Mohon tunggu...
Hanif Sofyan
Hanif Sofyan Mohon Tunggu... Freelancer - penyuka kopi rumahan

Buku, De Atjehers series 1-2: Dari Serambi Mekkah Ke Serambi Kopi;

Selanjutnya

Tutup

Viral Pilihan

Catatan Spesial (2); Menunggu Kelahiran Best In Palugada Category

28 November 2021   14:27 Diperbarui: 8 Desember 2021   12:09 149 11 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Catatan ini spesial, karena ditulis habis Kompasianival Award, dan ditulis oleh penulis yang naga-naganya bakal jadi palugada.

Menyimak hasil pengumuman yang resmi diliris, coba simak jawaranya; Pak Tonny Syiariel (The Best in Specific Interest & People Choice), Kae Guido Arisso (The Best in Citizen Journalism), Bro David Abdullah (The Best in Opinion), dan Bang Indra Rahadian (The Best in Fiction). Semuanya berkategori tematik alias fokus pada isu tertentu, bukan model palugada (apa lu mau gue ada), nulis semua, semuanya ditulis. 

Begitupun, membaca curhatan Jepe-Jepe yang katanya, nggak suka nulis panjang, para awardees yang kepilih pun disebutnya masih mengecewakan, lengkap dengan analisisnya (baca; "4 Kompasiana Awardees 2021? Mengecewakan!"). Tentu ini sebuah inputan positif, tinggal kita analisis kebenarannya dan sisi baiknya jadikan pembelajaran.

Bahkan kata Engkong Felix Tani, yang bisa milih kompasianer andalan cukup dengan, cucuk mata kerbau saja, langsung nebak Tonny Syiariel, karena kompasianer yang satu itu, penulis artikel pariwisata paling handal dan terpercaya di Kompasianer kini. Tapi, ada tapinya, menurut prediksi Engkong, Mas Tonny akan meraih penghargaan kategori Best in Fiction.  Sebab, bagi Engkong Felix, semua cerita pariwisata Mas Tonny itu hanyalah cita-cita, dan cita-cita adalah fiksi. Prediksinya sebagai jawara benar adanya, tapi kategorinya justru di Best Specific Interest, bukan dari sisi Fiction-nya karena cerita Tonny “dibaca“Admin K, bukan fiksi tapi realitas.

Setali tiga uang dengan ulasan Jepe-Jepe, membaca tulisan Tonny tentang wisata, ibarat baca National Geographic yang dahsyat!, sayangnya di musim pandemi, jalan-jalan itu hanyalah mimpi. Seperti kata Jepe Jepe lagi, Jangankan bisa pergi ke danau indah di Slovenia, Toba atau pulau-pulau memesona di Halmahera, bisa pergi ke mal untuk beli es boba di saat pandemi ini, sudah bisa bikin girang koprol tak terkira!.

Tapi namanya beda sudut pandang beda, adalah sebuah “sunatullah”, sesuatu yang jamak sifatnya. Jika mengingat kata-kata ajaib para juri, maaf-kita tidak bisa memuaskan semua orang. Penilaian bisa dinilai sangat objektif atau subjektif tergantung siapa yang menilai dan dalam kepentingan atau kapasitas apa. Namun jika ada kebenaran yang bisa dijadikan sandaran, atau menjadi bahan pertimbangan segala sesuatunya menjadi lebih baik, kenapa tidak, monggo dipersilahkan.

Tentang Palugada

Maka seperti transformasi Acek Rudy, menjadi generalis “palugada”, menurut Felix Tani yang analisisnya didasarkan pada teori kenthirisme, adalah salah satu sebab dia kehilangan peluang mendapatkan K-Award. Alasannya, kini sulit banget memasukkan artikel-artikel Acek Rudy dalam kategori Citizen Journalism, Opinion, Fiction, ataupun Specific Interest. Peluanganya hanya bisa terpenuhi, terkecuali  Admin K berani kenthir dengan merilis kategori award baru:  Best in General Interest, pastilah Acek Rudy juaranya.

Bagaimana dengan peluang  kompasianer Engkong Felix sendiri, karena seperti katanya sendiri, ia jenis kompasianer jompo, tukang risak, yang jadi momok bagi Kompasianer Milenial.  Bahkan soal konten microsite tentang pengumuman kompasianival 2021 yang adminnya; lupa mengisi menu; menu Mainstage, Rundown, Community Trivia, Community Longue, Photo Booth, Nostalgia, Game , yang kontennya masih kosong, dibaca felix sebagai hoaks. Faktanya kompasianival katanya direduksi hanya menjadi Kompasiana Award 2021 saja. Ini bukan mengompori kompor super, cuma meneruskan cerita saja, karena rasanya ada benarnya, kecuali soal pilihan kata “hoaks”, ngeri bacanya. Intinya Engkong juga tukang kasih masukan positif, bukan kompor.

Kembali pada inti catatannya, Apakah premis atau asumsi Engkong Felix soal palugada tak bakal jadi nominee, permanen bagi pemikiran admin K?. Apakah palugada sebuah kesalahan?. Apakah penilaian tidak bisa disandarkan saja pada tulisan itu sendiri, tak peduli siapa nulis, yang penting substansinya tepat, benar, menarik, menggugah dan semua nilai plus lain. Tanpa melihat tema?. Meskipun admin K, pasti bakal kesulitan, karena penilaiannya jadi seperti lomba menulis saja. Benar apa benar?. Bisakah substansi sebuah tulisan, walaupun berasal dari penulis jenis palugada bisa jadi instrumen pengukur sebuah nominee?.

Saya jadi tergoda ikutan bertanya karena terus terang, saya merasa selama ini bertindak seperti palugada, meskipun minat tetap pada politik, ekonomi, namun film, musik, sosbud, bahkan fiksi juga sangat menggoda untuk ditulis, karena diniatkan untuk melepas penat. Menulis sejatinya ya untuk melepas unek-unek. Bahkan dulu rumus menulis saya adalah ”tulis apa yang kamu pikir, bukan pikir apa yang kamu tulis”, karena dasarnya kita tidak mau di kungkung rumus, pakem atau tema tertentu yang super rigid, yang penting lepas bebas. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Viral Selengkapnya
Lihat Viral Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan