Mohon tunggu...
WS Thok
WS Thok Mohon Tunggu... Wiraswasta

Lahir di Jawa-Timur, besar di Jawa-Tengah, kuliah di DI Yogyakarta, berkeluarga dan tinggal di Jawa-Barat, pernah bekerja di DKI Jakarta. Tak cuma 'nguplek' di Jawa saja, bersama Kompasiana ingin lebih melihat Dunia.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Tokoh-tokoh Wayang dengan Kelainan Fisiknya [1]

2 April 2011   15:23 Diperbarui: 26 Juni 2015   07:11 0 5 21 Mohon Tunggu...
Tokoh-tokoh Wayang dengan Kelainan Fisiknya [1]
1301757104776267701

Para pencinta wayang purwa (yang bersumber dari cerita Mahabarata dan Ramayana) biasanya bisa dengan mudah mengetahui perbedaan tokoh-tokoh wayang antara satu dan lainnya. Perbedaan itu bisa dilihat dari ukuran atau besar kecilnya fisik wayang, jenis kelamin, bentuk anggota tubuh (rambut, mata, hidung, mulut, tangan, kaki, dll), pakaian dan aksesoris yang dikenakannya. Ada yang sepintas mirip namun berbeda, misalnya antara Prabu Kresna dan Batara Wisnu. Perbedaannya yang menonjol terletak pada aksesorisnya, Kresna memakai 'mekutha', sedangkan Batara Wisnu memakai 'kethu oncit' dan 'sampir' pada bahunya.

[caption id="attachment_99685" align="aligncenter" width="300" caption="Kresna dan Batara Wisnu [2"][/caption]

Dua tokoh wayang yang benar-benar sulit dibedakan adalah antara Nakula dan Sadewa. Saya kesulitan mengenali tokoh kembar itu karena semua ‘faktor pembeda’ di atas benar-benar sama. Meski demikian kedua tokoh itu mudah dibedakan dengan tokoh-tokoh wayang lainnya.

[caption id="attachment_99687" align="aligncenter" width="300" caption="Nakula dan Sadewa [2"][/caption]

Menurut Sagio [1], pengrajin wayang kulit di Yogyakarta, ukuran fisik wayang bisa dibedakan menjadi delapan kelompok (beserta salah satu contohnya saja), yaitu: buto/raksasa (Kumbakarna), gagahan (Dasamuka), katongan (Gathutkaca), bambangan (Arjuna), bambang jangkah (Wisanggeni), putren (Srikandi), dhagelan (Semar) dan setanan (?).

Berdasarkan perbedaan bentuk anggota tubuh, wayang mempunyai jenis mata yang disebut: kiyipan, kiyeran, peten, gabahan, kedhelen, plelengan, thelengan, rembesan, dll.  Jenis hidung ada yang disebut: ambangir, sembada, dhempok, mungkal gerang, medang, nyanthik palwa, bunder dan nemlik. Jenis mulut ada yang disebut: salitan, mingkem, mesem, gusen, mrenges, anjeber dan ngablak. Dll.

Kelainan fisik yang saya maksudkan adalah ketidak-normalan bagian tubuh dari tokoh-tokoh wayang tersebut. Saya tidak menyoroti tentang perbedaan ukuran fisiknya. Sebagai contoh antara Kumbakarna dan Gunawan Wibisana adiknya, ukurannya jauh berbeda, namun semuanya normal, bukan kelainan. Masing-masing sesuai ukuran dalam kelompoknya. Saya juga tidak membahas tokoh-tokoh wayang yang berupa binatang (misalnya: kera, ular, gajah, kijang, burung, dll.) atau sebagian anggota tubuhnya berupa binatang (misalnya: Mahesasura - raksasa berkepala kerbau, Lembusura - raksasa berkepala sapi, Yuyu Rumpung – raksasa berkepala ketam, dll).

