Mohon tunggu...
Ina Tanaya
Ina Tanaya Mohon Tunggu... Penulis Lepas, Blogger dan Bidang Sosial

Blogger, Penulis , Traveller

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Kebersamaan Salat Tawarih dan Bukber Jadi Kerinduan Saat Pandemi

16 April 2021   14:58 Diperbarui: 16 April 2021   15:09 242 5 0 Mohon Tunggu...

Bagi teman-temanku yang pemeluk agama Islam,  hari Selasa tanggal 13 April 2021 adalah momen penting untuk memasuki Ramadan pertama yang telah ditetapkan oleh MUI .

Menjalani puasa tahun ini tentunya berat seperti yang pernah dilakukan pada tahun lalu.  Jika tahun lalu, pandemic masih mulai datang, dengan segala kekhawatirannya, orang berpuasa dan bersalat di rumah sendiri-sendiri tanpa adanya kebersamaan.

Salah seorang sahabatku telah menuturkan dengan sedih ketika tahun ini dia juga harus berpuasa sendirian tanpa keluarga karena dia tinggal di sini untuk bekerja.  Biasanya dia bisa salat tawarih bersama teman-teman sekantornya dan bahkan buka bersama dengan sahabat karib atau siapa pun yang mengajaknya. Tidak ada sepi atau sunyi dalam masa-masa yang sulit seperti ini.

Selanjutnya  dia sangat rindu sekali walaupun ada pelonggaran aturan untuk bisa tawarih pertama dimungkinkan dibuka di tempat masjid, tapi dia tetap memilih untuk di kamar kosnya. 

Masih dalam bayang-bayang bahwa tawarih itu memang tidak nyaman sendirian, tapi ada kegamangan bagaimana jaga protocol Kesehatan itu jadi syarat mutlak ketimbang mikirin kebersamaan.

Walaupun di masjid dekat kosnya itu diperbolehkan dengan persyaratan protokol Kesehatan dan membawa sajadah sendiri yang bersih, juga jumlah pengunjung masjid dibatasi hanya separuhnya, dia masih berpikir risikonya.

"Saya sudah jaga Kesehatan maximal, tetapi belum tentu orang lain yang ada dalam lingkungan dekat saya juga menjga Kesehatan seperti saya".  Masih ada "gap" bagaimana bentuk kebersamaan yang dia inginkan .  Hal itu tak  sinkron dengan pertimbangan Kesehatan yang dia anggap penting juga.

Ramadan buat sahabat saya ini jadi momen kedua yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya, kerinduan untuk kebersamaan saat salat tawarih dan buka puasa yang tak bisa hilang dalam ingatannya.

Makin jauh dari orang tua, dia merasakan dirinya harus dekat dengan Alloh yang melindungi dirinya. Dia harus berhikmat untuk tetap jaga Kesehatan dalam kondisi pandemic meskipun hatinya merindukan saat seperti dulu itu segera dapat dialami lagi.

Semoga ini tahun terakhir dia mengalami rindu kebersamaan yang tak mungkin terwujudkan.  Saatnya dia menyerahkan segala kerinduan itu kepadaNya yang empuNya segala  acara untuk bisa berserah.

Ucapan bijak yang dia dengar jika merasa sedih atau kangen dengan hal-hal yang diinginkan seperti yang lalu,  "Puasa bukan terintimidasi tidak ada teman untuk beribadah, berbuka.  Jika kamu masih rindu pada hal yang demikian, pertanda jiwa kekanak-kanakan yang masih melekat pada materi sebagai budak nafsu".

Semoga kesadaran tentang kerinduan sebagai kenormalan, dapat dirubah paradigmanya dengan spiritual yang lebih dalam.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x