Mohon tunggu...
Yakobus Sila
Yakobus Sila Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Sarjana Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero dan Magister hukum di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sekarang bekerja sebagai Praktisi di Perusahaan.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Hari Komunikasi Sedunia

3 Juni 2019   17:45 Diperbarui: 3 Juni 2019   20:17 0 4 0 Mohon Tunggu...

Pada Minggu, 02 Juni 2019, gereja Katolik merayakannya sebagai hari komunikasi sedunia. Untuk apa gereja Katolik merayakan hari tersebut dengan sebutan komunikasi sedunia? Apa yang penting dari perayaan hari Komunikasi tersebut?

Heiddeger menyebut bahasa sebagai rumah sang Ada. Sang ada adalah realitas. Hanya melalui bahasa realitas diungkapkan. Komunikasi mesti mengungkapkan bahasa yang menyejukan dan menyenangkan bagi semua orang. 

Dalam berbagai komunikasi sosial, kita sering menemukan manusia yang kurang memahami efek bahasa dengan baik dan benar, sehingga penggunaan bahasanya menindas orang lain. Ada suami-istri yang salah paham dalam komunikasi sehingga rumah tangganya terguncang dan bahkan berantakan. Ada anak dan orang tua miskomunikasi, sehingga relasi orang tua anak menjadi tidak harmonis.

Keseimbangan atau harmonisasi dalam komunikasi terjadi, ketika dialog tersebut terjadi bebas represif dan setiap komunikator siap menerima saran dan kritikan dari lawan bicara. Dalam bidang politik, rakyat selalu menjadi korban dari komunikator politik yang represif dengan gagasan-gagasan yang meng-hegemoni.

Mereka yang bertindak anarkis dalam demonstrasi, boleh jadi adalah korban dari hegemoni komunikator politik yang represif terhadap komunikan (penerima komunikasi). Ketidaksanggupan untuk bersikap kritis membuat mereka menerima begitu saja ide-ide ekstrim yang melawan negara dan membeci secara brutal lawan politik. Protes berlebihan, dan tindakan anarkis adalah indikasi ketidaksanggupan untuk melawan yang lain dalam tataran konsep. 

Ideologi ekstrim sengaja ditelurkan untuk membakar semangat para korban demi menuntaskan proyek dendam dan ketidakpuasan karena kekalahan dalam pemilu. Ketika perasaan sakit hati karena kalah tidak mampu diolah, maka orang bisa memperalat orang lain untuk berbuat jahat dan brutal. 

Komunikasi menjadi sangat menindas, karena komunikator dan komunikan beda level pengetahuan, sehingga mereka yang ilmunya rendah akhirnya menjadi korban kelicikan para elit politik. Mereka tidak sangguh menolak karena ada uang dan kebutuhan hidup menghimpit dan mendesak mereka untuk menerima tawaran itu. Komunikasi yang benar, mengandaikan semua pihak memiliki niat baik untuk berkomunikasi tanpa kehendak untuk menguasai dan menindas yang lain.