Mohon tunggu...
Akhir Fahruddin
Akhir Fahruddin Mohon Tunggu... Perawat

| Bachelor of Nursing at Universitas Muhammadiyah Jakarta

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

"Remedial" Apakah Selalu Dikatakan Bodoh?

3 September 2019   16:56 Diperbarui: 3 September 2019   17:15 235 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Remedial" Apakah Selalu Dikatakan Bodoh?
KH Maimun Zubair | Disadur dari @iksantri

 

Remedial atau mengulang ujian dari mata kuliah yang tidak lulus seringkali hadir saat Ujian telah selesai. Remedial atau "her" seolah menjadi momok bagi mahasiswa. Tentu ini menjadi pelajaran sekaligus evaluasi terhadap sistem belajar, kedisiplinan dan fokus perhatian mahasiswa itu sendiri. Namun apakah remedial telah benar-benar menjadi evaluasi akhir dari proses belajar?

Ada pancaran tidak biasa di sebagian raut wajah mahasiswa dimana keraguan, kesedihan, denial sampai stress akibat pengulangan ujian karena nilai yang dicapai tidak memenuhi standar yang ditetapkan. Hal ini lumrah dalam tradisi akademik namun penetapan remedial tidak serta merta memberi justifikasi dan pelabelan bahwa mahasiswa remdial itu karena mereka tidak bisa, kurang cermat atau tidak cerdas.

Melihat kedalam, kita akan memahami bahwa sistem ini dibuat sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan mutu dari mata ajar yang ditetapkan di setiap semesternya. Akan tetapi remedial yang terjadi saat ini masih belum menghadirkan keadilan bagi sebagian yang merasakannya. Idealitanya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan sumber daya manusia dalam visi dan misi institusi. Namun realitanya bahwa penilaian terhadap mahasiswa tidak hanya mencakup aspek kognitif saja melainkan juga aspek psikomotorik dan afektif.

Menilai mahasiswa hanya dari apa yang dia pelajari dan hasilkan melalui ujian akhir bukanlah inti dari segelanya. Disinilah dosen kemudian menggabungkan aspek lain yaitu psikomotorik dari praktikum, diskusi dan tanya jawab, keaktifan mahasiswa bertanya di kelas serta kemampuan menyelesaikan masalah.

Jika dua aspek tersebut telah digabungkan maka aspek lain yaitu afektif berupa prilaku, sikap dan kehadiran menjadi penilaian selanjutnya. Saya tidak ingin mempertentangkan tapi beginilah sistem mengaturnya. Pendekatan sistem akan lebih baik manakala seluruh aspek yang ada dinilai secara komprehensif dan berkeadilan, sehingga humanisasi yang menjadi tujuan pendidikan tercapai.

Misalnya, seorang mahasiswa menemukan dompet di jalan maka secara kognitif dia tahu bahwa itu dompet seseorang yang terjatuh. Aspek psikomotoriknya kemudian mengambil dompet itu dan mengamankannya. Tapi dua aspek tadi belum cukup manakala aspek afektifnya memberikan pilihan apakah mengantarkannya ke kantor polisi atau mengambil dompet tersebut untuk menjadi milik pribadi.

Tidak jarang, dosen hanya menilai aspek kognitif namun melupakan aspek lain yang sangat mendasar. Pada kenyataannya mahasiswa hanya bisa "nerimo" sebagai bentuk ketaatan kepada dosen. Tapi hal mendasar jika dicermati secara seksama, mahasiswa tidak diajarkan untuk "nerimo" namun ada kebebsasan akademik yang menjaminnya untuk bertanya, mengemukakan pendapat, mengkritisi penilaian yang ada termasuk mempertanyakan aspek penilaian yang ada.

Tidak jarang pula, mahasiswa mengedepankan sikap takut padahal pendidikan akademik mengajarkan prinsip bahwa dosen adalah mitra bukan sebagai "in co parentis" (sosok yang otoriter dan superior). Inilah tradisi yang dilupakan mahasiswa zaman now, karena secara umum mental kita berubah bukan karena kita tidak memahami persoalan yang ada namun kita memilih diam dan taat pada aturan yang ditetapkan.

Tulisan ini tidak bermaksud membuat friksi namun sebagai evaluasi sejauhmana kita memahami sistem, tradisi akademik juga upaya untuk berbenah melihat masalah yang ada. Kita dengan "Kemahaannya" bukan lagi sosok yang hanya bisa menerima tetapi juga memberi antitesa terhadap permasalahan yang ada.

Ke depan, tentu institusi menginginkan mahasiswanya lulus dengan nilai yang bagus, IPK yang memuaskan tetapi aspek lain berupa soft skill juga jangan dilupakan. Kemampuan mahasiswa mempraktikkan ilmu yang ada, leadership dan kemampuan komunikasi juga menjadi kunci keberhasilan. Itu semua akan menjadi sempurna manakala dibaluti dengan akhlak yang baik sebagai manifestasi dari aspek afektif.**

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x