Mohon tunggu...
Yakobus Sila
Yakobus Sila Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Sarjana Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero dan Magister hukum di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sekarang bekerja sebagai Praktisi di Perusahaan.

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara

Cinta untuk Negeri

21 Mei 2019   15:39 Diperbarui: 21 Mei 2019   16:03 0 0 0 Mohon Tunggu...

Setelah pengumuman hasil pilpres dipublikasi, Jokowi-Ma'rud keluar sebagai pemenang. Prabowo-Sandi legowo dan ksatria menerima kekalahan tersebut, walau terasa menyakitkan karena perbedaan suara yang sangat tipis. Namun, sebagai mantan jenderal, Prabowo menghimbau para pendukungnya untuk menerima kekalahan tersebut.

Saya terharu dengan sikap Prabowo yang tidak macam-macam terhadap pilihan rakyat yang masih jatuh pada sang incumbent, Jokowi. Sikap menerima Prabowo bisa dibaca sebagai upaya untuk menenangkan massa yang loyal padanya, agar tidak terjadi benturan para pendukung yang bisa jadi tidak terhindarkan jika diprovokasi. 

Massa pendukung para calon presiden belakang saangat ngotot dan mudah tersulut emosinya untuk bertindak anarkis. Jika kita matang secara demokrasi, maka hanya kepala dingin dan sikap menerima pihak yang menang saja yang diutamakan demi persatuan Indonesia. Berpolitik mesti tetap santun, walau kekalahan demi kekalahan kita alami. 

Kekalahan dan kemenangan dalam kompetisi adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Jika tidak mau kalah, orang tidak boleh ikut kompetisi, karena akibat langsung dari kompetisi adalah kemenangan dan kekalahan.

Kondisi terakhir menunjukkan ketidakmatangan demokrasi oleh kelompok yang sebelumnya merasa diri harus selalu menang tapi kenyataannya selalu kalah. Prabowo menjadi contoh untuk pendukungnya dan orang-orang yang berusaha bermain di air keruh untuk kepentingan ideologis tertentu agar tetap legowo dan menerima hasil kompetisi. Prabowo tetap pribadi yang lapang dada dan ksatria menerima kekalahan, tapi orang di sekitar beliau belum bisa "move on" terhadap hasil pemilu presiden yang masih berpihak kepada Jokowi.

Ada hubungan timbal balik yang tidak terpisahkan antara kepercayaan rakyat dan ketulusan sang calon pemimpin untuk menjalankan mandat rakyat. Ingat, bahwa rakyat sudah sangat cerdas untuk memilih calon mana yang layak memimpin Indonesia lima tahun mendatang. Suara rakyat, adalah suara seluruh kekuatan alam semesta pertiwi yang tidak mau rahimnya diracuni pemimpin yang belum pantas. Kepantasan seorang pemimpin mesti diuji lewat proses panjang, bukan instan dan asal jadi.

Proses menjadi pemimpin negeri ini bukan diuji dan ditempa pada sebuah wadah yang disebut partai politik itu saja tetapi lebih pada kompetensi dan catatan riwayat hidup yang tampak oleh rakyat. Jokowi menjadi presiden untuk periode kedua setelah melalui tantangan dalam periode pertama. Tempaan kritik, dan jalan terjal dilalui Jokowi setelah hujatan bertubi-tubuh terarah padanya, tapi dia bergeming. Jokowi bersabar melewati batas kesabaran manusiawi karena seorang manusia apalagi seseorang kepala negara bisa menggunakan segala cara untuk membungkam para penghujat. Tapi Jokowi memilih diam, dan menyerahkan persoalan itu selesai sesuai prosedur hukum.

Banyak orang ragu akan ketegasan Jokowi, tapi langkah politiknya tidak sembarangan menghadapi godaan untuk menyalahgunakan wewenang. Beliau tetap tenang dan fokus memimpin negeri, dengan jalan blusukan yang sudah menjadi ciri khasnya. 

Akhirnya, sambil menunggu gebrakan baru Jokowi pada periode kedua, kita berharap partai oposisi dengan orang-orangnya yang suka nyinyir tanpa data, dapat mengawal secara dewasa jalannya roda pemerintahan lima tahun mendatang, karena cinta untuk negeri tidak terkalahkan oleh kepentingan politik sesaat dan konfrontasi tanpa akhir. Cinta untuk negeri mesti menjadi prioritas semua elemen bangsa, agar pertiwi menjadi rahim yang aman untuk semua warga negara.