Mohon tunggu...
M.Dahlan Abubakar
M.Dahlan Abubakar Mohon Tunggu... Purnabakti Dosen Universitas Hasanuddin
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Dosen Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin

Selanjutnya

Tutup

Bola

Ramang, Tanpa Lisensi Rauf Melatih (33)

7 Mei 2021   17:41 Diperbarui: 7 Mei 2021   17:47 25 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ramang, Tanpa Lisensi Rauf Melatih (33)
Rauf Ramang (Foto MDA)

 

Meski tidak memiliki sertifikat pelatih, tahun 1999 Rauf melatih Gasma Enrekang. Usai dia latih, pertama kali Gasma ikut turnamen Piala Habibie di Sidrap dan tampil sebagai juara III bersama dengan Gaspa Palopo. Dia melatih Enrekang atas jasa baik seorang putra daerah yang kebetulan bekerja sebagai  kontraktor  di Malaysia.

''Sekarang, Enrekang memiliki bupati yang gila bola (Latinro Latunrung),'' kata Rauf ditemui di kediamannya di bilangan Minasa Upa Makassar, 4 Juli 2010 malam. Dia bersama istri dan seorang anaknya tinggal di.rumah yang dikontraknya sejak tahun 1992 itu.

Pada akhir tahun 2006-awal 2007, Rauf pun sempat melatih salah satu kesebelasan kampung di Kecamatan Bula Seram Timur, Maluku. Dia terdampar melatih di kampung itu.atas jasa baik salah seorang temannya yang ingin melihat kampungnya bisa muncul karena sepakbola. Temannya itu pulang kampung dan berjanji pada pemerintah setempat akan mendatang seorang pelatih.Rauf Ramang malah digembar-gemborkan sebagai pelatih nasional. Tetapi tidak gusar dengan predikat itu, karena ayahnya adalah seorang maha bintang sepakbola nasional yang belum ada tandingannya hingga kini.

Dulu, kata Rauf, ada pelatih tanpa mengantongi selembar sertifikat kepelatihan dan berhasil juga. Melatih sebenarnya dari pengalaman. Sekarang serba duit. Padahal, model latihannya masih lebih bagus zaman dulu. 

''Kesebelasan itu dilatih sebagai persiapan menghadapi kompetisi antarkecamatan,'' kata Rauf sembari menyedot asap Gudang Garam kretek  kesayangannya.Berkat polesan tangan Rauf, kesebelasan tersebut meraih juara II tingkat kabupaten. Padahal, kesebelasan kampung  tersebut hanya dipoles selama 45 hari. Dia empat bulan berada di daerah itu, termasuk satu bulan nganggur menunggu transportasi pulang dari ibu kota kabupaten ke desa.

Yang dia latih adalah benar-benar anak-anak.kampung. Yang ABC-nya sepakbola harus diajarkan habis. Satu setengah bulan mereka ditangani. Kondisinya benar-benar miskin segala-galanya. (Bersambung)

VIDEO PILIHAN