Mohon tunggu...
Wiwin Zein
Wiwin Zein Mohon Tunggu... Freelancer - Wisdom Lover

Tinggal di Cianjur

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Jemaah Haji Perlu Membatasi Aktivitas yang Menguras Tenaga demi Puncak Pelaksanaan Ibadah Haji

28 Mei 2024   10:09 Diperbarui: 29 Mei 2024   08:04 527
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Area tawaf di depan ka'bah (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Semua jemaah haji yang berangkat ke tanah suci tentu untuk melaksanakan ibadah haji. Kendati jemaah haji berada di tanah suci selama kurang lebih 40 hari, tapi puncak pelaksanaan ibadah haji itu sendiri hanya 5-6 hari.

Puncak pelaksanaan ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah sampai tanggal 12/13 Dzulhijjah. Puncak pelaksanaan ibadah haji tersebut biasa disebut dengan istilah Armuzna (Arafah-Muzdalifah-Mina). Ya, karena puncak pelaksanaan ibadah haji dimulai dari Arafah dan berakhir di Mina.

Sebelum puncak pelaksanaan ibadah haji, jemaah haji mengisi waktu dengan melakukan banyak aktivitas yang bermacam-macam. Pada umumnya jemaah haji "aji mumpung" melakukan umroh sunnat atau ziarah-ziarah ke tempat bersejarah. Ada juga yang sekadar berbelanja mencari oleh-oleh di pasar-pasar atau di pusat perbelanjaan yang ada di kota Mekkah.

Semua itu tidaklah masalah. Jemaah haji mau melakukan aktivitas apa pun dipersilakan. Akan tetapi jemaah haji sebaiknya "mengukur diri", apakah aktivitas yang dilakukan itu akan mengganggu kebugaran badan untuk pelaksanaan puncak pelaksanaan ibadah haji atau tidak.

Sebab semua harus kembali kepada niat atau tujuan awal, bahwa berangkat ke tanah suci itu untuk melaksanakan ibadah haji. Itu yang pokok, yang utama, yang primer. Sedangkan hal lain di luar itu adalah sekunder.


Dengan demikian jemaah haji harus bisa memperkirakan atau "mengukur diri", apakah aktivitas yang dilakukan itu akan mengganggu puncak pelaksanaan ibadah haji atau tidak.

Tidak sedikit jemaah haji yang memforsir diri melakukan umroh sunnat berpuluh-puluh kali atau ziarah ke tempat-tempat bersejarah berulang kali, tapi kemudian jatuh sakit sehingga pas pelaksanaan puncak pelaksanaan ibadah haji tidak maksimal atau malah masuk rumah sakit.

Tidak sedikit jemaah haji yang "pasang target" harus melakukan umroh sunnat 10, 17, atau 20 kali misalnya. Padahal melakukan umroh sunnat terlalu banyak itu cukup menguras tenaga yang luar biasa.

Mari kita cermati, untuk melakukan satu kali umroh sunnat saja cukup menguras tenaga. Untuk memulai umroh, jemaah haji harus keluar dulu kota Mekkah untuk mengambil miqot. Miqot, yaitu tempat untuk memulai niat melakukan umroh.

Tempat yang biasa dijadikan tempat miqot umroh adalah Tan'im (Masjid Aisyah), Ji'ronah, dan Hudaibiyah. Diantara ketiga tempat miqot tersebut, Tan'im (Masjid Aisyah) adalah tempat favorit untuk miqot umroh. Hal itu dikarenakan jarak Tan'im (Masjid Aisyah) dengan kota Mekkah sekira 5-6 kilometer saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun