Mohon tunggu...
Hanif Sofyan
Hanif Sofyan Mohon Tunggu... Freelancer - penyuka kopi rumahan

Buku, De Atjehers series 1-2: Dari Serambi Mekkah Ke Serambi Kopi;

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mestikah Semua "Pengorbanan" Berakhir Di Panti Jompo?

3 Desember 2021   22:44 Diperbarui: 4 Desember 2021   22:08 106 9 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

BBC

Berapa banyak waktu dalam 24 jam terakhir, seminggu terakhir, sebulan terakhir atau bahkan setahun terakhir, kita bertemu dengan orang tua kita. Sekedar menyapa mereka jika kita berjauhan. Atau kita hanya sempat berjumpa di hari lebaran, ketika mudik?.
Apakah kita pernah menanyakan bagaimana kabarnya?. Baik-baik sajakah, sakitkah, atau sunyikah ia dalam kesendirian jika berjauhan dengan kita. Apakah anak-anak kita juga mengingat nenek-kakek mereka?.

Dalam kesibukan yang begitu menyita waktu, kita sering tak hanya melupakan orang tua kita, melupakan kasih sayang mereka, bahkan sekedar tanggal kelahiran mereka. Padahal mereka mencurahkan semua waktunya untuk kita, sebelum akhirnya kita dewasa dan mandiri dengan langkah kita. Dari merangkak, berdiri, tertatih, hingga bisa berlari seperti sekarang.

Coba ingat-ingat kembali, apa yang sudah kita berikan untuk mereka hingga hari ini, bisakah membalas semua kebaikan mereka dulu?.

Sejak kecil orang tua kita mengenalkan kita dengan Tuhan, dengan kebaikan, dengan hidup yang keras dan tentu saja dengan nilai-nilai kasih sayang.

Sejak kecil kita tak asing dengan lagu kasih ibu, yang dikenalkan oleh Mochtar Embut yang mengajarkan kepada kita tentang kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya, agar sedari dini kita menyadari betapa besar kasih sayang seorang ibu, yang kasih sayangnya tak terbalaskan. Lirik-liriknya lekat dalam ingatan bahkan ketika kita lama tak mendengarnya sekalipun.

Kasih ibu,Kepada Beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia.

Setiap kali mendengar lagu Bunda, yang liriknya ditulis Meliana, dan  dipopulerkan Melly Goeslaw, terasa begitu menyentuh hati. Lagu itu terus saja terngiang dalam ingatan.

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh, bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh, bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku

Kita yang sedang berjauhan, tiba-tiba terasa ingin dekat, bahkan untuk sekedar mendengar lembut suaranya dari telepon. Kita yang tak lagi berada di bumi yang sama, tiba-tiba teringat, bagaimana pusara beliau saat ini. Mungkinkah rerumputan telah begitu menjulang, tinggi menutupi nisannya. Pertanda begitu lama kita tak pernah mengunjunginya. 

Beruntung jika kita masih bersama, bisa memandang wajahnya, menggodanya sesekali, memintanya bercerita tentang kita sewaktu kecil, atau memasak makanan favorit di dapur yang sama dengan ibu "chef favorit" kita. Bisa tahu apa kesukaan ibu, apa kebiasaannya, sehingga kita bisa membuat kejutan yang membahagiakannya, meskipun hanya dengan sebuah hadiah kecil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan