Mohon tunggu...
Ina Tanaya
Ina Tanaya Mohon Tunggu... Penulis Lepas, Blogger dan Bidang Sosial

Blogger, Penulis , Traveller

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

Bergesernya Nilai "Bunga Papan"

10 Mei 2018   15:31 Diperbarui: 28 Mei 2018   18:05 2365 9 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bergesernya  Nilai "Bunga Papan"
Sumber: twsflorist.co.id

Indahnya bunga memang sangat menawan hati. Saya pecinta dan penikmat bunga yang luar biasa. Hanya cukup jadi penikmat tapi tak bisa memeliharanya. Jatuh cinta pada bunga itu menjadikan saya memahami apa arti bunga itu.

Bunga lambang dari suatu keindahan menurut saya. Tapi Bunga Papan ternyata menurut sejarahnya di zaman Yunani dan Romawi, bunga itu digunakan untuk mendekorasi  tempat-tempat sejarah seperti gereja dan tempat makam agara tempat tersebut menjadi tetap menarik dengan dekorasi bunga krans dalam berbagai variasi kreasi. 

Sebenarnya, saya sangat menghargai apa yang dikembangkan oleh pedagang bunga papan karena bunga papan jadi ladang bisnis yang tak pernah mati dan terus berkembang selama ada orang yang meninggal maupun pernikahan.

Namun, suatu ketika saya tersentak cukup keras ketika ada musibah dari  tetangga saya dimana suaminya meninggal secara mendadak. Suaminya masih muda, memiliki posisi cukup tinggi di BUMN dan tidak kalah pentingnya sedang dalam puncak karir karena dipindahkan ke Palembang untuk menduduki jabatan penting.

Saat saya melayat, kaget sekali melihat banyaknya bunga papan yang menghampar dari depan rumahnya sampai mulut gang. Entah penasaran saya belum juga berhenti untuk tidak menghitung jumlahnya. Saya hitung jumlahnya hampir 18 bunga  papan yang menghiasi jalan sunyi. Dari segi nilai harganya, jika harga satu bunga papan sekitar Rp. 700.000 artinya ada harga Rp. 12.600.000 yang terbuang di bunga papan.

Pastinya semua orang yang datang untuk melayat menyadari betapa jumlah bunga papan menunjukkan suatu prestise atas orang yang meninggal. Makin banyak bunganya, makin tinggi jabatannya atau makin kaya. Dalam bahasa yang lugas dikatakan betapa kayanya, tingginya jabatan orang yang meninggal ditentukan dari jumlah bunga papannya.

Bagi pemberi  bunga papan tentunya budaya memberi bunga papan adalah suatu kebiasaan atau tradisi untuk mengungkapkan rasa duka cita dengan bunga papan karena praktis dan mudah, tinggal order langsung dikirim. Demikian juga pada saat seorang pejabat/orang penting yang mengundang untuk pernikahannya putra/putrinya, maka berjejeran bunga papan di depan gedung/hotel yang tak terhitung jumlahnya.

Bagi penerima bunga, terus terang saya baru kali ini saya melihat kerepotannya seseorang yang menerima bunga papan harus direpotkan untuk membuangnya. Keesokann harinya, ibu yang baru kehilangan suaminya itu harus mencari  sebuah truk pengangkut dan menyewanya  dan membayar cukup mahal untuk membuang semua papan bunga itu. 

Dalam penuturannya itu sempat dia berkata, seandainya bunga itu bisa ditukar dengan nyawa suami saya, "Ach cukup merepotkan untuk membuangnya, uang dibuang percuma, tapi nyawa tak bisa diganti!"

Sebuah pernyataan yang sangat mendalam karena dengan perasaannya dalam duka yang mendalam, dia tak menginginkan datangnya bunga yang diinginkan adalah kembalinya nyawa suami atau paling tidak kehadiran teman yang mengirimkannya.

Satu hal lagi ketika sahabat saya sedang mantu, bunga papan pun ikut bertaburan di sebuah hotel tempat pesta anaknya. Berhubung dia sahabat saya, saya pun berani bertanya kepadanya, bagaimana kesan dengan bunga-bunga yang sangat indah dan bertaburan itu. Hanya satu kata yang dia berikan: "Merepotkan!"   Loh kenapa?  "Yach harus bayar lagi untuk mengatur pembuangannya!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x