Edukasi

Konselor atau Dokter?

7 Maret 2019   12:53 Diperbarui: 7 Maret 2019   13:08 59 3 1

Suatu ketika di sekolah sebut saja nama nyaa Ainnaya,  dia adalah salah satu murid berprestasi disekolahnya. Anak yang rajin dan baik  dalam bergaul dengan teman-teman nyaa. Dia duduk dikelas 12 MAN jurusan IPA. Bulan-bulan ini memang sedang sibuk-sibuknya. Bulann mendekati ujian nasional,  bulan mendekati seleksi penerimaan mahasiswa baru.

Tak seperti biasanya Ainnya yang terlihat selalu ceria kini raut wajahnya bebeda dengan biasanya. Ada apa dengannya?  Fathiya sebagai teman soibnya selayaknya ingin mengetahui ada apa dengan Ainnya. Lama kelamaan fathiya mendekatinya secara perlahan-lahan ingin mengetahui apa penyebabnya.

Akhirnya si ainayya barulah mencurah kan isi hatinya kepada fathiya, menceritakan hal yang dialami nya.  Barulah fathiya mengerti apa yang dirasakan ainayya. Ainnaya mengalami suatu masalah dimana setelah lulus MAN nanti dia ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi,  di perguruan tinggi tempatnya tapi di sisi lain ainnya berasal dari keluarga ya ekonomi nya dibawah sedangkan dia kekeh ingin masuk PTN di sisi lain dia juga memikirkan biaya nya.  Akhirnya Fathiya menyarankan untuk berkonsultasi dengan guru BK disekolah nya mengenai masalahnya.

Di ibaratkan sebuah penyakit,  masalah ainayya tersebut juga perlu di diagnosa apa penyebab nya sehingga dia terlihat tidak seperti biasanya. Hampir semua oranh di dunia ini mengalami suatu konflik. Baik itu konflik fisik maupun konflik batin. Baik itu dialami oleh individu maupun oleh kelompok. Namun sejatinya masalah bisa diselesaikan dengam baik apabila mereka mau mencari jalan keluarnya.

Dan dari ilustrasi masalah tersebut diatas, tidak semua orang bisa mengungkapkan masalahnya kepada orang lain,  atau bahkan menyelesaikan masalahnya dengan sendiri. Dari masalah ainayya tersebut bisa diselesaikan disekolah dengan guru BK. Dengan awal BK terlebih dahulu mendiagnosis apa yg terjadi dengan si ainayya tersebut.

Tidak hanya itu sebagai guru BK dalam hal mendiagnosa BK tidak boleh sembarangan,  melainkan ada hal-hal yang harus diperhatikan. Seorang konselor dalam mendiagnosis harus mengamati tanda-tanda gejala, mendengarkan keluhan,  dan mencari masalah yang dialaminya. Untuk dapat melakukannya, konselor juga harus mempertinbangkan aspek-aspek yang ada.

Untuk itu BK harus atau konselor harus peka terhadap klien nya mengerti apa yang dirasakan oleh kliennya. Dari hasil diagnosa itulah seorang konselor selayaknya bisa mencari jalan keluar secara bersama-sama.