Tujuan penulisan ini tak hendak meremehkan apalagi melecehkan kelainan fisik itu, dan bisa diketahui di akhir tulisan setelah semua tokoh-tokoh wayang itu diungkapkan. Ternyata ada yang menarik yang bisa kita petik sebagai pembelajaran (Hihihi… biar penasaran). Berikut adalah 20 tokoh-tokoh wayang yang mempunyai kelainan fisik itu. [2]

1.Togog, bermulut lebar

Menurut serat “Purwacarita”, Sanghyang Tunggal dan Dewi Rekatawati ‘melahirkan’ telur yang kemudian menjadi bayi. Dari kulit telurnya berubah menjadi Batara Antaga, dari putih telurnya menjadi Batara Ismaya, dan dari kuning telurnya menjadi Batara Manikmaya.

[caption id="attachment_99683" align="aligncenter" width="300" caption="Togog - Dok Pribadi"][/caption]

Batara Antaga dan Batara Ismaya masing-masing merasa yang berhak atas tampuk pimpinan Kahyangan Jonggring Salaka atau Suralaya. Mereka bertanding kesaktian, siapa yang bisa menelan gunung dan memuntahkannya, itulah yang berhak tahta kahyangan. Batara Antaga giliran yang pertama. Meski sampai mulutnya robek, tetap saja tidak dapat menelan gunung. Oleh karenanya mulutnya menjadi lebar. Meski bermulut lebar tidak berarti suka menebar kabar bohong atau hoax.

Atas perintah ayahnya, Batara Antaga selanjutnya diperintahkan turun ke marcapada (dunia) dengan berganti nama Togog, untuk membina manusia yang angkara murka agar menjadi baik. Tidak heran Togog (ditemani Bilung) selalu menginthili (mengikuti) para ksatria jahat atau berwatak buruk.

2.Semar, berpantat besar

Setelah Batara Antaga gagal menelan gunung, giliran Batara Ismaya. Batara Ismaya bisa sih menelan gunung, namun repot memuntahkannya. Ia mencoba mengeluarkannya melalui (maaf) anusnya, namun malah nyangkut di pantatnya, menjadikan pantatnya besar. Dalam pewayangan (maaf lagi) kentutnya Batara Ismaya ini digambarkan bisa menimbulkan angin ribut atau puting beliung yang bisa menyebabkan  robohnya pohon-pohon, seperti yang terjadi baru-baru ini di sekitar Senayan, Jakarta.

[caption id="attachment_99682" align="aligncenter" width="300" caption="Semar - [2"]--"][/caption]

Adu kesaktian tanpa wasit antara Batara Antaga dan Batara Ismaya ketahuan ayahnya, Sanghyang Tunggal. Keduanya kena marah habis. Selain perbuatan itu tidak baik, juga merusak badan, keduanya menjadi kurang proporsional dan tidak atletis lagi. Sebagai hukumannya, keduanya disuruh turun ke dunia. Berbeda dengan Togog, Batara Ismaya yang selanjutnya ganti nama menjadi Semar ditugaskan membina para golongan putih, ksatria yang baik-baik saja. Tak heran Semar (selanjutnya ditemani Gareng, Petruk dan Bagong) selalu menginthili para ksatria utama, seperti Puntadewa, Arjuna, Abimanyu, dll. Selain memberi nasehat-nasehat, para punakawan juga menghibur tuannya.

3.Batara Guru, bertangan empat

Berhubung Batara Antaga dan Batara Ismaya sudah mempunyai tugas baru di marcapada, maka Batara Manikmaya atau lebih dikenal dengan sebutan Batara Guru yang ditetapkan memimpin Kahyangan oleh Sanghyang Tunggal, membawahi para bidadari. Digambarkan bahwa Batara Guru bertangan empat, bertaring kecil, berleher biru, berkaki apus (semacam penyakit polio) yang selalu mengendarai Lembu Andini, seekor sapi.

[caption id="attachment_99681" align="aligncenter" width="300" caption="Batara Guru - [2"]"][/caption]

Mengapa Batara Guru bisa bertangan empat? Berikut hasil investigasinya.

Istri Batara Guru adalah Dewi Uma atau Umayi. Dewi Uma yang cantik dan sakti itu pada mulanya ogah diperistri, kecuali jika Batara Guru bisa menangkapnya, sebagai syaratnya. Batara Guru berusaha mengejar dan menangkap, namun Dewi Uma bisa berkelit layaknya belut. Akhirnya Batara Guru memohon kepada Hyang Wenang, kakeknya agar diberi tambahan tangan.  Sesudah bertangan empat, barulah bisa menangkap Dewi Uma. Karena bertangan empat itu, ia juga dikenal dengan nama Sang Hyang Caturbuja.

