinta dan sex harus seiring jalan. Ada pula yang mengatakan bahwa cinta tidak harus dimanifestasikan dengan sex. Yang lain lagi berujar bahwa sex lebih bertendensi sebagai napsu dibanding hakekat cinta itu sendiri.Sementara di kalangan yang masih “setengah matang “ malah menganggap bahwa sex adalah sebuah pembuka bagi cinta sejati.Apapun opini dan persepsinya,nampaknya sex memang memiliki semacam ranah interseksi dengan cinta.

Dalam interseksi dengan cintalah, pemaknaan sex menjadi senantiasa berkembang sejalan dengan berjalannya peradaban manusia. Muaranya adalah bahwa sex dipersepsikan sebagai sebuah aktifitas dan sekaligus sebuah fenomena.Tentu dengan persepsi yang sedemikian, sex rentan dengan penyimpangan, penyalahgunaan dan bahkan dapat berubah menjadi media untuk penyaluran kegilaan dan bahkan kriminalitas. Nampaknya, sejalan dengan perkembangan tatanan sosial di jaman seperti sekarang ini, sex perlu terus menerus di posisikan pada sebuah keluhuran dan kelayakan makna. Meski hal semacam itu juga amat absurd untuk dicari subtilitasnya.

Dengan berpijak pada kenyataan bahwa sex sejalan dengan peradaban manusia, seyogyanya sex juga diproporsikan sebagai sebuah aktifitas dan sekaligus sebuah fenomena peradaban.Tentu dengan segala konsekuensi yang menyertainya. Sex bukan lagi sebagai urusan perkelaminan semata. Sex bukan lagi urusan ketelanjangan yang membirahikan. Sex adalah sebuah subtilitas dan sublimasi keluhuran naluri manusia yang beradab. Jadi sex bisa saja hanya berupa tatapan mata. Sentuhan dan bahkan komunikasi inner yang paling abstrak sekalipun. Dengan kata lain, dalam peradaban sekarang, sudah layak kiranya jika sex dinaungi oleh nuansa estetis. Bukan sekedar buka baju, memelorotkan celana dalam, kemudian rekam sana sini.

Adalah Greg Anderson dan Elisabeth Joy Roe.Dua pianis yang dapat dikatakan telah membawa sex dalam sebuah ranah yang sangat estetis dan artistik. Mereka melakukan persenggamaan dan persetubuhan yang subtil dalam esensi artistik melalui piano.Bersetubuh dengan medium piano .tanpa perlu buka baju,memelorotkan celana dalam.namun rangsangan sex yang sehat terpancar nyata dari kreatifitas mereka.( tentu saja apresiasi terhadap kreatifitas mereka sama sekali tak mengikut sertakan dan sama sekali tak diusung dalam keterkaitan dengan ranah agama)

Greg Anderson adalah pianis Amerika kelahiran 28 September 1981.Namanya memang tidaklah melegenda seperti Barenboim,Horowitz ataupun Evgeny Kissin.Namun Greg Anderson memiliki sebuah konsepsi kreatifitas yang luar biasa dalam menghidupkan musik klasik.Greg Anderson ingin bahwa musik klasik menjadi sangat “dekat” dan akrab dengan berbagai kalangan sosial. Langkah kreatifitasnya dilakukan dengan membuat sajian musik klasik yang memiliki warna berbeda. Pengaruh lingkungan kampusnya dan juga kegemarannya akan teknologi,menjadikan Greg Anderson mampu mencetuskan sesuatu yang “tidak biasa” dalam sajian musik klasik. Musik klasik yang lazimnya terkesan aristokrat,presisi,sedikit angkuh dan elitis,di tangan greg Andersom menjadi sebuah teater multi media, yang sangat menyentuh sisi kehidupan manusia kebanyakan.termasuk aktifitas sexuolnya. Manifestasi konkritnya adalah dengan mengambil bentuk duo dan duet bersama rekannya,Elisabeth Joy Roe.

Hal pertama yang dilakukan AndersonRoe,sebutan akrab mereka,adalah dengan melakukan arransemen ulang. Arransemen ulang terhadap karya-karya musik klasik terkemuka. Seperti misalnya Liebertango karya Astor Piazolla dan Blue Danube dari Johann Strauss.Dengan arransemen ulang tersebut,terbukalah peluang bagi mereka berdua untuk dapat bercinta, sex melalui media piano dan musik.

Jika kita menyaksikan pagelaran Anderson Roe,dalam makna denotatifnya, kita akan menyaksikan sebuah gelaran sex tanpa buka baju. Sex dalam ranahnya yang paling estetis. Dan ini sungguh menarik dan nikmat untuk dinikmati. Tatapan mata,getaran inner,dan virtuositas permainan piano mereka sungguh merupakan hal artistk dan estetis tentang sex. Simak saja sewaktu Roe memainkan Liebertango dari Astor Piazolla. Anderson meresponnya dengan menekan dawai piano untuk memberi efek redaman atau pizzicato. Fantasi kita mampu digerakkan bahwa saat itu ada getar asmara dan sex yang artistik yang mengalir melalui tuts piano dan dawainya. Tentu Anderson dan Rue tak pernah menyebut bahwa mereka mempertontonkan sex. Namun jika kita cermati dan mencoba mengais maknanya, tersemburatlah esensi tentang sex.

Sex dengan estetika dan nilai artistiknya,terutama dalam ranah seni,tentu juga akan mengundang persepsi negatif. Bisa saja timbul pendapat bahwa dalam gelaran Anderson Roe,sex dipertontonkan di ruang publik. Ada satu hal yang mestinya disikapi dengan agak arif. Bahwa yang dilakukan Anderson Roe sama sekali bukan tontonan. melainkan interpretasi mendalam tentang musik,tentang sex. tentang makna estetis kehidupan dalam sebuah kemasan gelaran seni yang punya bobot.

Sex memang lebih dari sekedar penetrasi dan merema-remas. Tak hanya buka baju memelorotkan celana dalam. Sex adalah karunia Ilahi yang estetis dan artistik. Serta,dengan nilai artistik estetisnya, sex dapat dibagi kepada banyak orang tanpa harus menjadi sebuah tontonan pornografi.

Selamat Menikmati Kesejatian Seks dalam segala Pesona keindahannya

Salam Hangat selalu:

[caption id="attachment_111459" align="aligncenter" width="267" caption="Michael Gunadi"][/caption]

KONTEN MENARIK LAINNYA
x