Mohon tunggu...
Wuri Handoko
Wuri Handoko Mohon Tunggu... Penikmat Kopi dan Belajar Menulis

Arkeolog, Peneliti, Penikmat Kopi, Pecandu Senja, Pencinta Telaga, Belajar Menulis

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Cara Mudah Menulis Artikel Ilmiah

2 Agustus 2020   13:37 Diperbarui: 3 Agustus 2020   05:44 459 34 13 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cara Mudah Menulis Artikel Ilmiah
ilustrasi tumpukan buku. (sumber: pixabay/ninocare)

Bagi sebagian peneliti, bahkan mungkin sebagian besar peneliti, menulis karya ilmiah itu sungguh sulit. Padahal menulis karya ilmiah itu pekerjaan sehari-hari peneliti. Bagaimana tidak, tugas utama peneliti adalah melakukan penelitian sekaligus publikasi ilmiah hasil penelitiannya. 

Artinya antara pekerjaan meneliti, yaitu mengumpulkan data penelitiannya dengan menulis karya ilmiah itu satu paket. Soal ini sudah saya bahas sebelumnya di Kompasiana beberapa hari sebelumnya. 

Namun kebanyakan, peneliti terlalu asyik mengumpulkan data penelitian, tapi lupa mempublikasikan datanya. Apakah menulis karya ilmiah (arkeologi) itu sulit? Jawabannya tidak, mengapa? karena pada saat melakukan penelitian, kita sebenarnya sudah melakukan sebagian besar pekerjaan menulis ilmiah. 

"Penulisan ilmiah sudah punya pola atau komposisi baku penulisan karya ilmiah. Yang perlu dipikirkan mula-mula adalah peneliti atau penulis ilmiah arkeologi mengisi pokok-pokok pikiran setiap bab atau subbab."

Jadi begitu pekerjaan penelitian sudah selesai kita lakukan, kita bisa bersegera menuliskannya ke dalam bentuk karya tulis ilmiah. Para peneliti arkeologi pada umumnya sudah paham, bahwa penulisan ilmiah sudah punya pola atau komposisi baku penulisan karya ilmiah. Yang perlu dipikirkan mula-mula adalah peneliti atau penulis ilmiah arkeologi mengisi pokok-pokok pikiran setiap bab atau subbab.

Peneliti mengisi pokok pikiran untuk subab latar belakang, metode, kerangka teori dan sebagainya. Sebenarnya kalau semua sudah ada pokok-pokok pikiran dalam setiap subbab, maka menulis ilmiah itu mudah. 

Asal peneliti punya ketekunan untuk mengumpulkan referensi. Hanya modal ketekunan saja, karena referensi dapat diunduh gratis di internet dan dunia maya menawarkan begitu banyak referensi yang kita butuhkan.

Menulis itu soal kebiasaan, jadi kalau dibiasakan, maka ketrampilan itu bisa diasah atau terasah dengan sendirinya. Memang menulis ilmiah itu punyan komposisi yang baku. 

Tetapi para peneliti juga sudah paham itu. Menulis ilmiah, yang paling penting adalah membangun kerangka berpikir, karena dengan kerangka berpikir itulah kita punya kepekaan untuk menemukan isu atau masalah.

Dengan modal data yang kita kumpulkan dan seperangkat teori yang kita himpun, maka penjelasan bisa diuraikan. Demikianlah sebenarnya alur menulis ilmiah.

Jadi menulis karya ilmiah, khususnya arkeologi, sesuai bidang profesi saya hehehe....yang pertama kali dibutuhkan adalah kepekaan kita atau kalau boleh dikatakan kejelian kita menangkap isu atau masalah yang hendak kita pecahkan.

Dan sebenarnya setelah mengumpulkan data dan menganalisisnya, sebenarnya kita sudah menyimpan jawaban atau penjelasan dari isu yang hendak kita pecahkan.

Baiklah, saya hanya ingin berbagi pengalaman, mungkin setiap orang berbeda, tapi saya akan membagikan versi saya, berdasarkan kebiasaan saya. Sekali lagi ini versi saya, bagi teman-teman yang gak percaya, dipersilakan mengikuti banyak bimbingan penulisan ilmiah, yang diadakan oleh banyak lembaga penelitian.

Setiap saat LIPI juga mengadakan semacam diklat penulisan ilmiah, yang saya yakin teman-teman peneliti juga sering ikuti. Hal ini karena biasanya LIPI mengundang secara khusus lembaga-lembaga penelitian di seluruh kementerian yang ada. Namun, banyak pula usai mengikuti diklat, tetap saja, sebagian peneliti kesulitan mengimplementasikannya.

Bisa jadi karena memang minat yang kurang, bakat yang tidak diasah, tidak punya bakat menulis dan tidak sering (baca: malas) mencoba, atau alasan apapun. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x