4.Batara Mahadewa, bermuka empat

Kalau bermuka dua tentu pembaca tahu artinya, namun bermuka empat tidak berarti pendiriannya bercabang empat. Batara Mahadewa ini memang benar-benar bermuka empat dan kepalanya tetap satu. Muka atau wajah itu berada pada ke-empat sisi kepalanya, ada yang di depan, belakang, samping kiri dan kanan. Kelihatannya sangat menguntungkan, karena bisa melihat dari segala arah dan susah dikagetin. Namun repotnya kalau pas bobok, terpaksa ada bagian muka yang tengkurap ke bantal tanpa bias dihindari. Bermuka empat juga bukan sok-sokan agar beda (slogan sekarang: yang penting beda coy) dengan yang lain, tetapi karena sebab tertentu.

[caption id="attachment_99680" align="aligncenter" width="300" caption="Batara Mahadewa - [2"]"][/caption]

Pada suatu ketika kahyangan diserbu asura (gandarwa/raksasa musuh para dewa) kakak beradik bernama Upasunda dan Sunda. Kahyangan kocar-kacir, para dewa terpaksa mengungsi. Sebagai senopati angkatan perang kahyangan, Batara Mahadewa memerintahkan Batara Wiswakrama (dewa seniman dan ahli bangunan) untuk membuatkan patung wanita cantik. Patung itu kemudian diberi jiwa oleh Batara Guru sehingga benar-benar hidup dan diberi nama Dewi Wilutama (DW). Tugas DW adalah menggoda Upasunda dan Sunda. Sebelum berangkat DW berpamitan kepada semua dewa. Rupanya Batara Mahadewa terpikat dengan kemolekan DW, namun gengsi kalau harus memandang langsung. Kebetulan Batara Mahadewa berada di tengah-tengah, namun pikirannya selalu tertuju kepada DW yang semlohe itu. Saat DW berada di kiri bersalaman dengan para dewa, mak bendunduk (tiba-tiba) muncul wajah baru di sebelah kirinya. Saat DW di sebelah kanan, mak benduduk muncul wajah baru di sebelah kanan. Demikian juga muncul wajah di belakang, saat DW berada di belakangnya.

DW sukses mengemban tugas, Upasunda dan Sunda sama-sama terpikat dan saling berkelahi memperebutkan DW. Akhirnya mati sampyuh, sama-sama mati. DW kembali ke kahyangan dan selanjutnya menjadi kesatuan himpunan para dewi/bidadari yang cantik-cantik, malah dipercaya menjadi komandannya.

5.Dasamuka, bermuka sepuluh

Kita tahu Prabu Dasamuka dari kerajaan Alengka ini dianggap sebagai lambang angkara murka, serakah dan tamak, sekaligus lambang sifat ulet dalam mengejar cita-cita. Meski belum ada paham Machiavelli, namun ia sudah mempraktekkannya, yaitu menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya, kalau perlu mengorbankan keluarga atau orang-orang dekatnya. Atau jangan-jangan  Machiavelli yang orang Itali itu yang belajar dari Dasamuka ya? Karena sifat angkara murkanya itu ia digambarkan bermuka sepuluh.

[caption id="attachment_99688" align="aligncenter" width="300" caption="Dasamuka - (2)"]

13017574911849209641
13017574911849209641
[/caption] Dalam ujud wayang kulit atau wayang lainnya tetap saja mukanya satu, demikian juga dengan Batara Mahadewa.

BERSAMBUNG KE:

Tokoh-tokoh Wayang dengan Kelainan Fisiknya [2]

----------------

[1] Sagio dan Ir. Samsugi, Wayang Kulit Gagrak Yogyakarta, CV HAJI MASAGUNG, Jakarta, cet.1, 1991.

[2] SENA WANGI, Ensiklopedi Wayang Indonesia, PT Sakanindo Printama, Jakarta, 1999.

[3] Ensiklopedi Wayang Purwa, Balai Pustaka, Jakarta, 1991.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x